فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka engkau melihat orang-orang yang dalam hati mereka ada penyakit bersegera mendekati mereka, mereka berkata, “Kami takut ditimpa giliran bencana.” Maka boleh jadi Allah mendatangkan kemenangan atau suatu perkara dari sisi-Nya, sehingga mereka menyesali apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌfa-taraa lladziina fii quluubihim maradun yusaari'uuna fiihim yaquuluuna nakhshaa an tusiibanaa daa'iratunmaka engkau melihat orang-orang yang dalam hati mereka ada penyakit bersegera mendekati mereka, mereka berkata, kami takut ditimpa giliran bencana
  2. فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَfa-asaa llaahu an ya'tiya bi-l-fathi aw amrin min indihi fa-yusbihuu alaa maa asarruu fii anfusihim naadimiinamaka boleh jadi Allah mendatangkan kemenangan atau suatu perkara dari sisi-Nya, sehingga mereka menyesali apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar r-a-y, q-l-b, m-r-d, s-r-', q-w-l, kh-sh-y, s-w-b, d-w-r, '-s-y, a-l-h, a-t-y, f-t-h, a-m-r, '-n-d, s-b-h, s-r-r, n-f-s, n-d-m): quluub diterjemahkan 'hati' (akar q-l-b, dijaga harfiah, putaran QLB belum diputus); daa'irah diterjemahkan 'giliran bencana'; al-fath diterjemahkan 'kemenangan' (akar f-t-h). gloss '(Yahudi dan Nasrani)/(kepada Rasul-Nya)' dibuang.

Aplikasi

Alasan 'kami takut ditimpa giliran bencana' yang diucapkan orang-orang berpenyakit hati mengungkap bahwa kompromi prinsip sering dibungkus sebagai kehati-hatian atau pragmatisme, bukan pengkhianatan terang-terangan. Konkretnya: waspadai diri sendiri ketika mulai merasionalisasi kompromi prinsip dengan alasan 'demi keamanan', rasa takut yang tidak proporsional terhadap risiko sering menjadi kedok bagi kelemahan komitmen yang sebenarnya, dan penyesalan biasanya datang setelah keadaan justru membuktikan ketakutan itu berlebihan.