قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍqul innii akhaafu in 'ashaytu rabbii 'adzaaba yawmin 'azhiiminkatakanlah, sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku
Terjemahan per kata (9 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- أَخَافُakhaafuaku takut
- إِنْinjika
- عَصَيْتُ'ashaytuaku mendurhakai
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- عَذَابَ'adzaabaazab
- يَوْمٍyawminhari
- عَظِيمٍ'azhiiminyang besar
Inti bacaan
Nabi sendiri mengucapkan rasa takut akan konsekuensi durhaka, bukan klaim kekebalan karena posisinya sebagai pembawa pesan. Konkretnya: tidak ada posisi atau peran (betapa pun tinggi/terhormat) yang membebaskan seseorang dari kewajiban memeriksa diri dan takut pada konsekuensi tindakannya sendiri, kerendahan hati untuk mengakui rasa takut akan kesalahan sendiri adalah sikap yang dicontohkan, bukan dihindari.
Tafsiran
Ayat ini menunjukkan kerendahan hati Rasul sendiri: rasa takut kepada azab jika durhaka kepada Tuhannya, sebuah teladan ketakwaan yang tulus.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruhnya menyebut aku takut azab hari yang besar. Bukan orang lain. Yang paling dekat pun mengucapkan kalimat itu tentang dirinya.
- Syaratnya jika aku durhaka kepada Tuhanku. Bersyarat. Ketakutannya bukan karena tak yakin, melainkan karena tahu aturannya berlaku juga baginya.
- Allah menaruh pengakuan ini di mulut yang paling dipercaya. Bukan di mulut pendosa. Yang paling tinggi kedudukannya menyatakan sendiri bahwa ia tak kebal.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja.' akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.