لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sungguh telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah, Dialah Almasih putra Maryam,” padahal Almasih berkata, “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian.” Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, sungguh Allah mengharamkan taman baginya, dan tempatnya api; dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَla-qad kafara lladziina qaaluu inna llaaha huwa l-masiihu bnu maryamasungguh telah kufur orang-orang yang berkata, sesungguhnya Allah, Dialah Almasih putra Maryam
- وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْwa-qaala l-masiihu yaa banii israa'iila buduu llaaha rabbii wa-rabbakumpadahal Almasih berkata, wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian
- إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُinnahu man yushrik billaahi fa-qad harrama llaahu alayhi l-jannata wa-ma'waahu n-naarusesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, sungguh Allah mengharamkan taman baginya, dan tempatnya api
- وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍwa-maa li-zh-zhaalimiina min ansaarindan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar k-f-r, q-w-l, a-l-h, b-n-y, '-b-d, r-b-b, sh-r-k, h-r-m, j-n-n, a-w-y, n-w-r, zh-l-m, n-s-r): u'buduu diterjemahkan 'sembahlah' (akar '-b-d); yushrik diterjemahkan 'mempersekutukan' (akar sh-r-k); harrama diterjemahkan 'mengharamkan' (akar h-r-m). al-masiih dipertahankan. gloss '(sendiri)/(sesuatu dengan)' dibuang.
Aplikasi
Kesaksian Almasih sendiri yang memerintahkan 'sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian' dikutip langsung untuk menyanggah pendewaan dirinya, argumen dibangun dari kesaksian tokoh yang bersangkutan sendiri, bukan sekadar polemik dari luar. Konkretnya: ketika menilai klaim tentang seorang tokoh, periksa apa yang sebenarnya dikatakan tokoh itu sendiri tentang dirinya, bukan hanya apa yang dikatakan pengikutnya belakangan, jarak antara ajaran asli dan interpretasi pengikut kemudian sering menjadi sumber penyimpangan besar.