وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Mereka mengira tidak akan terjadi fitnah, lalu mereka menjadi buta dan tuli; kemudian Allah menyambut tobat mereka, kemudian banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah melihat apa yang mereka kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْwa-hasibuu allaa takuuna fitnatun fa-'amuu wa-shammuu tsumma taaba llaahu 'alayhim tsumma 'amuu wa-shammuu katsiirun minhummereka mengira tidak akan terjadi fitnah, lalu mereka menjadi buta dan tuli; kemudian Allah menyambut tobat mereka, kemudian banyak di antara mereka buta dan tuli
  2. وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَwa-llaahu bashiirun bi-maa ya'maluunadan Allah melihat apa yang mereka kerjakan

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. وَحَسِبُواwa-hasibuudan mereka mengira
  2. أَلَّاallaabahwa tidak
  3. تَكُونَtakuunamenjadi
  4. فِتْنَةٌfitnatunfitnah
  5. فَعَمُواfa-'amuumaka mereka buta
  6. وَصَمُّواwa-shammuudan mereka tuli
  7. ثُمَّtsummakemudian
  8. تَابَtaababertobat
  9. اللَّهُllaahuAllah
  10. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  11. ثُمَّtsummakemudian
  12. عَمُوا'amuumereka buta
  13. وَصَمُّواwa-shammuudan mereka tuli
  14. كَثِيرٌkatsiirunbanyak
  15. مِنْهُمْminhumdari mereka
  16. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  17. بَصِيرٌbashiirunmelihat
  18. بِمَاbi-maapada apa yang
  19. يَعْمَلُونَya'maluunamereka kerjakan

Inti bacaan

Pola berulang 'buta dan tuli. kemudian buta dan tuli lagi' meski sempat disambut tobatnya menggambarkan kekambuhan spiritual sebagai siklus nyata, bukan perubahan sekali jadi yang permanen. Konkretnya: perbaikan diri jarang bersifat linear, kambuh setelah sempat membaik adalah pola manusiawi yang diakui teks ini sendiri, bukan alasan untuk putus asa total; yang penting adalah terus kembali memperbaiki diri setiap kali menyadari kembali jatuh, bukan berhenti mencoba karena pernah gagal sebelumnya.

Penjelasan pilihan kata

"Fitnah" (فِتْنَةٌ, fitnatun) di sini sengaja dipertahankan tanpa diterjemahkan "cobaan", berbeda dari kebanyakan kemunculan lain akar yang sama di Al-Qur'an. Bentuk kata di sini menggambarkan konsekuensi atau kekacauan yang mereka kira tidak akan terjadi akibat perbuatan mereka sendiri, lebih dekat dengan makna yang sama di 33:14 ("mereka diminta melakukan fitnah"), yang juga berbicara tentang kekacauan buatan manusia, bukan ujian yang diberikan Allah untuk menguatkan iman seperti di ayat-ayat lain. "Allah menyambut tobat mereka" (تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ, taaba llaahu 'alayhim) memakai kata kerja yang konsisten dengan seluruh terjemahan ini untuk tindakan Allah menerima tobat.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan siklus yang berulang: menyangka bebas dari konsekuensi, jatuh ke dalam kebutaan dan ketulian rohani, menerima kesempatan kedua lewat tobat yang disambut Allah, namun kembali jatuh ke keadaan yang sama. Pola berulang ini, bukan kegagalan tunggal, menjadi latar bagi rangkaian ayat berikutnya yang membahas klaim-klaim keliru tentang Allah, seolah menunjukkan bahwa kebutaan rohani yang berulang inilah yang membuka jalan bagi klaim-klaim itu muncul.

Renungan dan Hikmah

  • Yang memulai seluruh rangkaian ini bukan sebuah perbuatan, melainkan sebuah perkiraan: 'mereka mengira tidak akan terjadi fitnah'. Kekacauan yang menyusul lahir dari hitungan diam-diam bahwa kali ini tidak akan ada akibatnya. Perkiraan semacam itu jarang diucapkan, bahkan kepada diri sendiri, dan justru karena tak pernah diucapkan ia tak pernah diperiksa.
  • Ayat ini tidak menyembunyikan bagian yang paling tidak enak dibaca. Sesudah 'Allah menyambut tobat mereka', kalimatnya berlanjut: 'kemudian banyak di antara mereka buta dan tuli'. Kejatuhan kedua terjadi sesudah pengampunan, dan Allah tetap menuliskannya apa adanya. Perbaikan diri yang sungguhan hampir tak pernah berbentuk garis lurus, dan orang yang mengira ia harus berbentuk begitu biasanya berhenti pada kambuh yang pertama.
  • Sesudah dua kali menyebut buta dan tuli, ayat ini ditutup dengan satu kalimat pendek: 'Allah melihat apa yang mereka kerjakan'. Indra yang hilang pada mereka justru yang ditegaskan tetap ada pada-Nya. Kebutaan rohani tidak pernah membuat sesuatu jadi tak terlihat; ia hanya membuat pelakunya tak lagi melihat dirinya sendiri.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain 'menerima tobat' diterjemahkan terjemahan ini 'menyambut tobat' (agensi aktif dipulihkan; crux 9:118 'taaba alayhim LI-YATUuBUu'). Konvensi twb: hamba diterjemahkan 'bertobat', Allah diterjemahkan 'menyambut tobat', at-Tawwaab takrif diterjemahkan 'Sang Penyambut Tobat'. Pembeda akar q-b-l ('menerima' sungguhan) di 9:104/42:25/40:3.