Ayat 6:74
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, “Apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةًwa-idz qaala ibraahiimu li-abiihi aazara a-tattakhidzu ashnaaman aalihatandan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan
- إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍinnii araaka wa-qawmaka fii dhalaalin mubiininsesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- قَالَqaalaberkata
- إِبْرَاهِيمُibraahiimuIbrahim
- لِأَبِيهِli-abiihikepada bapaknya
- آزَرَaazaraAzar
- أَتَتَّخِذُa-tattakhidzuapakah engkau menjadikan
- أَصْنَامًاashnaamanberhala
- آلِهَةًaalihatantuhan-tuhan
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- أَرَاكَaraakaaku melihatmu
- وَقَوْمَكَwa-qawmakadan kaummu
- فِيfiidalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Ibrahim mengonfrontasi ayahnya sendiri, Azar, secara langsung dan terang-terangan tentang penyembahan berhala, kejujuran terhadap keyakinan mendasar tidak dikecualikan bahkan untuk figur seotoritatif orang tua. Konkretnya: menyampaikan keberatan jujur tentang sesuatu yang diyakini keliru, bahkan kepada figur yang secara sosial/keluarga dihormati (orang tua, senior), adalah keberanian yang dicontohkan di sini, kedekatan hubungan tidak seharusnya membungkam kejujuran tentang hal-hal mendasar.
Penjelasan pilihan kata
Ayat pembuka kisah Ibrahim mencari Tuhan. 'Ibrahim' & 'Azar' keduanya eksplisit di Arab sendiri ('li-abiihi aazara' = kepada ayahnya, Azar): Bukan pelanggaran disiplin anti-sejarah, kontras kasus 'Qabil' 5:28 yg tak eksplisit; konsisten dengan 'Daud'/'Isa' 5:78. '(Ingatlah)' dipertahankan tanpa kurung sbg pelengkap gramatikal wajib: idiom elipsis 'wa-idz X', acuan 5:20. Kutip 'qaala' dikonfirmasi morfologi.
Tafsiran
Ayat ini membuka narasi penting Ibrahim mengonfrontasi ayahnya, Azar, atas penyembahan berhala: sebuah kritik langsung dan tegas terhadap kesesatan yang nyata.
Renungan dan Hikmah
- Ibrahim membuka bukan dengan menyebut Allah, melainkan dengan pertanyaan, 'apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan', baru sesudah itu menyampaikan penilaiannya. Urutan itu memberi ruang, sependek apa pun, untuk jawaban. Menyampaikan keberatan yang paling berat pun masih bisa dimulai dengan bertanya.
- Kalimatnya berbunyi 'sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata'. Ia menyebut apa yang ia lihat, bukan menetapkan apa yang mereka. Penilaian yang dinyatakan sebagai penglihatan sendiri meninggalkan keputusan akhirnya kepada Allah, dan tetap tidak melunakkan isinya sedikit pun.
- Kisah panjang Ibrahim mencari Tuhan dibuka bukan dengan berhadapan dengan raja atau kaumnya, melainkan dengan ayahnya sendiri. Yang paling dekat didahulukan. Orang biasanya menempuh urutan sebaliknya, berani kepada yang jauh dan diam kepada yang serumah.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar q-w-l, a-b-w, a-kh-dz, s-n-m, a-l-h, r-a-y, q-w-m, d-l-l, b-y-n): asnaam diterjemahkan 'berhala-berhala'; aalihah diterjemahkan 'tuhan-tuhan' (jamak ilaah, dijaga harfiah); dalaal mubiin diterjemahkan 'kesesatan yang nyata' (akar d-l-l putaran 78). gloss '(Ingatlah)/(pantas)' dibuang.
Ayat 6:75
وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim malakuut langit dan bumi, dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَwa-ka-dzaalika nurii ibraahiima malakuuta s-samaawaati wa-l-ardhi wa-li-yakuuna mina l-muuqiniinadan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim malakuut langit dan bumi, dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَكَذَٰلِكَwa-ka-dzaalikadan demikianlah
- نُرِيnuriiKami perlihatkan
- إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
- مَلَكُوتَmalakuutakerajaan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- وَلِيَكُونَwa-li-yakuunadan agar menjadi
- مِنَminadari
- الْمُوقِنِينَl-muuqiniinaorang-orang yang yakin
Inti bacaan
Ibrahim 'diperlihatkan malakuut langit dan bumi agar ia termasuk orang-orang yang yakin', keyakinan (yaqiin) di sini dibangun lewat pengamatan dan perenungan langsung, bukan sekadar diberitahu. Konkretnya: keyakinan yang kokoh biasanya terbangun lewat pengamatan dan perenungan aktif atas realitas di sekitar (bukan hanya menerima klaim orang lain mentah-mentah), meluangkan waktu untuk benar-benar mengamati dan merenungkan memperkuat fondasi keyakinan yang lebih tahan uji.
Penjelasan pilihan kata
'Malakuut' dipertahankan transliterasi istilah teknis teologis (kedaulatan/kerajaan tersembunyi langit-bumi) tanpa padanan tunggal Indonesia yg presisi, konsisten kalaalah/hadyu/hawariyyun. 'Dzaalika' (jauh) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'demikianlah'.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memperlihatkan kepada Ibrahim kedaulatan tersembunyi di balik langit dan bumi sebagai persiapan menuju keyakinan penuh: sebuah anugerah penglihatan batin yang mendasari pencarian tauhidnya.
Renungan dan Hikmah
- Sebelum Ibrahim mulai menimbang bintang, bulan, dan matahari, Allah sudah memperlihatkan kepadanya kerajaan langit dan bumi. Pencariannya berangkat dari sesuatu yang sudah diberikan. Yang tampak sebagai penemuan seseorang sering kali dimulai dari sesuatu yang lebih dulu diletakkan di depannya tanpa ia minta.
- Tujuan yang Allah sebutkan terang: agar ia termasuk orang-orang yang yakin. Bukan agar ia tahu, melainkan agar ia yakin. Pengetahuan dan keyakinan ternyata dua tempat yang berbeda, dan yang kedua menuntut sesuatu yang tidak bisa disampaikan lewat keterangan saja.
- Terjemahan ini membiarkan satu kata tetap dalam bentuk aslinya, sebab tak ada padanan Indonesia yang menampungnya utuh. Yang diperlihatkan kepada Ibrahim bukan pemandangan langit, melainkan kedaulatan di baliknya. Sebagian hal memang lebih jujur disebut dengan kata yang belum kita punya daripada dengan kata yang hampir tepat.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar r-a-y, m-l-k, s-m-w, a-r-d, k-w-n, y-q-n): malakuut diterjemahkan 'malakuut (kerajaan agung)', akar m-l-k (putaran MLK; bentuk intensif dari milk=penguasaan; terjemahan lain 'kekuasaan', sebagian penerjemah 'kingdom'); muuqiniin diterjemahkan 'orang-orang yang yakin' (akar y-q-n). gloss '(Kami yang terdapat)' dibuang.
Ayat 6:76
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah menjadi gelap atasnya, ia melihat sebuah bintang. Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam, ia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًاfa-lammaa janna 'alayhi l-laylu ra'aa kawkabanketika malam telah menjadi gelap atasnya, ia melihat sebuah bintang
- قَالَ هَٰذَا رَبِّيqaala haadzaa rabbiiia berkata, inilah Tuhanku
- فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَfa-lammaa afala qaala laa uhibbu l-aafiliinamaka ketika bintang itu terbenam, ia berkata, aku tidak suka kepada yang terbenam
Terjemahan per kata (15 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- جَنَّjannagelap
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- اللَّيْلُl-laylumalam
- رَأَىٰra'aamelihat
- كَوْكَبًاkawkabanbintang
- قَالَqaalaberkata
- هَٰذَاhaadzaaini
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- أَفَلَafalaterbenam
- قَالَqaalaberkata
- لَاlaatidak
- أُحِبُّuhibbuaku mencintai
- الْآفِلِينَl-aafiliinayang terbenam
Inti bacaan
Ibrahim menguji bintang sebagai calon 'Tuhan', lalu menolaknya begitu ia 'terbenam', 'aku tidak suka kepada yang terbenam' menjadi kriteria eksplisit: apa pun yang bersifat sementara/hilang tidak layak jadi objek keyakinan tertinggi. Konkretnya: metode Ibrahim ini bisa dipraktikkan langsung, saat menaruh harapan/kepercayaan besar pada sesuatu (kekayaan, jabatan, popularitas), uji dulu apakah ia bersifat permanen atau fana; sesuatu yang pasti 'terbenam' cepat atau lambat bukan fondasi yang layak jadi sandaran utama.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian pencarian Ibrahim menemukan Tuhan sejati: mula-mula menduga bintang sebagai Tuhan, namun segera menolaknya begitu bintang itu terbenam, karena ia tidak menyukai sesuatu yang fana dan lenyap.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam Ibrahim mulai dari bintang di malam gelap. Yang paling menonjol saat itu. Pencarian yang jujur memang mulai dari kandidat yang paling meyakinkan.
- Ukuran yang ia pakai bukan besar atau indahnya, melainkan apakah ia terbenam. Satu ujian sederhana. Yang datang dan pergi tidak bisa menjadi tempat bergantung yang tetap.
- Allah merekam kesimpulannya dalam satu kalimat pendek. Tidak ada bantahan panjang. Yang gugur bukan oleh perdebatan, melainkan oleh satu kenyataan yang bisa dilihat semua orang.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Hbb per konvensi ('mencintai' seragam; negasi tegas); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi Hbb: 'mencintai/cinta' seragam termasuk NEGASI (laa yuhibbu diterjemahkan 'tidak mencintai', pelunakan 'tidak menyukai' terjemahan lain dibongkar); biji pemakaian diteruskan. hubb/mahabbah = cinta; cabang kedua habb/habbah = biji (per corpus).
Ayat 6:77
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
Maka ketika ia melihat bulan terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bulan itu terbenam, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّيfa-lammaa ra'aa l-qamara baazighan qaala haadzaa rabbiimaka ketika ia melihat bulan terbit, ia berkata, inilah Tuhanku
- فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَfa-lammaa afala qaala la-in lam yahdinii rabbii la-akuunanna mina l-qawmi dh-dhaalliinamaka ketika bulan itu terbenam, ia berkata, sungguh jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk kaum yang sesat
Terjemahan per kata (18 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- رَأَىra'aamelihat
- الْقَمَرَl-qamarabulan
- بَازِغًاbaazighanterbit
- قَالَqaalaberkata
- هَٰذَاhaadzaaini
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- أَفَلَafalaterbenam
- قَالَqaalaberkata
- لَئِنْla-insungguh jika
- لَمْlamtidak
- يَهْدِنِيyahdiniimemberiku petunjuk
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- لَأَكُونَنَّla-akuunannasungguh aku akan menjadi
- مِنَminadari
- الْقَوْمِl-qawmikaum
- الضَّالِّينَdh-dhaalliinaorang-orang yang tersesat
Inti bacaan
Pola yang sama diulang pada bulan, 'jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk kaum yang sesat', pencarian Ibrahim disertai kerendahan hati mengakui butuh petunjuk, bukan mengklaim kepastian dari usahanya sendiri semata. Konkretnya: dalam proses mencari kebenaran/jawaban penting dalam hidup, kombinasi antara usaha aktif menyelidiki dan kerendahan hati mengakui keterbatasan diri (butuh bimbingan dari luar) lebih produktif daripada mengandalkan kepastian diri sendiri semata.
Penjelasan pilihan kata
'Haadzaa' (dekat) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'inilah'. Kutip 'qaala'×2 dikonfirmasi morfologi.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan pencarian Ibrahim dengan episode bulan: pola yang sama berulang, kekaguman awal diikuti kekecewaan begitu bulan terbenam, disertai kerendahan hati mengakui kebutuhan akan petunjuk Tuhan yang sejati.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah bulan terbenam, yang ia ucapkan bukan kesimpulan tentang bulan, melainkan pengakuan bahwa ia membutuhkan petunjuk dari Allah. Pencariannya berbelok ke dalam. Orang yang sedang menyelidiki dan sanggup menyebut batas dirinya sendiri jarang tersesat lama.
- Episode ini mengulang bentuk yang sama dengan sebelumnya: terbit, disebut Tuhanku, lalu terbenam. Pengulangan itu disengaja. Yang hendak ditunjukkan bukan satu kekeliruan, melainkan sebuah cara memeriksa yang dijalankan sampai tuntas.
- Kalimatnya menyebut pastilah aku termasuk kaum yang sesat. Allah merekam kekhawatiran itu dalam bentuk jamak. Yang ia takutkan bukan keliru sendirian, melainkan ikut hanyut bersama orang banyak tanpa pernah memeriksanya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar r-a-y, q-m-r, b-z-gh, q-w-l, r-b-b, a-f-l, h-d-y, k-w-n, q-w-m, d-l-l): baazigh diterjemahkan 'terbit'; afala diterjemahkan 'terbenam'; yahdi diterjemahkan 'memberi petunjuk' (akar h-d-y HDY); daalliin diterjemahkan 'sesat' (akar d-l-l putaran 78). gloss '(kepada kaumnya)' dibuang.
Ayat 6:78
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Maka ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Maka ketika matahari terbenam, ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُfa-lammaa ra'aa sy-syamsa baazighatan qaala haadzaa rabbii haadzaa akbarumaka ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, inilah Tuhanku, ini lebih besar
- فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَfa-lammaa afalat qaala yaa qawmi innii barii'un mimmaa tusyrikuunamaka ketika matahari terbenam, ia berkata, wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan
Terjemahan per kata (18 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- رَأَىra'aamelihat
- الشَّمْسَsy-syamsamatahari
- بَازِغَةًbaazighatanterbit
- قَالَqaalaberkata
- هَٰذَاhaadzaaini
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- هَٰذَاhaadzaaini
- أَكْبَرُakbarulebih besar
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- أَفَلَتْafalatterbenam
- قَالَqaalaberkata
- يَاyaawahai
- قَوْمِqawmikaumku
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- بَرِيءٌbarii'unberlepas diri
- مِمَّاmimmaadari apa yang
- تُشْرِكُونَtusyrikuunakalian mempersekutukan
Inti bacaan
Puncak pengujian pada matahari ('ini lebih besar') tetap berujung sama: begitu terbenam, Ibrahim menyatakan pelepasan total, 'aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan'. Konkretnya: bahkan kandidat paling mengesankan sekalipun tetap tunduk pada kriteria yang sama, semakin besar/mengesankan sesuatu yang fana, semakin besar pula godaan untuk salah menempatkannya sebagai sandaran utama, sehingga kriteria konsistensi dalam menilai (bukan terpukau ukuran) tetap perlu dipegang teguh.
Tafsiran
Ayat ini menutup trilogi pencarian: matahari yang tampak paling besar pun akhirnya terbenam, memuncak pada deklarasi terbuka Ibrahim kepada kaumnya bahwa ia berlepas diri dari segala bentuk kemusyrikan mereka.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam Ibrahim menyebut matahari lebih besar, lalu ia pun terbenam. Yang paling besar diuji terakhir. Ujiannya sama seperti sebelumnya, dan hasilnya sama.
- Allah merekam ia berpaling kepada kaumnya: aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan. Bukan disimpan sendiri. Pencarian pribadi berakhir pada pernyataan terbuka.
- Allah merekam ia tidak membantah tiap sesembahan satu per satu. Cukup satu ujian untuk semuanya. Yang meruntuhkan sederet keyakinan kadang satu pertanyaan yang berlaku pada semua.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) pemakaian diteruskan; per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan belum diputuskan. contr. keluarga memuat 'leluhur terbesar, atau tertua' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif.
Ayat 6:79
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًاinnii wajjahtu wajhiya li-lladzii fathara s-samaawaati wa-l-ardha haniifansesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan lurus
- وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَwa-maa anaa mina l-musyrikiinadan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik
Terjemahan per kata (12 kata)
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- وَجَّهْتُwajjahtuaku hadapkan
- وَجْهِيَwajhiyawajahku
- لِلَّذِيli-lladziibagi yang
- فَطَرَfatharamenciptakan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- حَنِيفًاhaniifanyang lurus
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- أَنَاanaaaku
- مِنَminadari
- الْمُشْرِكِينَl-musyrikiinaorang-orang musyrik
Inti bacaan
Kesimpulan pencarian Ibrahim: 'menghadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan lurus (haniif)', orientasi total dan langsung kepada Pencipta, setelah proses eliminasi sistematis atas segala yang fana. Konkretnya: pencarian keyakinan yang matang idealnya melalui proses eliminasi yang jujur (menguji dan menyingkirkan yang terbukti tidak layak) sebelum sampai pada orientasi akhir yang mantap, kemantapan yang dibangun lewat proses semacam ini lebih kokoh daripada keyakinan yang diwarisi tanpa pernah diuji sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menutup deklarasi tauhid Ibrahim: penyerahan diri total kepada Pencipta langit dan bumi dalam kelurusan murni, secara tegas menolak segala bentuk kemusyrikan.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam Ibrahim menghadapkan wajahnya kepada yang menciptakan langit dan bumi. Sesudah bintang, bulan, dan matahari gugur satu per satu. Yang tersisa bukan salah satu dari yang terlihat, melainkan Yang membuatnya.
- Yang ia sebut bukan nama, melainkan sifat: yang menciptakan langit dan bumi. Perbedaannya penting di hadapan kaum yang punya banyak nama. Yang menentukan bukan sebutannya, melainkan apa yang dikerjakannya.
- Allah merekam ia menyebut dirinya lurus dan bukan termasuk orang musyrik. Dua-duanya dinyatakan. Sesudah perjalanan mencari yang panjang, yang diumumkan bukan penemuannya melainkan pendiriannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar w-j-h, f-t-r, s-m-w, a-r-d, h-n-f, sh-r-k): wajjahtu wajhiya diterjemahkan 'aku menghadapkan wajahku', akar w-j-h (putaran WJH, harfiah); fatara diterjemahkan 'menciptakan (dari asal-mula)' (akar f-t-r putaran FTR); haniif diterjemahkan 'lurus/condong ke kebenaran' (akar h-n-f putaran HNF; terjemahan lain 'agama yang lurus'). gloss '(hanya)/(mengikuti)/(agama)' dibuang.