وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ ۖ وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا لَقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَ

Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya?” Dan sekiranya Kami turunkan malaikat, niscaya selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak ditangguhkan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌwa-qaaluu law-laa unzila alayhi malakundan mereka berkata, mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya
  2. وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا لَقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَwa-law anzalnaa malakan la-qudiya l-amru tsumma laa yunzharuunadan sekiranya Kami turunkan malaikat, niscaya selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak ditangguhkan
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar q-w-l, n-z-l, m-l-k, q-d-y, a-m-r, n-zh-r): qudiya l-amr diterjemahkan 'urusan diselesaikan' (akar q-d-y); laa yunzharuun diterjemahkan 'tidak ditangguhkan/diberi tenggang' (akar n-zh-r). gloss '(Nabi Muhammad)/(mereka dibinasakan…)/(sedikit pun untuk bertobat)' dibuang.

Aplikasi

Permintaan bukti spektakuler (malaikat turun) sebenarnya berisiko: jika dikabulkan, urusan langsung selesai tanpa tenggang waktu lagi, bukti yang terlalu meyakinkan menghapus ruang untuk proses, refleksi, dan perubahan bertahap. Konkretnya: kadang keraguan/ambiguitas yang tersisa dalam hidup justru memberi ruang untuk tumbuh dan berubah dengan kesadaran sendiri, berhati-hati mengharapkan 'tanda pasti yang tak terbantahkan' karena kepastian mutlak biasanya datang bersama penutupan kesempatan, bukan pembukaannya.