أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ
Tidakkah mereka melihat berapa banyak generasi yang Kami binasakan sebelum mereka, yang telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi yang tidak Kami teguhkan bagi kalian, dan Kami curahkan hujan lebat atas mereka dari langit, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan Kami tumbuhkan sesudah mereka generasi yang lain.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَa-lam yaraw kam ahlaknaa min qablihim min qarnin makkannaahum fii l-ardi maa lam numakkin lakum wa-arsalnaa s-samaa'a alayhim midraaran wa-ja'alnaa l-anhaara tajrii min tahtihim fa-ahlaknaahum bi-dzunuubihim wa-ansha'naa min ba'dihim qarnan aakhariinatidakkah mereka melihat berapa banyak generasi yang Kami binasakan sebelum mereka, yang telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi yang tidak Kami teguhkan bagi kalian, dan Kami curahkan hujan lebat atas mereka dari langit, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan Kami tumbuhkan sesudah mereka generasi yang lain
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar r-a-y, h-l-k, q-b-l, q-r-n, m-k-n, a-r-d, r-s-l, s-m-w, d-r-r, j-'-l, n-h-r, j-r-y, t-h-t, dz-n-b, n-sh-a, b-'-d, a-kh-r): qarn diterjemahkan 'generasi'; makkannaa diterjemahkan 'Kami teguhkan kedudukan' (akar m-k-n); as-samaa' midraaran diterjemahkan 'hujan lebat (dari langit)'; ansha'naa diterjemahkan 'Kami tumbuhkan'. gloss '(Yaitu)' dibuang.
Aplikasi
Generasi-generasi yang dibinasakan sebelumnya justru sempat diberi kedudukan kokoh, hujan lebat, dan sungai mengalir, kemakmuran material bukan bukti keberkahan permanen, sebab kehancuran datang justru setelah puncak kemakmuran itu karena dosa. Konkretnya: jangan menafsirkan kemakmuran atau kekuasaan sebagai jaminan otomatis bahwa jalan yang ditempuh sudah benar, sejarah generasi yang runtuh justru dari puncak kejayaan adalah data empiris, bukan sekadar klaim keagamaan, yang layak jadi bahan refleksi rutin oleh siapa pun yang sedang di atas.