فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah menjadi gelap atasnya, ia melihat sebuah bintang. Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam, ia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًاfa-lammaa janna alayhi l-laylu ra'aa kawkabanketika malam telah menjadi gelap atasnya, ia melihat sebuah bintang
- قَالَ هَٰذَا رَبِّيqaala haadzaa rabbiiia berkata, inilah Tuhanku
- فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَfa-lammaa afala qaala laa uhibbu l-aafiliinamaka ketika bintang itu terbenam, ia berkata, aku tidak suka kepada yang terbenam
Catatan pilihan kata (ringkas)
Hbb per konvensi ('mencintai' seragam; negasi tegas); per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi Hbb: 'mencintai/cinta' seragam termasuk NEGASI (laa yuhibbu diterjemahkan 'tidak mencintai', pelunakan 'tidak menyukai' terjemahan lain dibongkar); biji passthrough. Lih.. sebagian penerjemah: 'Then when the night covered him, he saw a star. He said: “This is my Lord.” Then when it set1 he said: “I love not those that set.”2' h-b-b: verba habba/ahabba = mencintai; hubb/mahabbah = cinta; cabang kedua habb/habbah = biji (per corpus).
Aplikasi
Ibrahim menguji bintang sebagai calon 'Tuhan', lalu menolaknya begitu ia 'terbenam', 'aku tidak suka kepada yang terbenam' menjadi kriteria eksplisit: apa pun yang bersifat sementara/hilang tidak layak jadi objek keyakinan tertinggi. Konkretnya: metode Ibrahim ini bisa dipraktikkan langsung, saat menaruh harapan/kepercayaan besar pada sesuatu (kekayaan, jabatan, popularitas), uji dulu apakah ia bersifat permanen atau fana; sesuatu yang pasti 'terbenam' cepat atau lambat bukan fondasi yang layak jadi sandaran utama.