قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah, “Maukah aku beritakan kepada kalian yang lebih buruk pahalanya daripada itu di sisi Allah? Yaitu orang yang Allah laknat dan Dia murkai, dan yang sebagian mereka Dia jadikan kera dan babi, dan yang menyembah tagut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِqul hal unabbi'ukum bi-sharrin min dzaalika matsuubatan inda llaahikatakanlah, maukah aku beritakan kepada kalian yang lebih buruk pahalanya daripada itu di sisi Allah
- مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَman la'anahu llaahu wa-ghadiba alayhi wa-ja'ala minhumu l-qiradata wa-l-khanaaziira wa-abada t-taaghuutayaitu orang yang Allah laknat dan Dia murkai, dan yang sebagian mereka Dia jadikan kera dan babi, dan yang menyembah tagut
- أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِulaa'ika sharrun makaanan wa-adallu an sawaa'i s-sabiilimereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar q-w-l, n-b-a, sh-r-r, ts-w-b, '-n-d, a-l-h, l-'-n, gh-d-b, j-'-l, q-r-d, kh-n-z-r, '-b-d, t-gh-y, k-w-n, d-l-l, s-w-y, s-b-l): ⚠ abada at-taaghuut diterjemahkan 'menyembah tagut', di sini akar '-b-d MEMANG 'menyembah' (kontras 4:117 da'aa akar d-'-w='menyeru'); taaghuut diterjemahkan 'tagut' (akar t-gh-y putaran 124); adallu diterjemahkan 'lebih tersesat' (akar d-l-l). gloss '(Nabi Muhammad)/(Yaitu balasan)/(Di antara mereka ada pula yang)' dibuang.
Aplikasi
Daftar kondisi yang disebut 'lebih buruk', dilaknat, dimurkai, direndahkan martabatnya, menyembah tagut, menempatkan penyembahan berhala atau kekuasaan palsu sejajar dengan kemerosotan martabat kemanusiaan yang paling rendah. Konkretnya: ketundukan pada 'tagut' (kekuasaan yang melampaui batas dan menuntut ketaatan buta, apa pun bentuknya di zaman modern) bukan sekadar kesalahan teologis abstrak, melainkan jalan menuju kemerosotan martabat diri, mengenali dan menolak ketundukan buta pada kekuasaan semacam ini adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan sendiri.