وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ

Dan sekiranya Kami jadikan dia malaikat, tentu Kami jadikan dia laki-laki, dan tentu Kami kaburkan atas mereka apa yang mereka kaburkan sendiri.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَwa-law ja'alnaahu malakan la-ja'alnaahu rajulan wa-la-labasnaa alayhim maa yalbisuunadan sekiranya Kami jadikan dia malaikat, tentu Kami jadikan dia laki-laki, dan tentu Kami kaburkan atas mereka apa yang mereka kaburkan sendiri
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar j-'-l, m-l-k, r-j-l, l-b-s): la-labasnaa alayhim maa yalbisuun diterjemahkan 'Kami kaburkan atas mereka apa yang mereka kaburkan', akar l-b-s (labasa=mencampur-samarkan/talbiis; terjemahan lain 'buat mereka tetap ragu', sebagian penerjemah 'covered'); terjemahan ini menautkan ke makna akar 'mengaburkan'.

Aplikasi

Bahkan seandainya rasul berwujud malaikat, ia tetap perlu ditampilkan sebagai sosok yang bisa direlasikan (berwujud manusia), pembawa pesan yang efektif butuh kedekatan bentuk dengan penerimanya, bukan jarak yang mengintimidasi. Konkretnya: saat menyampaikan sesuatu yang penting kepada orang lain, kedekatan dan keterhubungan (bukan menjaga jarak otoritatif) sering lebih efektif membuka penerimaan, kerumitan yang mereka rasakan biasanya proyeksi dari kebingungan mereka sendiri, bukan murni akibat cara penyampaian.