قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, jika azab Allah datang kepada kalian tiba-tiba atau terang-terangan, adakah yang dibinasakan selain kaum yang zalim?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَqul ara'aytakum in ataakum adzaabu llaahi baghtatan aw jahratan hal yuhlaku illaa l-qawmu zh-zhaalimuunakatakanlah, terangkanlah kepadaku, jika azab Allah datang kepada kalian tiba-tiba atau terang-terangan, adakah yang dibinasakan selain kaum yang zalim
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar q-w-l, r-a-y, a-t-y, '-dz-b, a-l-h, b-gh-t, j-h-r, h-l-k, q-w-m, zh-l-m): baghtatan/jahratan diterjemahkan 'tiba-tiba/terang-terangan'; hal yuhlaku illaa… diterjemahkan 'adakah yang dibinasakan selain…'. gloss '(Nabi Muhammad)/(Allah)' dibuang.

Aplikasi

Pertanyaan 'adakah yang dibinasakan selain kaum yang zalim?' menegaskan bahwa konsekuensi berat selalu terarah pada kezaliman spesifik, bukan sewenang-wenang atau acak. Konkretnya: keyakinan bahwa konsekuensi besar dalam hidup terkait langsung dengan tindakan zalim yang dilakukan (bukan nasib buta/acak) mendorong tanggung jawab atas pilihan sendiri, bukan menyalahkan keberuntungan semata saat menghadapi akibat buruk dari tindakan sendiri.