وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan engkau melihat banyak dari mereka bersegera dalam dosa dan permusuhan serta memakan hasil yang haram; sungguh seburuk-buruk apa yang mereka kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَwa-taraa katsiiran minhum yusaari'uuna fii l-itsmi wa-l-'udwaani wa-aklihimu s-suhtadan engkau melihat banyak dari mereka bersegera dalam dosa dan permusuhan serta memakan yang haram
  2. لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَla-bi'sa maa kaanuu ya'maluunasungguh seburuk-buruk apa yang mereka kerjakan

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَتَرَىٰwa-taraadan engkau melihat
  2. كَثِيرًاkatsiiranbanyak
  3. مِنْهُمْminhumdari mereka
  4. يُسَارِعُونَyusaari'uunamereka bersegera
  5. فِيfiidalam
  6. الْإِثْمِl-itsmidosa
  7. وَالْعُدْوَانِwa-l-'udwaanidan permusuhan
  8. وَأَكْلِهِمُwa-aklihimudan memakan mereka
  9. السُّحْتَs-suhtayang haram
  10. لَبِئْسَla-bi'sasungguh seburuk-buruk
  11. مَاmaaapa yang
  12. كَانُواkaanuumereka selalu
  13. يَعْمَلُونَya'maluunamereka kerjakan

Inti bacaan

Frasa 'bersegera dalam dosa' menggambarkan pelanggaran yang dilakukan dengan antusiasme, bukan keterpaksaan atau kelalaian, sebuah percepatan aktif menuju keburukan. Konkretnya: waspadai momen ketika melakukan sesuatu yang salah terasa semakin mudah dan cepat dilakukan berulang kali, seperti kompromi etika yang menjadi rutin, 'bersegera' menunjukkan bahwa dosa yang dibiarkan cenderung mempercepat diri sendiri, bukan melambat dengan sendirinya.

Penjelasan pilihan kata

Frasa "dosa dan permusuhan" (فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ, fii l-itsmi wa-l-'udwaani) hanya muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an (2:85, 5:2, 5:62, 58:8, 58:9). Salah satu dari lima kemunculan itu ada di ayat kedua surah yang sama, melarang secara langsung: "janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan" (وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ, wa-laa ta'aawanuu alaa l-itsmi wa-l-udwaani, 5:2). Sekitar enam puluh ayat kemudian, ayat ini menggambarkan persis apa yang dilarang di awal surah itu sedang terjadi. Kata yang mengantarnya pun berubah: di 5:2 dipakai kata "atas", kerja sama yang dibangun di atas dasar dosa; di sini dipakai kata "dalam", bersegera masuk ke dalam dosa itu sendiri. Larangan berupa kerja sama bersama di awal surah kini muncul kembali sebagai keterlibatan langsung tiap orang.

"Dan engkau melihat" (وَتَرَىٰ, wa-taraa) memakai bentuk kata kerja tunggal yang sama persis dengan "maka engkau melihat" di 5:52 (فَتَرَى, fa-taraa), keduanya menyapa satu orang saja, Nabi, sebagai saksi mata. Kata kerja "bersegera" (يُسَارِعُونَ, yusaari'uuna) pertama kali muncul di 5:41, saat Nabi diminta jangan bersedih atas orang yang bersegera dalam kekufuran. Ayat 5:52 lalu memakai kata kerja "melihat" untuk pertama kali, memosisikan Nabi menyaksikan sendiri orang-orang berhati sakit bersegera mendekati pihak yang salah. Ayat ini adalah kemunculan ketiga, dan yang paling konkret: bersegera bukan lagi ke arah sikap batin atau kelompok orang, melainkan ke tindakan nyata yang bisa disebut satu per satu, yaitu dosa, permusuhan, dan memakan harta haram.

"Harta haram" (السُّحْتَ, s-suhta) adalah kata yang sangat jarang, muncul hanya tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya berdekatan hanya dalam surah ini (5:42, 5:62, 5:63). Akar katanya dalam bahasa Arab lama berarti mencabut sampai musnah, memusnahkan habis. Kata ini dipakai secara khas untuk harta, bahkan darah, milik seseorang yang telah kehilangan perlindungan, sehingga boleh diambil atau ditumpahkan tanpa ada tuntutan apa pun. Jadi kata ini bukan sekadar label hukum netral untuk "yang dilarang", melainkan membawa gambaran bahwa harta semacam itu pada dasarnya bersifat merusak sejak akarnya.

Kata yang dipakai untuk keuntungan haram di ayat ini terkurung rapat di satu surah saja. Bentuk "yang haram" (السُّحْتَ, as-suhta) muncul dua kali, di ayat ini dan di 5:63. Bentuk berimbuhan "kepada yang haram" (لِلسُّحْتِ, li-s-suhti) muncul sekali, di 5:42, bersama satu kata lagi yang juga tidak muncul di tempat lain, "sangat banyak memakan" (أَكَّالُونَ, akkaaluuna). Seluruh pembicaraan Al-Qur'an tentang kata ini karena itu berlangsung di dalam rentang dua puluh dua ayat, dari 5:42 sampai 5:63, dan tidak pernah muncul lagi sesudah itu.

Penutup ayat ini punya kembaran yang berjarak satu ayat. "Sungguh seburuk-buruk apa yang mereka kerjakan" (لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, la-bi'sa maa kaanuu ya'maluuna) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Sedangkan 5:63 ditutup dengan "sungguh seburuk-buruk apa yang mereka perbuat" (لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ, la-bi'sa maa kaanuu yashna'uuna), yang juga muncul sekali saja. Dua kalimat yang sama persis kecuali satu kata terakhir, dipasang berdampingan, dan yang dicela berbeda: 5:62 mencela yang mengerjakan dosanya, 5:63 mencela yang membiarkannya terjadi.

Tafsiran

Ayat ini adalah titik paling konkret dari pola yang sudah terlihat dua kali sebelumnya: kecenderungan bersegera menuju hal yang salah, mula-mula ke arah kekufuran, lalu ke arah pihak yang salah, kini ke perbuatan nyata yang bisa disebut satu per satu. Larangan yang ditetapkan Al-Qur'an sendiri di awal surah ini, yaitu jangan bekerja sama dalam dosa dan permusuhan, digambarkan di sini sedang dilanggar, dengan kata kerja yang sama persis, hanya berpindah dari kerja sama bersama menjadi keterlibatan langsung tiap orang. Pilihan kata untuk "harta haram", yang begitu jarang dipakai sampai hanya muncul tiga kali dan semuanya di sekitar ayat ini saja, menegaskan bahwa yang sedang digambarkan bukan pelanggaran administratif biasa, melainkan sesuatu yang merusak dari akarnya. Ayat berikutnya akan mempersoalkan mengapa para pemimpin agama membiarkan semua ini terjadi tanpa mencegahnya, membuka babak baru dari kecaman yang sama.

Perbedaan satu kata antara penutup ayat ini dan penutup 5:63 memuat seluruh maksud rangkaian ini. Yang pertama menutup gambaran tentang pelaku, yang kedua menutup pertanyaan tentang para rabi dan ulama yang tidak mencegah. Celaan yang diberikan kepada keduanya disusun dengan bobot kalimat yang sama, dan itu bukan kebetulan penyusunan. Membiarkan tidak diletakkan satu tingkat di bawah melakukan; ia diberi kalimat penutup yang setara.

Ada juga hal yang tidak dilakukan ayat ini, dan itu perlu disebut. Ia tidak mencela orangnya. Yang dicela adalah "apa yang mereka kerjakan", bukan mereka. Susunan begitu menyisakan satu ruang yang sering ditutup buru-buru oleh pembaca: perbuatan bisa berhenti tanpa pelakunya berhenti menjadi manusia yang masih punya jalan kembali. Al-Qur'an sedang memandang perbuatan yang sedang berlangsung, dan kalimatnya berhenti tepat sebelum menjatuhkan nama kepada orangnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini secara khusus menyoroti bahwa yang bergegas itu jumlahnya banyak, bukan segelintir. Ada godaan tersendiri untuk menganggap keburukan yang dilakukan bersama-sama menjadi lebih ringan daripada yang dilakukan sendirian, seolah jumlah pelaku ikut meringankan bobot pelanggaran. Ayat ini tidak memberi ruang bagi logika itu: banyaknya orang yang bergegas menuju dosa dan permusuhan justru digambarkan sebagai pemandangan yang buruk, bukan pembenaran yang meringankan. Ikut serta karena banyak orang lain melakukannya bukan alasan, melainkan bagian dari gambaran yang dikecam.
  • Kata kerja "bergegas" yang dipakai ayat ini bukan kemunculan pertama dalam surah ini. Kata yang sama muncul lebih dulu untuk menggambarkan sikap batin yang bimbang mendekati pihak yang salah, lalu muncul lagi untuk menggambarkan orang-orang yang menyaksikan sikap itu dari dekat, dan di sini akhirnya menggambarkan tindakan nyata yang bisa disebut satu per satu. Urutan ini menunjukkan pola yang layak diwaspadai dalam diri sendiri: kecenderungan yang tampak kecil dan tersembunyi di hati bisa, bila dibiarkan, berkembang menjadi tindakan nyata yang jauh lebih sulit dibalikkan. Titik paling aman untuk berhenti bukan di ujung proses ini, melainkan di awalnya, saat kecenderungan itu belum berbentuk tindakan.
  • Kesenjangan antara aturan yang tertulis dan yang benar-benar dihidupi bukan fenomena masa lalu semata. Institusi modern, baik pemerintahan, korporasi, maupun organisasi mana pun, kerap memiliki kode etik yang jelas menentang korupsi dan eksploitasi di atas kertas, sementara praktik yang justru dilarang aturan itu tetap berlangsung nyaris tanpa hambatan. Kata yang dipakai ayat ini untuk penghasilan haram (السُّحْتَ, s-suhta) berasal dari akar yang aslinya berarti memusnahkan habis, dipakai secara khas untuk harta yang telah kehilangan segala perlindungan. Gambaran itu relevan bagi bentuk-bentuk perolehan modern yang formalnya sah namun secara mendasar bersifat merusak, bukan sekadar melanggar aturan tertulis, melainkan menggerogoti dari akarnya sendiri, baik bagi yang mengambilnya maupun bagi struktur yang membiarkannya.
  • Kata untuk keuntungan haram di ayat ini tidak pernah muncul di luar surah ini. Bentuk yang dipakai di sini ada dua kali (5:62 dan 5:63), bentuk berimbuhannya sekali (5:42), dan pendampingnya "sangat banyak memakan" juga sekali (5:42). Jadi seluruh pembicaraan Al-Qur'an tentang kata ini berlangsung dalam rentang dua puluh dua ayat lalu berhenti. Pemusatan seperti itu memberi tahu sesuatu tentang cara membacanya. Kata ini bukan istilah umum yang bisa dipindahkan ke mana saja; ia melekat pada satu gambaran tertentu, yaitu penyalahgunaan kedudukan oleh pihak yang justru dituntut memutuskan perkara dengan Kitab Allah.
  • Penutup ayat ini, لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, dan penutup 5:63 sama persis kecuali kata terakhirnya, dan masing-masing cuma muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Yang di sini menutup gambaran tentang orang yang mengerjakan dosanya; yang di 5:63 menutup pertanyaan mengapa para rabi dan ulama tidak mencegah. Allah memberi kedua kalimat itu bobot yang setara. Membiarkan tidak ditaruh satu tingkat di bawah melakukan, melainkan diberi celaan dengan susunan yang sama beratnya. Yang punya kedudukan untuk mencegah biasanya merasa aman karena tangannya bersih, dan justru anggapan itu yang dibongkar oleh kesejajaran dua kalimat penutup ini.
  • Ayat ini tidak berkata seburuk-buruk mereka. Ia berkata seburuk-buruk apa yang mereka kerjakan. Sasaran celaannya perbuatan, dan pelakunya dibiarkan berdiri tanpa nama baru. Apa gunanya perbedaan sehalus itu? Gunanya besar bagi orang yang sedang membaca sambil merasa tersinggung sendiri. Perbuatan yang dicela bisa dihentikan, sedangkan orang yang sudah diberi nama sukar melepaskan namanya. Allah menyisakan jarak itu dengan sengaja, dan pembaca yang buru-buru menutupnya sedang menambah sesuatu yang tidak ada di dalam ayat.