وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
Apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau melihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman. Maka, catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّwa-idzaa sami'uu maa unzila ilaa r-rasuuli taraa a'yunahum tafiidu mina d-dam'i mimmaa arafuu mina l-haqqiapabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau melihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui
- يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَyaquuluuna rabbanaa aamannaa fa-ktubnaa ma'a sh-shaahidiinamereka berkata, ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi
Catatan pilihan kata (ringkas)
ayat verba/nomina smE-bSr non-sebutan: passthrough terjemahan lain (mendengar/melihat/pendengaran/penglihatan konsisten); pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (probe 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (-amandemen: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = passthrough (cabang mata-hati didokumentasi). ⚠ Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y. Lih.. of dariir'; glos ilahi: 'He who sees all things, both what are apparent and what are occult, WITHOUT ANY ORGAN'; cabang-2: 'endowed with mental perception'.
Aplikasi
Respons emosional yang tulus, mata bercucuran air mata, muncul karena mereka 'mengenali' kebenaran itu dari pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya, bukan sesuatu yang sama sekali asing. Konkretnya: keterbukaan hati terhadap kebenaran baru sering kali bukan soal menerima sesuatu yang benar-benar baru, melainkan mengenali dan mengakui apa yang sebenarnya sudah diketahui secara samar, kejujuran mengakui pengenalan ini, alih-alih menyangkalnya demi mempertahankan posisi lama, adalah inti dari keterbukaan sejati.