فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Maka ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Maka ketika matahari terbenam, ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُfa-lammaa ra'aa sh-shamsa baazighatan qaala haadzaa rabbii haadzaa akbarumaka ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, inilah Tuhanku, ini lebih besar
- فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَfa-lammaa afalat qaala yaa qawmi innii barii'un mimmaa tushrikuunamaka ketika matahari terbenam, ia berkata, wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan
Catatan pilihan kata (ringkas)
keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) passthrough; per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan pending. Lih.. of saghiir, but see azhiim'; keluarga memuat 'the greatest, or oldest, ancestor' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif.
Aplikasi
Puncak pengujian pada matahari ('ini lebih besar') tetap berujung sama: begitu terbenam, Ibrahim menyatakan pelepasan total, 'aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan'. Konkretnya: bahkan kandidat paling mengesankan sekalipun tetap tunduk pada kriteria yang sama, semakin besar/mengesankan sesuatu yang fana, semakin besar pula godaan untuk salah menempatkannya sebagai sandaran utama, sehingga kriteria konsistensi dalam menilai (bukan terpukau ukuran) tetap perlu dipegang teguh.