وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Dan Dialah yang berkuasa penuh atas hamba-hamba-Nya, dan Dialah yang penuh hikmah lagi waskita.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِwa-huwa l-qaahiru fawqa 'ibaadihidan Dialah yang berkuasa penuh atas hamba-hamba-Nya
  2. وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُwa-huwa l-hakiimu l-khabiirudan Dialah yang penuh hikmah lagi waskita

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَهُوَwa-huwadan Dia
  2. الْقَاهِرُl-qaahiruYang Mahaperkasa
  3. فَوْقَfawqadi atas
  4. عِبَادِهِ'ibaadihihamba-hamba-Nya
  5. وَهُوَwa-huwadan Dia
  6. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
  7. الْخَبِيرُl-khabiiruYang Maha Teliti

Inti bacaan

Kekuasaan (qaahir, 'Penguasa') di sini tidak berdiri sendiri, melainkan dipasangkan dengan hikmah dan kewaskitaan, otoritas yang sah digambarkan sebagai kombinasi kekuatan dan kebijaksanaan-plus-kepekaan, bukan kekuatan telanjang. Konkretnya: bagi siapa pun yang memegang otoritas atas orang lain (orang tua, atasan, pemimpin), model ini menuntut agar kekuasaan selalu disertai hikmah dan kepekaan terhadap keadaan yang dipimpin, kekuasaan tanpa kebijaksanaan bukan teladan yang diajukan di sini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kekuasaan penuh Allah atas seluruh hamba-Nya, dilandasi hikmah dan pengetahuan yang meliputi segala hal secara mendetail.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut Dia berkuasa penuh atas hamba-hamba-Nya. Bukan atas alam. Kekuasaan itu disebut atas orang, dan itu menyentuh yang membacanya.
  • Sesudah kekuasaan, Dia menyebut penuh hikmah lagi waskita. Menimbang dan mengetahui. Kuasa yang tak disertai keduanya menakutkan; di sini ia tak sendirian.
  • Allah menaruh ayat ini sesudah bertanya apa yang lebih besar kesaksiannya. Menyambung. Yang disebut saksi diberi keterangan tentang kedudukannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah' (takrif corpus); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan).