وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ

Dan mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kebenaran yang datang kepada kami, sedang kami sangat berharap agar Tuhan kami memasukkan kami bersama kaum yang saleh?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَwa-maa lanaa laa nu'minu billaahi wa-maa jaa'anaa mina l-haqqi wa-natma'u an yudkhilanaa rabbunaa ma'a l-qawmi s-saalihiinadan mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kebenaran yang datang kepada kami, sedang kami sangat berharap agar Tuhan kami memasukkan kami bersama kaum yang saleh
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar a-m-n, a-l-h, j-y-a, h-q-q, t-m-', d-kh-l, r-b-b, q-w-m, s-l-h): al-haqq diterjemahkan 'kebenaran' (akar h-q-q); natma'u diterjemahkan 'sangat berharap' (akar t-m-'). Selaras.

Aplikasi

Pertanyaan retoris yang mereka ajukan pada diri sendiri, mengapa kami tidak beriman?, menunjukkan bahwa keimanan yang tulus kadang muncul dari refleksi jujur terhadap hasrat yang sudah dimiliki, bukan dari tekanan luar. Konkretnya: periksa motivasi terdalam ketika mempertimbangkan perubahan arah hidup, keinginan tulus untuk menjadi bagian dari komunitas yang baik dan bermakna adalah dorongan sah yang layak diikuti, bukan sesuatu yang harus dicurigai sebagai kelemahan.