مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Allah tidak menetapkan bahiirah, tidak pula saa'ibah, tidak pula wasiilah, dan tidak pula haam; tetapi orang-orang yang kufur mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍmaa ja'ala llaahu min bahiiratin wa-laa saa'ibatin wa-laa washiilatin wa-laa haaminAllah tidak menetapkan bahiirah, tidak pula saa'ibah, tidak pula wasiilah, dan tidak pula haam
- وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَwa-laakinna lladziina kafaruu yaftaruuna 'alaa llaahi l-kadzibatetapi orang-orang yang kufur mengada-adakan kedustaan terhadap Allah
- وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَwa-aktsaruhum laa ya'qiluunadan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal
Terjemahan per kata (21 kata)
- مَاmaatidaklah
- جَعَلَja'alamenjadikan
- اللَّهُllaahuAllah
- مِنْmindari
- بَحِيرَةٍbahiiratinbahirah
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- سَائِبَةٍsaa'ibatinsaibah
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- وَصِيلَةٍwashiilatinwasilah
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- حَامٍhaaminham
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- يَفْتَرُونَyaftaruunamereka mengada-ada
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- الْكَذِبَl-kadzibakebohongan
- وَأَكْثَرُهُمْwa-aktsaruhumdan kebanyakan mereka
- لَاlaatidak
- يَعْقِلُونَya'qiluunayang mengerti
Inti bacaan
Empat istilah ternak jahiliah yang dibongkar di sini menunjukkan bahwa aturan pantangan yang tampak religius bisa jadi murni ciptaan manusia yang diklaim atas nama Tuhan, sebuah kritik terhadap tradisi yang dilegitimasi secara palsu. Konkretnya: waspadai aturan atau larangan yang diklaim ajaran agama atau tradisi suci tanpa dasar yang jelas, kemampuan mempertanyakan dan memeriksa asal-usul suatu aturan adalah bentuk penggunaan akal yang dituntut ayat ini.
Penjelasan pilihan kata
'Bahiirah'/'saa'ibah'/'wasiilah'/'haam' dipertahankan transliterasi istilah teknis kebiasaan jahiliah tentang ternak, tanpa padanan tunggal Indonesia, konsisten kalaalah/hadyu/qalaa'id.
Tafsiran
Ayat ini menolak keras berbagai kebiasaan jahiliah terkait ternak yang diklaim berasal dari Allah, padahal murni kedustaan yang diada-adakan orang-orang kufur.
Renungan dan Hikmah
- Empat sebutan ternak itu dibiarkan dalam bentuk aslinya, tanpa padanan. Nama-nama itu sudah tak dikenal siapa pun sekarang. Dan justru asingnya nama-nama itu menerangkan sesuatu: aturan yang dahulu dipegang mati-matian bisa habis tanpa jejak.
- Allah tidak berkata bahwa aturan itu buruk; Dia berkata bahwa Dia tidak menetapkannya. Yang disangkal asal-usulnya. Sebuah aturan bisa saja masuk akal dan tetap tidak pernah datang dari mana pun yang diklaim.
- Penutupnya menyebut kebanyakan mereka tidak menggunakan akal. Bukan tidak beriman. Allah menempatkan kemampuan memeriksa asal-usul sebuah aturan sebagai pekerjaan akal, dan meninggalkannya disebut sebagai kegagalan berpikir.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar j-'-l, a-l-h, b-h-r, s-y-b, w-s-l, h-m-y, k-f-r, f-r-y, k-dz-b, k-ts-r, '-q-l): empat istilah ternak jahiliah (bahiirah/saa'ibah/wasiilah/haam) dipertahankan sbg istilah; yaftaruuna diterjemahkan 'mengada-adakan' (akar f-r-y); laa ya'qiluun diterjemahkan 'tidak menggunakan akal' (akar '-q-l putaran EQL). gloss '(aturan)' dibuang.