أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Tidakkah mereka bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, padahal Allah pengampun lagi pengasih?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُa-fa-laa yatuubuuna ilaa llaahi wa-yastaghfiruunahutidakkah mereka bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya
- وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimunpadahal Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (8 kata)
- أَفَلَاa-fa-laamaka tidakkah
- يَتُوبُونَyatuubuunamereka bertobat
- إِلَىilaakepada
- اللَّهِllaahiAllah
- وَيَسْتَغْفِرُونَهُwa-yastaghfiruunahudan mereka memohon ampun kepada-Nya
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Dua kata kerja yang berjalan beriringan di larik singkat ini, berpaling dan meminta, kelihatannya sederhana, tetapi masing-masing menuntut usaha yang berbeda dan tak bisa saling menggantikan satu sama lain. Sering kali orang berhenti pada salah satunya saja lalu menganggap dirinya sudah menuntaskan keduanya, padahal larik ini justru menyandingkan keduanya dalam satu tarikan napas yang sama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 5:72 dengan bentuk yang berbeda dari dua ayat sebelumnya. Ayat 5:72 dan 5:73 berbentuk pernyataan tentang kekufuran, disertai ancaman. Ayat ini berbentuk pertanyaan, "tidakkah mereka bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya" (أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ, a-fa-laa yatuubuuna ilaa llaahi wa-yastaghfiruunahu). Rangkaian kata ini, persis seperti tertulis, hapax, hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini.
Kata "a-fa-laa" (أَفَلَا) di awal kalimat menyusun sebuah pertanyaan yang mengandung ajakan, bukan sekadar pertanyaan yang meminta informasi. Susunan pertanyaan semacam ini biasa dipakai untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah terbuka baginya, bukan untuk menanyakan sesuatu yang belum diketahui jawabannya.
Ayat ini menyebut dua tindakan berdampingan, "bertobat" (يَتُوبُونَ, yatuubuuna) dan "memohon ampunan" (يَسْتَغْفِرُونَهُ, yastaghfiruunahu). Kata pertama menunjuk pada berpaling dari sesuatu, kata kedua menunjuk pada meminta kepada seseorang. Keduanya disebutkan dalam satu tarikan kalimat yang sama, tidak dipisah menjadi dua kalimat berbeda.
Ayat ini ditutup dengan "padahal Allah pengampun lagi pengasih" (وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ, wa-llaahu ghafuurun rahiimun). Dua kata sifat ini, "ghafuur" dan "rahiim", dipakai dalam bentuk tak tentu tanpa awalan "al-", pola yang sama yang berulang di banyak ayat lain dalam Al-Qur'an, termasuk di penutup 39:53 dalam bentuk yang serupa, "al-ghafuuru r-rahiimu". Pengulangan pasangan sifat ini di banyak tempat menunjukkan bahwa penyebutan pengampunan Allah di ayat penutup bukan kebetulan susunan kalimat, melainkan pola yang sering dipakai Al-Qur'an untuk menutup pesan tentang kesalahan dengan sebuah harapan.
Ayat ini adalah penutup dari rangkaian tiga ayat yang dimulai di 5:72. Ayat 5:72 menyatakan akibat mempersekutukan Allah secara umum. Ayat 5:73 menyasar klaim yang lebih spesifik dan menambahkan syarat, jika mereka tidak berhenti. Ayat ini menutup rangkaian itu bukan dengan penegasan lebih lanjut tentang hukuman, melainkan dengan pertanyaan yang mengajak kembali.
Susunan tiga ayat ini, dari pernyataan di 5:72, ke syarat di 5:73, ke ajakan di ayat ini, membentuk sebuah gerak yang jelas arahnya. Kalau ayat ini disusun terpisah dari dua ayat sebelumnya, pertanyaannya bisa dibaca sebagai teguran umum tanpa konteks yang jelas. Dibaca sebagai penutup rangkaian, pertanyaan ini menjadi jawaban langsung atas dua ayat sebelumnya yang membahas kekufuran seberat apa pun. Tempatnya di akhir rangkaian bukan kebetulan, melainkan pilihan yang menentukan bagaimana keseluruhan tiga ayat ini seharusnya dipahami secara utuh, bukan sepotong-sepotong.
Tafsiran
Sesudah dua ayat paling berat dalam rangkaian ini, yang datang bukan sebuah keputusan, melainkan pertanyaan. Bentuk kalimatnya sendiri sebuah ajakan, tidakkah mereka bertobat kepada Allah. Yang menutup teguran panjang ini bukan palu, melainkan pintu yang dibiarkan terbuka, dan urutan penempatan ayat ini di akhir rangkaian bukan kebetulan.
Dua tindakan yang disebut berdampingan, bertobat dan memohon ampunan, saling melengkapi. Berpaling dari sesuatu tanpa meminta hanya separuh langkah. Meminta tanpa berpaling juga hanya separuh langkah. Ayat ini menyebut keduanya dalam satu tarikan kalimat supaya tidak ada yang mengira salah satu saja sudah cukup untuk kembali.
Pertanyaan di ayat ini diakhiri dengan alasannya sendiri, padahal Allah pengampun lagi pengasih. Keheranan yang tersirat dalam pertanyaan ini bukan tentang beratnya kesalahan yang sudah dilakukan, melainkan tentang tersedianya jalan yang tidak ditempuh. Yang paling sulit dijelaskan memang bukan kesalahan seseorang, melainkan mengapa ia tetap tinggal di sana padahal pintunya tidak pernah dikunci. Ayat penutup rangkaian ini memilih menutup dengan harapan, bukan dengan vonis final yang tidak menyisakan ruang untuk kembali, sebuah pilihan yang mengubah keseluruhan nada tiga ayat ini dari sekadar teguran menjadi ajakan yang sungguh-sungguh terbuka.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah dua ayat paling berat di seluruh rangkaian ini, yang datang bukan keputusan, melainkan pertanyaan, tidakkah mereka bertobat kepada Allah. Bentuk kalimatnya sendiri sebuah ajakan. Yang menutup teguran panjang bukan palu, melainkan pintu yang dibiarkan terbuka, dan urutan itu tidak kebetulan, sebab Allah bisa saja memilih menutup rangkaian ini dengan penegasan hukuman yang lebih tegas lagi, tetapi Dia memilih tidak melakukannya.
- Dua hal disebut berdampingan, bertobat dan memohon ampunan. Yang pertama berpaling dari sesuatu, yang kedua meminta kepada Allah. Berhenti tanpa meminta hanya separuh, dan meminta tanpa berhenti juga separuh. Allah menyebut keduanya dalam satu tarikan supaya tak ada yang mengira salah satunya sudah cukup, sebuah pengingat bahwa kembali kepada-Nya membutuhkan dua gerakan sekaligus, bukan salah satu saja yang dipilih karena terasa lebih mudah dijalani.
- Pertanyaannya diakhiri dengan alasannya sendiri, padahal Allah pengampun lagi pengasih. Keheranan di ayat ini bukan tentang beratnya kesalahan, melainkan tentang tersedianya jalan yang tidak ditempuh. Yang paling sulit dijelaskan memang bukan kesalahan seseorang, melainkan kenapa ia tetap tinggal di sana padahal pintunya tak pernah dikunci, sebuah pertanyaan yang lebih berat justru karena tidak ada satu pun alasan luar yang bisa dipersalahkan atas keadaan itu.
- Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 5:72 dengan pernyataan umum, dilanjutkan di 5:73 dengan klaim spesifik dan syarat berhenti. Alih-alih menambah lapisan ancaman baru, ayat penutup ini membalik arah sepenuhnya menuju ajakan kembali. Mengapa rangkaian yang membahas kekufuran paling berat justru ditutup dengan pertanyaan yang lembut, bukan dengan penegasan hukuman yang lebih keras lagi, seolah bagian paling akhir sengaja disiapkan untuk hal yang berbeda dari dua bagian sebelumnya?
- Pasangan sifat yang menutup ayat ini, pengampun lagi pengasih, berulang di banyak ayat lain dalam bentuk yang serupa, termasuk di penutup 39:53. Pengulangan ini menunjukkan bahwa menutup pesan tentang kesalahan dengan sebuah harapan bukan pola yang khusus dipakai sekali di sini, melainkan pola yang sering dipakai Al-Qur'an di banyak tempat berbeda, sebuah kebiasaan yang layak dikenali setiap kali membaca ayat-ayat lain yang membahas kesalahan dan konsekuensinya.
- Pertanyaan retoris, tidakkah mereka bertobat, menyusul dua ayat tuduhan paling berat sebelumnya dalam rangkaian ini, menunjukkan bahwa pintu tobat tetap terbuka bahkan sesudah pelanggaran teologis paling serius sekalipun. Tidak ada satu dosa pun, betapapun beratnya, yang secara otomatis menutup kemungkinan seseorang untuk kembali, selama pertanyaan ajakan seperti ini masih layak diajukan kepadanya. Allah memilih mengajukan pertanyaan, bukan menjatuhkan vonis final, tepat pada titik paling berat dari seluruh rangkaian tiga ayat ini.
- Sebesar apa pun kesalahan yang telah dilakukan seseorang, momentum untuk berbalik dan memperbaiki diri tetap tersedia baginya. Menunda bertobat karena merasa sudah terlalu jauh untuk kembali adalah jebakan pikiran semata, bukan realitas yang dikonfirmasi oleh ayat ini, sebab ayat ini justru menempatkan pertanyaan tentang tobat itu tepat sesudah dua ayat yang paling berat. Keyakinan bahwa pintu sudah tertutup lebih sering lahir dari anggapan sendiri daripada dari sesuatu yang benar-benar dinyatakan Allah.
- Susunan pertanyaan di ayat ini biasa dipakai untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah terbuka baginya, bukan untuk menanyakan sesuatu yang belum diketahui jawabannya. Allah sudah tahu jawabannya, tetapi Dia tetap mengajukannya sebagai pertanyaan, seolah menyerahkan ruang bagi pembaca untuk menjawabnya sendiri lewat pilihan yang diambilnya, bukan lewat kata-kata semata yang diucapkan tanpa perbuatan yang menyertainya, sebab jawaban yang sesungguhnya hanya terlihat dari langkah yang benar-benar dijalani.