لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia menjangkau segala penglihatan. Dialah yang halus lagi waskita.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَlaa tudrikuhu l-abshaaru wa-huwa yudriku l-abshaaraDia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia menjangkau segala penglihatan
  2. وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُwa-huwa l-lathiifu l-khabiirudan Dialah yang halus lagi waskita

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. تُدْرِكُهُtudrikuhumencapai-Nya
  3. الْأَبْصَارُl-abshaarupenglihatan
  4. وَهُوَwa-huwasedangkan Dia
  5. يُدْرِكُyudrikumencapai
  6. الْأَبْصَارَl-abshaarapenglihatan
  7. وَهُوَwa-huwadan Dialah
  8. اللَّطِيفُl-lathiifuMahalembut
  9. الْخَبِيرُl-khabiiruYang Maha Teliti

Inti bacaan

Asimetri yang ditegaskan, 'Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan, sedangkan Dia menjangkau segala penglihatan', menunjukkan bahwa yang mengetahui/mengamati segalanya tidak harus dirinya sendiri bisa diamati langsung secara utuh. Konkretnya: menerima bahwa ada batas alami pada apa yang bisa dipahami secara langsung dan menyeluruh (baik tentang hal transenden maupun kompleksitas dunia pada umumnya) adalah kerendahan hati epistemik yang sehat, banyak hal tetap bisa dipahami lewat efek/tandanya meski sumbernya sendiri tidak sepenuhnya terjangkau.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian penegasan tauhid dengan menyatakan bahwa Allah tidak dapat dijangkau oleh penglihatan manusia, sementara Dia sendiri menjangkau segala penglihatan: Dialah yang halus dalam pengetahuan-Nya atas hal terkecil sekalipun dan waspada atas segala sesuatu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut dua arah yang tidak seimbang: Dia tidak terjangkau penglihatan, dan Dia menjangkau segala penglihatan. Kalimat yang sama dipakai bolak-balik. Yang membaca diminta menerima bahwa hubungan itu memang tidak pernah setara.
  • Yang disebut dijangkau bukan orangnya, melainkan penglihatan mereka. Yang diamati justru alat untuk mengamati. Ada pengamatan yang bukan tentang apa yang dikerjakan seseorang, melainkan tentang apa yang sedang ia cari.
  • Dua sebutan di penutup: halus, dan waskita. Yang pertama tentang sampai ke hal terkecil, yang kedua tentang tak ada yang terlewat. Allah menutup ayat tentang ketakterjangkauan dengan dua sifat yang justru berbicara tentang kedekatan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

al-latiifu l-KHABIiR (takrif): 'Yang Maha Halus lagi Yang Waskita', latiif BELUM dibedah, 'Maha Halus' sementara; register campur terdokumentasi. Konvensi xbr: khabiir diterjemahkan 'waskita' (45 ayat, SEMUA utk Allah; 39 indefinit diterjemahkan kecil tanpa Maha, 6 takrif diterjemahkan 'Sang Waskita'); khabar/akhbaar diterjemahkan 'kabar/berita' (kata serapan akar); khubr pemakaian diteruskan+catatan. Pembeda: aliim diterjemahkan 'berilmu' (formula aliimun khabiir 4× kini 'berilmu lagi waskita'); terjemahan lain MEMBELAH lema (Teliti 36 / Mengetahui-Mengenal 9). Kolisi mati terdokumentasi: batin (b-t-n 57:3), mengenal (-r-f), duga (=zhann!). makna kedua 'TRIED, TESTED, proved by EXPERIENCE'; khabiir = 'pengetahuan luas atas perkara batin, seperti shahiid atas perkara lahir'; Jangkar: khabiir = petani penggarap.