وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Mereka mengira tidak akan terjadi fitnah, lalu mereka menjadi buta dan tuli; kemudian Allah menyambut tobat mereka, kemudian banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah melihat apa yang mereka kerjakan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْwa-hasibuu allaa takuuna fitnatun fa-amuu wa-sammuu tsumma taaba llaahu alayhim tsumma amuu wa-sammuu katsiirun minhummereka mengira tidak akan terjadi fitnah, lalu mereka menjadi buta dan tuli; kemudian Allah menyambut tobat mereka, kemudian banyak di antara mereka buta dan tuli
- وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَwallaahu basiirun bimaa ya'maluunadan Allah melihat apa yang mereka kerjakan
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain 'menerima tobat' diterjemahkan terjemahan ini 'menyambut tobat' (agensi aktif dipulihkan; crux 9:118 'taaba alayhim LI-YATUuBUu'). Konvensi twb: hamba diterjemahkan 'bertobat', Allah diterjemahkan 'menyambut tobat', at-Tawwaab takrif diterjemahkan 'Sang Penyambut Tobat'. Pembeda akar q-b-l ('menerima' sungguhan) di 9:104/42:25/40:3. Lih.. sebagian penerjemah: 'And considered there would be no means of denial,1 so they became blind and deaf.
Aplikasi
Pola berulang 'buta dan tuli... kemudian buta dan tuli lagi' meski sempat disambut tobatnya menggambarkan kekambuhan spiritual sebagai siklus nyata, bukan perubahan sekali jadi yang permanen. Konkretnya: perbaikan diri jarang bersifat linear, kambuh setelah sempat membaik adalah pola manusiawi yang diakui teks ini sendiri, bukan alasan untuk putus asa total; yang penting adalah terus kembali memperbaiki diri setiap kali menyadari kembali jatuh, bukan berhenti mencoba karena pernah gagal sebelumnya.