اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Ketahuilah bahwa Allah keras hukuman-Nya dan bahwa Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌi'lamuu anna llaaha syadiidu l-'iqaabi wa-anna llaaha ghafuurun rahiimunketahuilah bahwa Allah keras hukuman-Nya dan bahwa Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (9 kata)
- اعْلَمُواi'lamuuketahuilah kalian
- أَنَّannabahwa
- اللَّهَllaahaAllah
- شَدِيدُsyadiidukeras
- الْعِقَابِl-'iqaabihukuman
- وَأَنَّwa-annadan bahwa
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Dua sifat yang disandingkan langsung, keras dalam hukuman dan pengampun-pengasih, menolak gambaran yang hanya menekankan satu sisi. Konkretnya: kepemimpinan atau otoritas moral yang sehat, dalam keluarga, organisasi, atau diri sendiri saat menegakkan disiplin, perlu menahan dua kualitas ini sekaligus, ketegasan nyata terhadap pelanggaran dan kesediaan mengampuni yang tulus bertobat, bukan memilih salah satu ekstrem secara permanen.
Tafsiran
Ayat ini menyeimbangkan dua sifat Allah: keras hukuman-Nya bagi pelanggar, namun pengampun lagi pengasih bagi yang bertobat.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyandingkan keras hukuman-Nya dengan pengampun lagi pengasih. Dalam satu kalimat. Yang biasanya dipisah orang disebut bersama.
- Kalimatnya dibuka dengan ketahuilah. Bukan sesungguhnya. Yang disampaikan diminta dicatat, bukan sekadar didengar.
- Allah menyebut yang keras lebih dahulu, yang mengampuni sesudahnya. Urutannya begitu. Kalimatnya berakhir pada yang menenangkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.