وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu, maka jika engkau mampu mencari lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu engkau mendatangkan tanda kepada mereka, lakukanlah. Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia akan mengumpulkan mereka semua atas petunjuk. Maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍwa-in kaana kabura 'alayka i'raadhuhum fa-ini statha'ta an tabtaghiya nafaqan fii l-ardhi aw sullaman fii s-samaa'i fa-ta'tiyahum bi-aayatinjika keberpalingan mereka terasa berat bagimu, maka jika engkau mampu mencari lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu engkau mendatangkan tanda kepada mereka, lakukanlah
  2. وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَىٰwa-law syaa'a llaahu la-jama'ahum 'alaa l-hudaadan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia akan mengumpulkan mereka semua atas petunjuk
  3. فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَfa-laa takuunanna mina l-jaahiliinamaka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh

Terjemahan per kata (28 kata)

  1. وَإِنْwa-indan jika
  2. كَانَkaanaadalah
  3. كَبُرَkaburaterasa berat
  4. عَلَيْكَ'alaykaatasmu
  5. إِعْرَاضُهُمْi'raadhuhumkeberpalingan mereka
  6. فَإِنِfa-inimaka jika
  7. اسْتَطَعْتَstatha'taengkau mampu
  8. أَنْanuntuk
  9. تَبْتَغِيَtabtaghiyaengkau mencari
  10. نَفَقًاnafaqanlubang
  11. فِيfiidi
  12. الْأَرْضِl-ardhibumi
  13. أَوْawatau
  14. سُلَّمًاsullamantangga
  15. فِيfiidi
  16. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  17. فَتَأْتِيَهُمْfa-ta'tiyahumlalu engkau mendatangkan kepada mereka
  18. بِآيَةٍbi-aayatindengan tanda
  19. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  20. شَاءَsyaa'amenghendaki
  21. اللَّهُllaahuAllah
  22. لَجَمَعَهُمْla-jama'ahumtentu Dia mengumpulkan mereka
  23. عَلَى'alaaatas
  24. الْهُدَىٰl-hudaapetunjuk
  25. فَلَاfa-laamaka janganlah
  26. تَكُونَنَّtakuunannaengkau menjadi
  27. مِنَminadari
  28. الْجَاهِلِينَl-jaahiliinaorang-orang yang jahil

Inti bacaan

Sekalipun Nabi ingin memenuhi tuntutan tanda spektakuler (hiperbola 'lubang di bumi atau tangga ke langit'), ditegaskan seandainya Allah menghendaki Dia bisa menyatukan semua orang pada petunjuk, jangan sampai keinginan membuktikan diri mendorong tindakan yang tidak proporsional. Konkretnya: saat usaha meyakinkan orang lain tak kunjung berhasil, waspadai dorongan untuk melakukan hal ekstrem demi validasi, ada batas wajar usaha yang perlu dihormati, bukan dipaksakan sampai kehilangan akal sehat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka bukan dengan teguran, melainkan dengan mengakui sebuah perasaan.

Kalimat pertamanya menyebut keberpalingan mereka terasa berat. Beratnya diakui lebih dahulu sebelum apa pun dikatakan tentangnya. Yang diajak bicara tidak diminta berpura-pura tidak merasa.

Lalu datang dua gambaran yang keduanya mustahil: mencari “lubang” (نَفَقًا, nafaqan) di bumi, atau “tangga” (سُلَّمًا, sullaman) ke langit. Kedua kata itu masing-masing hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini. Yang digambarkan adalah orang yang sanggup menembus ke bawah tanah atau memanjat ke langit demi mendatangkan satu tanda. Gambaran itu tidak dipakai untuk menertawakan keinginannya, melainkan untuk mengukur seberapa jauh keinginan itu sanggup membawa seseorang.

Sesudah usaha yang paling jauh itu dibayangkan, barulah kalimat berikutnya diletakkan: seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengumpulkan mereka semua atas petunjuk. Urutannya berarti. Yang ditunjukkan bukan bahwa usaha itu sia-sia, melainkan bahwa hasilnya tidak pernah berada di tangan yang berusaha. Penutupnya melarang menjadi orang yang bodoh, dan dalam susunan seperti ini kebodohan yang dimaksud adalah menyangka hasil itu bisa dipaksakan.

Susunan pengandaiannya berlapis dan tiap lapis menambah kemustahilan. Mula-mula seandainya engkau sanggup. Lalu dua jalan yang keduanya tak terjangkau, yaitu ke bawah tanah dan ke atas langit. Lalu tujuannya, yaitu mendatangkan satu tanda. Menyusun tiga lapis seperti itu bukan untuk menertawakan, melainkan untuk mengukur sejauh mana keinginan itu sanggup membawa seseorang.

Yang paling patut diperhatikan, keinginan itu tidak dicela. Tidak dikatakan bahwa menginginkan mereka beriman adalah kesalahan. Yang dikatakan hanya bahwa hasilnya tidak berada di tangan yang menginginkan. Perbedaan itu menyelamatkan ayat ini dari dibaca sebagai larangan berusaha.

Kalimat tentang kehendak Allah pun berbentuk pengandaian, bukan pernyataan. Seandainya Dia menghendaki, tentu Dia mengumpulkan mereka semua atas petunjuk. Bentuk pengandaian itu menyatakan kemungkinan tanpa menyatakan bahwa kemungkinan itu diambil. Yang ditunjukkan bukan bahwa hidayah ditahan, melainkan bahwa ia tidak dipaksakan.

Larangan penutupnya memakai kata yang keras, yaitu jangan termasuk orang-orang yang bodoh. Di dalam susunan seperti ini, kebodohan yang dimaksud bukan kurang pengetahuan. Ia menyangka bahwa hasil bisa dipaksakan dengan usaha yang cukup besar, dan sangkaan itu justru paling mudah tumbuh pada orang yang paling bersungguh-sungguh.

Tafsiran

Ayat ini dibuka dengan mengakui perasaan, dan pengakuan itu yang paling patut diperhatikan. Sebelum apa pun dikatakan tentang keadaan mereka, yang disebut lebih dahulu adalah beratnya keberpalingan itu bagi yang menyaksikannya.

Sesudah pengakuan, yang disodorkan bukan penghiburan melainkan pengandaian. Dan pengandaian itu disusun berlapis sampai mustahil: menembus ke bawah tanah atau memanjat ke langit, demi satu tanda. Gambaran itu tidak dipakai untuk menertawakan keinginannya. Ia dipakai untuk mengukur seberapa jauh keinginan semacam itu sanggup membawa seseorang, dan ukurannya ternyata tak berbatas.

Baru sesudah usaha terjauh itu dibayangkan, kalimat tentang kehendak Allah diletakkan. Urutan itu menentukan artinya. Kalau diletakkan di depan, ia akan terbaca sebagai larangan berusaha. Karena diletakkan di belakang, yang tergambar bukan bahwa usaha itu sia-sia, melainkan bahwa hasilnya tidak pernah berada di tangan yang berusaha.

Larangan penutupnya karena itu menyasar sesuatu yang khas. Kebodohan yang dimaksud bukan kurang pengetahuan dan bukan pula kurang kesungguhan. Ia menyangka bahwa hasil bisa dipaksakan asal usahanya cukup besar. Sangkaan seperti itu justru paling mudah tumbuh pada orang yang paling bersungguh-sungguh, dan itulah sebabnya peringatan ini ditujukan kepada orang yang keberpalingan mereka terasa berat baginya, bukan kepada orang yang tidak peduli.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah menggambarkan usaha yang paling ekstrem sekalipun, ayat ini menyebut: 'seandainya Allah menghendaki, tentu Dia akan mengumpulkan mereka semua atas petunjuk'. Yang dikejar dengan susah payah itu ada dalam kuasa-Nya seketika, dan sengaja tidak dilakukan. Yang melelahkan bukan ketiadaan jalan, melainkan mengetahui bahwa jalannya ada dan ditahan. Perbedaan antara keduanya menentukan seluruh isi ayat ini. Kalau Allah tidak mampu mengumpulkan mereka atas petunjuk, kesedihan Rasul masuk akal dan usahanya wajib diteruskan sampai batas apa pun. Kalau Dia mampu tapi menahannya, maka keadaan yang sedang berlangsung itu bukan kegagalan siapa pun. Ayat ini memilih yang kedua, dan dengan itu memindahkan seluruh perkaranya dari lapangan usaha ke lapangan kehendak.
  • Kalimatnya dibuka dengan mengakui perasaannya: 'jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu'. Bukan teguran, bukan nasihat, melainkan penyebutan bebannya lebih dulu. Allah menyebut apa yang dirasakan seseorang sebelum mengatur apa yang harus ia lakukan, dan urutan itu jarang ditiru manusia ketika menasihati sesamanya. Pengakuan itu ditaruh di kata pertama, bukan di akhir sebagai penghibur. Susunannya berarti perasaan itu tidak diperlakukan sebagai hal yang harus dibereskan lebih dulu sebelum pembicaraan yang sesungguhnya dimulai. Ia justru menjadi pintu masuknya. Apa yang berubah kalau perasaan diakui di depan? Yang mendengar tidak perlu lagi membuktikan bahwa bebannya nyata, dan seluruh tenaganya bisa dipakai untuk mendengarkan sisanya.
  • Lubang di bumi atau tangga ke langit adalah gambaran yang mustahil, dan disebut bukan untuk menertawakan keinginannya. Ia diberikan sebagai ukuran seberapa jauh seseorang bersedia pergi. Yang ditunjukkan ayat ini bukan bahwa keinginan itu konyol, melainkan bahwa sejauh apa pun ia dituruti, hasilnya tetap bukan miliknya untuk diberikan. Dua gambaran itu (نَفَقًا فِي الْأَرْضِ dan سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ) masing-masing muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berdiri di ayat yang sama. Keduanya menggambarkan usaha yang tidak mungkin dikerjakan siapa pun, tapi tak satu pun kata di sekitarnya menertawakannya. Allah membiarkan gambaran itu berdiri utuh, dan baru sesudah itu menyebutkan bahwa hasilnya pun tidak akan berubah.
  • Sesudah membayangkan usaha sejauh menembus bumi atau memanjat langit, Allah menyebut bahwa kalau Dia menghendaki, semuanya terkumpul atas petunjuk. Kalau hasil memang tak pernah di tangan yang berusaha, apa yang berubah dari cara kita menanggung kegagalan mengajak orang yang kita sayangi? Penutupnya keras dan patut diperhatikan: larangan agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh. Kata itu dipasang bukan untuk orang yang berpaling, melainkan untuk yang menyampaikan. Apa yang bisa membuat seorang penyampai disebut demikian? Bukan kesedihannya, sebab kesedihannya sudah diakui di kalimat pertama. Yang dinamai begitu adalah sikap terus menuntut hasil yang memang tidak pernah dititipkan kepadanya.
  • Ayat ini tidak melarang usaha. Ia justru mengajak membayangkannya sampai batas yang paling jauh, yaitu menembus bumi atau memanjat langit, lalu berkata lakukanlah. Baru sesudah bayangan itu terbentang penuh, kalimatnya melanjutkan dengan kehendak Allah. Mengapa urutannya begitu? Karena orang yang dilarang berusaha sebelum sempat membayangkan batasnya akan selalu merasa ada satu langkah lagi yang belum dicoba. Yang sudah membayangkan batas terjauhnya tahu bahwa di ujung sana pun jawabannya sama, dan pengetahuan itu yang menenangkan, bukan larangan.
  • Kalimat pengandaian di ayat ini berhenti tepat sesudah menyebutkan bahwa Allah sanggup mengumpulkan mereka semua atas petunjuk. Ia tidak melanjutkan dengan menerangkan mengapa hal itu tidak dilakukan. Penghentian itu disengaja dan berat. Pembaca ditinggalkan dengan sebuah kesanggupan yang diakui dan sebuah keputusan yang tidak diterangkan, dan yang tersisa untuknya cuma menerima bahwa keputusan itu bukan bagiannya untuk dimengerti seluruhnya. Ayat berikutnya justru berpindah membicarakan siapa yang mendengar, bukan mengapa yang lain tidak.