وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan itulah hujah Kami yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu penuh hikmah lagi berilmu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِwa-tilka hujjatunaa aataynaahaa ibraahiima 'alaa qawmihidan itulah hujah Kami yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya
  2. نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُnarfa'u darajaatin man nasyaa'uKami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki
  3. إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌinna rabbaka hakiimun 'aliimunsesungguhnya Tuhanmu penuh hikmah lagi berilmu

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَتِلْكَwa-tilkadan itulah
  2. حُجَّتُنَاhujjatunaahujah Kami
  3. آتَيْنَاهَاaataynaahaaKami memberikannya
  4. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  5. عَلَىٰ'alaaatas
  6. قَوْمِهِqawmihikaumnya
  7. نَرْفَعُnarfa'uKami mengangkat
  8. دَرَجَاتٍdarajaatinderajat
  9. مَنْmanorang yang
  10. نَشَاءُnasyaa'uKami kehendaki
  11. إِنَّinnasesungguhnya
  12. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  13. حَكِيمٌhakiimunbijaksana
  14. عَلِيمٌ'aliimunberilmu

Inti bacaan

Hujah yang diberikan kepada Ibrahim disebut sebagai anugerah ('Kami anugerahkan'), dan diikuti prinsip 'Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat', kapasitas bernalar dan berargumen dengan baik dipandang sebagai karunia yang bisa ditingkatkan, bukan bakat tetap. Konkretnya: kemampuan menyusun argumen yang kokoh dan meyakinkan adalah keterampilan yang bisa terus diasah dan ditingkatkan (bukan sesuatu yang seseorang 'punya atau tidak' secara tetap), investasi dalam belajar bernalar dengan baik layak dianggap sebagai pengembangan diri yang bernilai.

Penjelasan pilihan kata

Ayat penutup kisah Ibrahim mencari Tuhan (6:74-83). 'Tilka' (jauh, feminin) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'itulah'.

Tafsiran

Ayat ini menutup kisah Ibrahim dengan menegaskan bahwa seluruh argumen dan hujah yang ia sampaikan kepada kaumnya adalah anugerah langsung dari Allah: sebuah pengangkatan derajat bagi siapa yang Dia kehendaki.

Renungan dan Hikmah

  • Seluruh penalaran panjang Ibrahim tentang bintang, bulan, dan matahari ditutup Allah dengan menyebutnya 'hujah Kami yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim'. Kepandaian berargumen itu pemberian. Yang paling mudah diklaim seseorang sebagai miliknya sendiri memang kemampuan berpikirnya.
  • Allah berfirman 'Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki'. Bentuknya dinaikkan, bukan dicapai. Perbedaan itu menentukan sikap orang yang sudah sampai di kedudukan tertentu terhadap orang yang belum.
  • Dua nama menutup ayat ini: penuh hikmah, lalu berilmu. Yang disebut lebih dulu hikmah, bukan pengetahuan. Untuk kalimat tentang siapa yang ditinggikan dan siapa yang tidak, urutan itu menjawab keberatan yang paling mungkin muncul: bahwa pemilihannya punya alasan, bukan cuma punya dasar pengetahuan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'penuh hikmah' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan). KBBI: hujah='(Ar) tanda; bukti; alasan'; berhujah='mengajukan alasan-alasan', bersih, mempertahankan akar ('membantah'=KBBI 'menolak'=geser makna). akar h-j-j inti = 'menuju-sengaja / mengarah ke sasaran (قَصَدَ) utk mencapai atau MENGALAHKAN'. hujjah disebut demikian '*li-annahaa tuhajju, i.e. tuqsadu' (=diarahkan/dituju), kata qasada yang SAMA yang mendefinisikan hajj (menuju Rumah). Maka: haji=menuju-sengaja ke Rumah · hujah=bukti yang diarahkan utk mengalahkan lawan · berhujah=saling-mengarahkan bukti. 6:149 lillaahi l-hujjatu l-baalighatu='milik Allah hujah yang tuntas' menyambung tugas pembaca haatuu burhaanakum. Nilai terpuji/tercela dari OBJEK bukan kata (pola jabbaar/mutakabbir): berhujah ttg kebenaran (terpuji) vs berhujah ttg Allah setelah dijawab (42:16 tercela). Dossier ****.