وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tidak ada makhluk melata di bumi, dan tidak pula burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat seperti kalian; tidak Kami luputkan sesuatu pun di dalam Kitab; kemudian kepada Tuhan mereka, mereka dikumpulkan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْwa-maa min daabbatin fii l-ardhi wa-laa thaa'irin yathiiru bi-janaahayhi illaa umamun amtsaalukumdan tidak ada makhluk melata di bumi, dan tidak pula burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat seperti kalian
  2. مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍmaa farrathnaa fii l-kitaabi min syay'intidak Kami luputkan sesuatu pun di dalam Kitab
  3. ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَtsumma ilaa rabbihim yuhsyaruunakemudian kepada Tuhan mereka, mereka dikumpulkan

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. مِنْmindari
  3. دَابَّةٍdaabbatinmakhluk bergerak
  4. فِيfiidi
  5. الْأَرْضِl-ardhibumi
  6. وَلَاwa-laadan tidak pula
  7. طَائِرٍthaa'irinburung
  8. يَطِيرُyathiiruterbang
  9. بِجَنَاحَيْهِbi-janaahayhidengan kedua sayapnya
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. أُمَمٌumamunumat-umat
  12. أَمْثَالُكُمْamtsaalukumseperti kalian
  13. مَاmaatidaklah
  14. فَرَّطْنَاfarrathnaaKami luputkan
  15. فِيfiidi
  16. الْكِتَابِl-kitaabiKitab
  17. مِنْmindari
  18. شَيْءٍsyay'insesuatu
  19. ثُمَّtsummakemudian
  20. إِلَىٰilaakepada
  21. رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
  22. يُحْشَرُونَyuhsyaruunamereka dikumpulkan

Inti bacaan

Penegasan bahwa makhluk melata dan burung adalah 'umat-umat seperti kalian' menempatkan hewan bukan sebagai objek semata, melainkan komunitas dengan keberadaan yang diperhitungkan setara secara struktural. Konkretnya: cara memandang makhluk lain (hewan, ekosistem) sebagai 'umat' yang punya keberadaan bermakna sendiri, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi, mendorong sikap tanggung jawab ekologis yang lebih mendasar daripada sekadar aturan teknis konservasi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memperluas satu kata yang biasanya disediakan manusia untuk dirinya sendiri, lalu menutup dengan jaminan tentang kelengkapan.

Makhluk melata di bumi dan burung yang terbang disebut “umat-umat seperti kalian” (أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ, umamun amtsaalukum). Kata “umat” dipakai untuk hewan. Perbandingan itu diletakkan tanpa syarat dan tanpa penjelasan tambahan, sehingga yang membedakan manusia dari makhluk lain ternyata bukan kenyataan bahwa ia hidup berkelompok, punya tatanan, dan punya cara hidup bersama.

Di tengah ayat berdiri satu kalimat yang tak muncul di tempat lain mana pun: “tidak Kami luputkan sesuatu pun di dalam Kitab” (مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ, maa farrathnaa fi l-kitaabi min syay'in). Kalimat itu hanya sekali disebut di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya bukan di tengah pembicaraan tentang hukum atau tentang manusia, melainkan di tengah pembicaraan tentang binatang melata dan burung. Jaminan kelengkapan itu justru dipasang pada makhluk yang paling jarang dianggap penting.

Penutupnya menyebut mereka dikumpulkan kepada Tuhan mereka. Hewan-hewan itu juga punya tempat kembali. Susunan ayat ini menempatkan manusia sebagai satu di antara sekian banyak umat, bukan sebagai satu-satunya yang diperhitungkan.

Susunan yang menyamakan itu tak terulang. Rangkaian “umat-umat seperti kalian” (أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ, umamun amtsaalukum) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata pertamanya biasa dipakai untuk kelompok manusia yang punya tatanan dan tujuan bersama. Memakainya untuk binatang melata dan burung bukan kelonggaran bahasa; ia pilihan yang menyamakan kedudukan.

Dua makhluk yang disebut pun dipilih dengan cermat, yaitu yang merayap di tanah dan yang terbang di udara. Keduanya mewakili dua wilayah yang paling berjauhan, dan keduanya berada di luar wilayah yang biasanya diperhitungkan manusia sebagai sesama. Kalau kata umat berlaku pada keduanya, maka ia berlaku pada seluruh yang ada di antaranya.

Penutupnya menyebut mereka dikumpulkan kepada Tuhan mereka. Kata ganti yang dipakai menunjuk hewan-hewan itu, bukan manusia. Jadi yang punya tempat kembali bukan hanya yang diberi kitab dan bukan hanya yang diberi akal. Susunan ini menempatkan manusia sebagai satu di antara sekian banyak umat yang sama-sama menuju ke satu arah, dan bukan sebagai satu-satunya yang diperhitungkan.

Kalau ketiga hal itu dibaca berurutan, jaminan kelengkapan yang berdiri di tengah ayat menjadi lebih berat. Ia tidak dipasang pada perkara hukum, tidak pada perkara keyakinan, dan tidak pada perkara manusia. Ia dipasang tepat di tengah pembicaraan tentang makhluk yang paling jarang dianggap penting, dan penempatan itu menguji ukuran penting yang dipakai pembacanya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini memperluas cakupan kekuasaan dan pengetahuan Allah hingga meliputi seluruh makhluk hidup di bumi dan udara: semuanya tergolong umat yang tercatat lengkap dalam Kitab dan akan dikumpulkan kepada Tuhan mereka. Yang paling menuntut perhatian adalah kata yang dipinjamkan kepada hewan.

Kata umat biasanya disediakan manusia untuk dirinya sendiri. Ia mengandaikan tatanan, kebersamaan, dan tujuan. Memakainya untuk binatang melata dan burung menghapus satu garis yang biasanya dianggap jelas. Kalau garis itu dihapus, maka yang membedakan manusia dari makhluk lain ternyata bukan kenyataan bahwa ia hidup berkelompok dan punya cara hidup bersama.

Yang lebih tidak terduga adalah letak jaminan kelengkapannya. Kalimat bahwa tidak ada yang diluputkan di dalam Kitab tidak berdiri di tengah pembicaraan tentang hukum, keyakinan, atau nasib manusia. Ia berdiri di tengah pembicaraan tentang makhluk yang paling jarang dianggap perlu diperhitungkan. Penempatan itu menguji ukuran penting yang dipakai pembacanya, bukan menambah keterangan tentang kelengkapan kitab.

Penutupnya menyempurnakan bacaan tersebut. Yang dikumpulkan kepada Tuhan mereka adalah hewan-hewan itu juga. Kalau tempat kembali bukan milik manusia sendirian, maka kedudukan manusia di dunia ini bukan kedudukan penonton yang menilai, melainkan kedudukan peserta di antara peserta lain. Sikap terhadap makhluk yang tidak bisa menuntut apa pun karena itu bukan perkara sampingan; ia bagian dari cara seseorang memahami tempatnya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut makhluk melata dan burung sebagai umat-umat seperti kalian. Kata umat dipakai untuk hewan. Yang membedakan manusia bukan bahwa ia satu-satunya yang berkelompok. Rangkaian itu (أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Kata yang dipakai untuk hewan adalah kata yang di tempat lain dipakai untuk kelompok manusia yang punya nabi, punya perjanjian, dan punya perhitungan. Dipakai untuk makhluk melata dan burung, kata itu menempatkan mereka bukan sebagai benda yang bergerak melainkan sebagai kelompok yang punya urusan sendiri dengan Allah.
  • Dia menyebut tidak meluputkan sesuatu pun di dalam Kitab. Tak ada yang terlewat. Yang tercatat bukan hanya yang penting menurut ukuran manusia. Rangkaian itu (مَا فَرَّطْنَا) muncul di dua ayat, dan dua-duanya di surah ini: 6:31 dan 6:38. Di 6:31 kata yang sama dipakai untuk penyesalan manusia atas apa yang mereka lalaikan, dan di sini untuk jaminan bahwa Allah tidak melalaikan apa pun. Satu kata dipakai untuk kelalaian manusia dan untuk peniadaan kelalaian pada Allah, berjarak tujuh ayat.
  • Penutupnya menyebut mereka dikumpulkan kepada Tuhan mereka. Hewan-hewan itu juga. Yang dijamin rezekinya juga punya tempat kembali. Penutup itu memakai kata ganti yang merujuk pada hewan-hewan tadi, bukan pada manusia. Jadi yang dinyatakan dikumpulkan adalah mereka. Ayat ini tidak menerangkan apa yang terjadi sesudah pengumpulan itu, dan ketiadaan keterangan tersebut bagian dari teksnya. Yang bisa dipegang cuma satu: rangkaian keberadaan mereka tidak berhenti pada saat mereka mati.
  • Allah menaruh jaminan bahwa tidak ada yang Dia luputkan justru di tengah pembicaraan tentang binatang melata dan burung. Kalau yang paling jarang dianggap penting saja tercatat, apa yang sebenarnya sedang kita anggap terlalu kecil untuk diperhitungkan? Letak jaminan itu di tengah pembicaraan tentang hewan bukan letak yang biasa. Jaminan tentang kelengkapan Kitab lebih mudah dibayangkan berdiri di tengah pembicaraan tentang hukum atau tentang kisah para nabi. Di sini ia dipasang di tengah pembicaraan tentang makhluk yang paling jarang dipikirkan orang. Apa yang dikerjakan penempatan itu? Ia menutup kemungkinan membaca kelengkapan itu sebagai kelengkapan yang cuma berlaku pada hal-hal besar.
  • Ayat ini tidak menyebut hewan secara umum. Ia menyebut dua jenis, yaitu yang melata di bumi dan yang terbang dengan kedua sayapnya, dan keduanya menandai dua wilayah gerak yang berbeda sepenuhnya. Mengapa dua dan bukan satu sebutan yang mencakup semuanya? Sebutan yang mencakup terasa seperti daftar, sedangkan dua wilayah yang berjauhan terasa seperti dua ujung. Yang dinyatakan bukan bahwa banyak jenis termasuk, melainkan bahwa tidak ada wilayah yang berada di luar, dan Allah menutup jaminan itu dengan menyebut bahwa tak satu pun Dia luputkan.
  • Kalimat ini bisa saja berbunyi bahwa hewan-hewan itu diciptakan untuk manusia, dan bunyi seperti itu ada di ayat lain untuk hal lain. Yang dipilih di sini berbeda: mereka disebut umat-umat seperti kalian. Kata sandingnya bukan kata yang menandai kegunaan melainkan kata yang menandai kesetaraan jenis. Apa akibatnya bagi cara manusia memperlakukan mereka? Sesuatu yang keberadaannya berdiri sendiri di hadapan Allah tidak habis nilainya begitu ia tidak lagi berguna bagi siapa pun.