وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu, dan mereka dilaknat karena apa yang telah mereka katakan. Sebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka, Dia memberi sebagaimana Dia kehendaki. Dan sungguh apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu akan menambah kesewenangan dan kekufuran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi. Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Terjemahan bertahap (8 jeda)
- وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌwa-qaalati l-yahuudu yadu llaahi maghluulatunorang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu
- غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُواghullat aydiihim wa-lu'inuu bi-maa qaaluusebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu, dan mereka dilaknat karena apa yang telah mereka katakan
- بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُbal yadaahu mabsuuthataani yunfiqu kayfa yasyaa'usebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka, Dia memberi sebagaimana Dia kehendaki
- وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًاwa-la-yaziidanna katsiiran minhum maa unzila ilayka min rabbika thughyaanan wa-kufrandan sungguh apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu akan menambah kesewenangan dan kekufuran bagi kebanyakan mereka
- وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِwa-alqaynaa baynahumu l-'adaawata wa-l-baghdhaa'a ilaa yawmi l-qiyaamatidan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat
- كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُkullamaa awqaduu naaran li-l-harbi athfa'ahaa llaahusetiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya
- وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًاwa-yas'awna fii l-ardhi fasaadandan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi
- وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَwa-llaahu laa yuhibbu l-mufsidiinadan Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan
Terjemahan per kata (47 kata)
- وَقَالَتِwa-qaalatidan berkata
- الْيَهُودُl-yahuuduorang-orang Yahudi
- يَدُyadutangan
- اللَّهِllaahiAllah
- مَغْلُولَةٌmaghluulatunterbelenggu
- غُلَّتْghullatterbelenggu
- أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
- وَلُعِنُواwa-lu'inuudan mereka dilaknat
- بِمَاbi-maakarena apa yang
- قَالُواqaaluumereka berkata
- بَلْbalbahkan
- يَدَاهُyadaahukedua tangan-Nya
- مَبْسُوطَتَانِmabsuuthataaniterbentang
- يُنْفِقُyunfiqumenafkahkan
- كَيْفَkayfabagaimana
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَلَيَزِيدَنَّwa-la-yaziidannadan sungguh akan menambah
- كَثِيرًاkatsiiranbanyak
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- مَاmaaapa yang
- أُنْزِلَunziladiturunkan
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- مِنْmindari
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- طُغْيَانًاthughyaanankesewenangan
- وَكُفْرًاwa-kufrandan kekufuran
- وَأَلْقَيْنَاwa-alqaynaadan Kami melemparkan
- بَيْنَهُمُbaynahumudi antara mereka
- الْعَدَاوَةَl-'adaawatapermusuhan
- وَالْبَغْضَاءَwa-l-baghdhaa'adan kebencian
- إِلَىٰilaasampai
- يَوْمِyawmiHari
- الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
- كُلَّمَاkullamaasetiap kali
- أَوْقَدُواawqaduumereka menyalakan
- نَارًاnaaranapi
- لِلْحَرْبِli-l-harbiuntuk perang
- أَطْفَأَهَاathfa'ahaamemadamkannya
- اللَّهُllaahuAllah
- وَيَسْعَوْنَwa-yas'awnadan mereka berusaha
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- فَسَادًاfasaadankerusakan
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- لَاlaatidak
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- الْمُفْسِدِينَl-mufsidiinaorang-orang yang berbuat kerusakan
Inti bacaan
Tuduhan bahwa 'tangan Allah terbelenggu (kikir)' dibalikkan secara tajam: 'sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu', proyeksi kekikiran manusia terhadap Allah justru menyingkap kekikiran manusia itu sendiri. Konkretnya: waspadai kecenderungan memproyeksikan sifat buruk diri sendiri (pelit, dendam, sempit hati) kepada Allah atau kepada orang lain sebagai pembenaran, sering kali tuduhan yang dilontarkan justru adalah cermin dari kekurangan yang ada pada diri sendiri, bukan gambaran objektif tentang pihak yang dituduh.
Penjelasan pilihan kata
"Tangan Allah terbelenggu" (يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ, yadu llaahi maghluulatun) dan "kedua tangan-Nya terbuka" (يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ, yadaahu mabsuuthataani) diterjemahkan apa adanya, tanpa tambahan penjelas seperti "kikir" atau "Maha Pemurah" yang kadang disisipkan untuk memperjelas maksudnya. Kutipan ucapan orang Yahudi berakhir setelah "terbelenggu"; kalimat berikutnya, "sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu", adalah bantahan yang menyusul, bukan bagian dari kutipan itu sendiri. Frasa "akan menambah kesewenangan dan kekufuran" (طُغْيَانًا وَكُفْرًا, thughyaanan wa-kufran) muncul lagi kata demi kata persis sama di 5:68. Pola "tangan Allah" dipasangkan dengan kata kerja memberi juga muncul di dua ayat lain, 3:73 dan 57:29, yang keduanya berbunyi "karunia itu di tangan Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki" (الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ, l-fadhla bi-yadi llaahi yu'tiihi man yasyaa'u), pola yang sama mengunci makna tuduhan di ayat ini pada soal pemberian, bukan pada kewenangan bertindak secara umum.
Bentuk ganda pada "kedua tangan-Nya" (يَدَاهُ, yadaahu) layak diperiksa sebarannya. Kata dalam bentuk ini muncul di tiga ayat: 5:64, 18:57, dan 78:40. Dua yang terakhir sama sekali tidak berbicara tentang Allah. 18:57 menyebut orang yang melupakan "apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya", dan 78:40 menyebut hari ketika manusia melihat "apa yang didahulukan oleh kedua tangannya". Jadi kedua tangan dalam bentuk ini selalu tangan manusia yang sedang dihitung amalnya, kecuali satu kali, yaitu di ayat ini. Bantahan terhadap tuduhan itu memakai bentuk yang tidak dipakai di tempat lain untuk Allah.
Kata "terbelenggu" (مَغْلُولَةٌ, maghluulatun) juga muncul sekali saja. Bentuk yang hampir sama, dengan akhiran berbeda, muncul sekali lagi di 17:29 sebagai larangan kepada manusia: "janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu", yang di ayat itu jelas berbicara tentang kikir, sebab lanjutannya melarang mengulurkan tangan sepenuh-penuhnya. Dua kemunculan kata ini karena itu saling mengunci maknanya. Gambar tangan terbelenggu di dalam Al-Qur'an adalah gambar tentang menahan pemberian, bukan gambar tentang hilangnya kuasa.
Bagian penutup ayat ini memakai dua rangkaian yang sebarannya rapat. "Kesewenangan dan kekufuran" (طُغْيَانًا وَكُفْرًا, thughyaanan wa-kufran) muncul di tiga ayat (5:64, 5:68, 18:80), dan dua di antaranya di surah ini. "Permusuhan dan kebencian" (الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ, al-'adaawata wa-l-baghdhaa'a) juga muncul di tiga ayat, dan ketiganya di surah ini: 5:14, 5:64, dan 5:91. Sebabnya berbeda-beda di tiap tempat, yaitu perjanjian yang dilupakan sebagian (5:14), tuduhan tentang tangan Allah (di sini), lalu khamar dan judi (5:91), tapi akibat yang disebut sama persis dengan kata yang sama.
Satu kata lagi tidak punya kembaran. "Mereka menyalakan" (أَوْقَدُوا, awqaduu) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, dan yang mereka nyalakan adalah api untuk peperangan.
Tafsiran
Ayat ini membantah tuduhan yang menempatkan Allah sebagai pelit atau terbatas dalam memberi, dengan citra yang sama, tangan terbuka lebar memberi sekehendak-Nya. Ironinya tajam: tuduhan tentang keterbatasan justru berbalik menjadi gambaran tentang keterbelengguan mereka sendiri. Bagian penutup ayat, tentang permusuhan yang tertanam sampai hari Kiamat dan api perang yang terus-menerus dipadamkan Allah, menggambarkan pola yang berulang: wahyu yang seharusnya menjadi petunjuk justru semakin memperbesar penolakan bagi yang sudah menutup hati, sesuatu yang akan ditegaskan kembali persis dengan kata yang sama di 5:68. Ayat ini juga tidak berdiri sendiri: ia datang tepat setelah 5:63 mempertanyakan kelalaian para rabi dan ulama yang tidak mencegah ucapan dosa dan penghasilan haram. Dibaca berurutan, kedua ayat ini membentuk satu gambaran akuntabilitas yang lebih luas, kegagalan otoritas manusia untuk bertindak di 5:63, disusul tuduhan keliru tentang Allah di sini, tanpa berarti bahwa frasa "tangan terbelenggu" itu sendiri secara harfiah berbicara tentang kegagalan bertindak; frasa itu tetap tentang pemberian, sebagaimana ditegaskan oleh bantahannya sendiri.
Susunan bantahan di ayat ini bekerja dua arah sekaligus. Tuduhan mereka dibalikkan dengan kata yang sama persis: yang mereka sebut terbelenggu adalah tangan Allah, dan yang dinyatakan terbelenggu adalah tangan mereka sendiri. Balasan yang memakai kosakata penuduhnya sendiri tidak memerlukan penjelasan tambahan; ia cukup memindahkan alamat kalimatnya. Sesudah itu barulah datang bantahan yang sebenarnya, dan bantahan itu tidak berhenti pada penyangkalan. Ia menaikkan taruhannya dengan bentuk ganda yang tidak dipakai di tempat lain untuk Allah, lalu menambahkan bahwa pemberian itu berjalan menurut kehendak-Nya sendiri, bukan menurut takaran yang bisa diperkirakan orang.
Renungan dan Hikmah
- Tuduhan yang dibantah ayat ini menunjukkan sebuah pola yang tidak terbatas pada satu golongan tertentu: tuduhan yang paling keras dilontarkan kepada pihak lain kadang justru menggambarkan dengan tepat kekurangan yang tersembunyi pada diri penuduhnya sendiri, ironi yang di ayat ini dinyatakan secara eksplisit lewat pembalikan kata "terbelenggu" itu sendiri. Sebelum menuduh orang lain pelit, tertutup, atau terbatas, ada baiknya diperiksa lebih dulu apakah sifat itu sebenarnya lebih menggambarkan diri yang sedang menuduh.
- Ada anggapan yang mudah muncul saat membaca ungkapan semacam "tangan Allah" dalam Al-Qur'an: bahwa ungkapan seperti ini berbicara tentang wewenang atau kendali secara umum. Pola pemakaiannya di seluruh Al-Qur'an menunjukkan sebaliknya, ungkapan ini secara konsisten muncul berdampingan dengan tindakan memberi, bukan dengan konteks kekuasaan secara luas. Membaca ungkapan semacam ini di luar pola pemakaiannya yang konsisten berisiko menambahkan makna yang sebenarnya tidak dikandungnya.
- Gambaran api peperangan yang berulang kali dinyalakan dan berulang kali padam menutup ayat ini dengan pola yang masih dikenali sampai sekarang: upaya berulang memicu permusuhan yang, betapapun gigih diusahakan, tidak pernah mencapai hasil yang tuntas dan langgeng bagi yang mengusahakannya. Ayat ini ditutup dengan kata "berusaha" yang sama, dipakai bukan untuk kebaikan melainkan untuk kerusakan, sebuah pengingat bahwa kesungguhan usaha itu sendiri bukan ukuran nilai suatu tindakan; usaha besar untuk tujuan yang merusak tetaplah kerusakan, betapapun gigih upayanya.
- Bentuk "kedua tangan" yang dipakai di ayat ini muncul di tiga ayat Al-Qur'an: 5:64, 18:57, dan 78:40. Dua yang terakhir sama sekali tidak berbicara tentang Allah; keduanya menyebut kedua tangan manusia yang sedang dihitung amalnya. Jadi cuma di ayat inilah bentuk itu dipakai untuk Allah, dan pemakaian tunggal itu jatuh tepat di tempat kemurahan-Nya sedang diragukan. Bantahan atas tuduhan itu tidak dijawab dengan kata yang lebih halus, melainkan dengan bentuk yang paling terbuka dan tidak dipakai lagi di mana pun.
- Kata "terbelenggu" di ayat ini muncul sekali saja, dan bentuk yang hampir sama muncul sekali lagi di 17:29, di sana sebagai larangan kepada manusia supaya tidak menjadikan tangannya terbelenggu pada lehernya. Ayat itu jelas berbicara tentang menahan harta, sebab lanjutannya melarang juga mengulurkan tangan sepenuh-penuhnya. Dua kemunculan ini saling mengunci maknanya, dan penguncian itu menutup satu pintu penafsiran yang kerap dibuka: gambar tangan terbelenggu di dalam Al-Qur'an bukan gambar tentang kuasa yang hilang, melainkan tentang pemberian yang ditahan. Tuduhan yang dibantah Allah di sini adalah tuduhan menahan pemberian, bukan tuduhan kehilangan kuasa.
- Rangkaian "permusuhan dan kebencian" muncul di tiga ayat, dan ketiganya di surah ini: 5:14, 5:64, dan 5:91. Sebabnya berlainan di tiap tempat, yaitu perjanjian yang dilupakan sebagian, tuduhan keliru tentang tangan Allah, dan khamar serta judi. Tapi akibat yang disebut sama persis, dengan pasangan kata yang sama. Apa yang menyatukan tiga sebab yang begitu berbeda? Ketiganya sama-sama memutus hubungan lebih dulu, satu dengan janji yang dilupakan, satu dengan prasangka tentang Allah, satu dengan barang yang mengaburkan akal. Permusuhan di antara manusia disebut sebagai lanjutan, bukan sebagai pangkal.