ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ

Kemudian tidaklah dalih mereka kecuali mereka berkata, “Demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah orang-orang musyrik.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَtsumma lam takun fitnatuhum illaa an qaaluu wallaahi rabbinaa maa kunnaa mushrikiinakemudian tidaklah dalih mereka kecuali mereka berkata, demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah orang-orang musyrik
Aplikasi

Reaksi pertama saat dikonfrontasi bukan pengakuan, melainkan penyangkalan langsung disertai sumpah, pola pembelaan diri refleksif yang justru memperburuk keadaan karena menambah kebohongan di atas kebohongan. Konkretnya: saat tertangkap dalam kesalahan, dorongan pertama untuk menyangkal habis-habisan (bahkan bersumpah) adalah pola manusiawi yang perlu dikenali dan dilawan, mengakui kesalahan secara jujur, meski sulit, adalah jalan yang lebih baik daripada memperkuat penyangkalan.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar k-w-n, f-t-n, q-w-l, a-l-h, r-b-b, sh-r-k): fitnatuhum diterjemahkan 'dalih mereka (untuk mengelak)', akar f-t-n (di sini makna 'alasan/upaya membela diri'; sebagian penerjemah 'means of denial'); mushrikiin diterjemahkan 'orang-orang musyrik'. gloss '(terpaksa)' dibuang.