ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ
Kemudian tidaklah dalih mereka kecuali mereka berkata, “Demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah orang-orang musyrik.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَtsumma lam takun fitnatuhum illaa an qaaluu wa-llaahi rabbinaa maa kunnaa musyrikiinakemudian tidaklah dalih mereka kecuali mereka berkata, demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah orang-orang musyrik
Terjemahan per kata (12 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- لَمْlamtidak
- تَكُنْtakunadalah
- فِتْنَتُهُمْfitnatuhumfitnah mereka
- إِلَّاillaakecuali
- أَنْanagar
- قَالُواqaaluumereka berkata
- وَاللَّهِwa-llaahidan Allah
- رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
- مَاmaatidaklah
- كُنَّاkunnaakami adalah
- مُشْرِكِينَmusyrikiinaorang-orang musyrik
Inti bacaan
Reaksi pertama saat dikonfrontasi bukan pengakuan, melainkan penyangkalan langsung disertai sumpah, pola pembelaan diri refleksif yang justru memperburuk keadaan karena menambah kebohongan di atas kebohongan. Konkretnya: saat tertangkap dalam kesalahan, dorongan pertama untuk menyangkal habis-habisan (bahkan bersumpah) adalah pola manusiawi yang perlu dikenali dan dilawan, mengakui kesalahan secara jujur, meski sulit, adalah jalan yang lebih baik daripada memperkuat penyangkalan.
Penjelasan pilihan kata
Kutip 'qaaluu' dikonfirmasi morfologi.
Tafsiran
Ayat ini mencatat penyangkalan mereka yang bersumpah demi Allah bahwa mereka tidak pernah mempersekutukan-Nya: sebuah kebohongan terakhir di hadapan kenyataan yang tak terbantahkan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tidaklah dalih mereka kecuali bersumpah bahwa mereka bukan musyrik. Sumpah, bukan alasan. Yang tak punya keterangan menggantinya dengan penegasan.
- Allah merekam mereka bersumpah demi Dia, Tuhan kami. Nama-Nya dipakai untuk menyangkal mempersekutukan-Nya. Sumpah itu memakai satu-satunya pihak yang tahu persis kebenarannya.
- Allah menempatkan dalih itu pada hari yang segalanya sudah terlihat. Kebiasaan lama terbawa. Yang dipakai selama hidup untuk lolos tetap keluar meski tak lagi ada yang bisa dielakkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar k-w-n, f-t-n, q-w-l, a-l-h, r-b-b, sh-r-k): fitnatuhum diterjemahkan 'dalih mereka (untuk mengelak)', akar f-t-n (di sini makna 'alasan/upaya membela diri'; sebagian penerjemah 'means of denial'); mushrikiin diterjemahkan 'orang-orang musyrik'. gloss '(terpaksa)' dibuang.