وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu dari jalan Allah; mereka hanya mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah menduga-duga.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِwa-in tuthi' aktsara man fii l-ardhi yudhilluuka 'an sabiili llaahidan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu dari jalan Allah
- إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَin yattabi'uuna illaa zh-zhanna wa-in hum illaa yakhrushuunamereka hanya mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah menduga-duga
Terjemahan per kata (18 kata)
- وَإِنْwa-indan jika
- تُطِعْtuthi'engkau menaati
- أَكْثَرَaktsarakebanyakan
- مَنْmanorang yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- يُضِلُّوكَyudhilluukamereka menyesatkanmu
- عَنْ'andari
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- إِنْinjika
- يَتَّبِعُونَyattabi'uunamereka mengikuti
- إِلَّاillaakecuali
- الظَّنَّzh-zhannasangkaan
- وَإِنْwa-indan jika
- هُمْhummereka
- إِلَّاillaakecuali
- يَخْرُصُونَyakhrushuunamereka mengira-ngira
Inti bacaan
Peringatan eksplisit: 'jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu. mereka hanya mengikuti persangkaan dan menduga-duga', jumlah/mayoritas secara eksplisit ditolak sebagai penentu kebenaran. Konkretnya: mengikuti pendapat mayoritas semata-mata karena itu mayoritas (bukan karena diperiksa dasarnya) adalah metode yang secara eksplisit diperingatkan di sini sebagai berisiko menyesatkan, sebelum mengikuti arus umum, tanyakan dasar konkretnya, bukan sekadar berapa banyak orang yang mempercayainya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut jumlah lebih dahulu, lalu menyatakan jumlah itu tak berarti apa-apa sebagai ukuran.
Yang disebut bukan sebagian orang, melainkan “kebanyakan orang di bumi” (أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ, aktsara man fi l-ardhi). Justru yang terbanyak itulah yang disebut menyesatkan. Peringatan ini melawan kebiasaan berpikir yang paling wajar pada manusia, yaitu menganggap banyaknya orang sebagai tanda benarnya sesuatu.
Alasan yang diberikan bukan bahwa mereka berdusta, melainkan bahwa mereka mengikuti “persangkaan” (الظَّنَّ, azh-zhanna). Kata yang sama dipakai di tempat lain dengan ukuran yang tegas, yaitu bahwa dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran (10:36). Yang menyesatkan di sini bukan sesuatu yang jelas keliru, melainkan sesuatu yang belum diperiksa, dan hal semacam itu bisa dianut siapa saja tanpa niat buruk sedikit pun.
Kalimatnya lalu mengulang gagasan yang sama dengan kata lain, “menduga-duga” (يَخْرُصُونَ, yakhrushuuna). Kata itu muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (6:116, 10:66, 43:20), dan ketiganya dipakai untuk orang yang berbicara tentang Allah atau tentang sekutu-sekutu tanpa pengetahuan. Pengulangan di dalam satu ayat ini tampaknya disengaja: yang beredar sebagai pengetahuan bersama ternyata dugaan yang dibagikan bersama.
Rangkaian yang menyebut akibatnya pun tak terulang. Susunan “mereka menyesatkanmu dari jalan Allah” (يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ, yudhilluuka 'an sabiili llaahi) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Yang disebut bukan mereka membuatmu salah, melainkan mereka membuatmu tersesat dari sebuah jalan. Gambaran jalan mengandaikan arah yang sudah ada, sehingga tersesat berarti berpindah dari sesuatu, bukan sekadar tidak sampai.
Kata kerja pembukanya juga bukan kata untuk mendengarkan atau mempertimbangkan, melainkan menaati. Yang dibicarakan bukan larangan mendengar pendapat orang banyak, melainkan larangan menjadikannya dasar. Perbedaan itu menyelamatkan ayat ini dari pembacaan yang menutup diri: memeriksa pendapat orang lain tidak dilarang, menjadikannya patokan yang dilarang.
Dua kata yang dipakai untuk keadaan mereka, yaitu persangkaan dan menduga-duga, berasal dari medan yang sama tetapi tidak sama persis. Yang pertama menunjuk dugaan yang dipegang, yang kedua menunjuk perbuatan mengarang perkiraan. Yang satu keadaan, yang satu kegiatan. Menyebut keduanya berturut-turut menutup kemungkinan berkelit bahwa yang dimaksud hanya salah satunya.
Ukuran yang dipakai di sini bertemu dengan ukuran di tempat lain. Di 10:36 dugaan dinyatakan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran, dan di 53:28 ukuran yang sama diberlakukan untuk perkara gaib. Tiga tempat, satu ukuran, dan di sini ukuran itu dihubungkan dengan jumlah pengikut. Yang ditolak bukan cuma dugaannya, melainkan juga anggapan bahwa banyaknya pemegang bisa memperbaikinya.
Tafsiran
Ayat ini memperingatkan bahwa mengikuti mayoritas bukan jaminan kebenaran, karena kebanyakan manusia hanya berpegang pada persangkaan dan dugaan tanpa dasar yang pasti. Yang membuat peringatan ini berat, ia melawan naluri berpikir yang paling wajar pada manusia.
Mengikuti orang banyak bukan kebodohan. Ia cara bertahan hidup yang masuk akal dan biasanya berhasil, sebab pengetahuan bersama memang sering lebih baik daripada pengetahuan seorang. Ayat ini tidak menyangkal hal itu; ia menyatakan bahwa pada satu perkara tertentu cara itu tidak berlaku, dan alasannya disebutkan: karena dasar yang dipegang orang banyak itu sendiri belum diperiksa.
Pilihan kata untuk apa yang mereka ikuti menjaga ayat ini dari nada menuduh. Yang disebut bukan kebohongan dan bukan kejahatan, melainkan persangkaan. Sesuatu yang bisa dipegang orang jujur, diwariskan dengan tulus, dan dipertahankan tanpa niat buruk sedikit pun. Justru itu yang membuatnya sulit ditinggalkan: tidak ada rasa bersalah yang menyertainya dan tidak ada tanda yang memberi peringatan.
Ukuran yang sama muncul di dua tempat lain dengan medan yang berbeda, yaitu 10:36 untuk keyakinan pada umumnya dan 53:28 untuk perkara gaib. Tiga tempat, satu ukuran, dan angkanya nol di ketiganya. Yang khas pada ayat ini, ukuran itu dihubungkan dengan jumlah. Yang ditolak bukan hanya dugaan sebagai dasar, melainkan juga anggapan diam-diam bahwa banyaknya orang yang memegang sesuatu bisa menutupi kekurangan dasarnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut menaati kebanyakan orang di bumi menyesatkan dari jalan-Nya. Kebanyakan, bukan sebagian. Yang paling banyak diikuti orang bukan ukuran benar. Kalimat ini menutup satu cara menimbang yang paling banyak dipakai orang di segala zaman, yaitu menimbang benar salah dengan menghitung berapa banyak yang memilihnya. Yang perlu diperhatikan, ayat ini tidak berkata bahwa yang banyak selalu salah. Ia berkata bahwa mengikuti mereka menyesatkan, dan sebabnya disebutkan di kalimat berikutnya. Yang dipersoalkan bukan jumlahnya melainkan dasar yang mereka pakai.
- Alasan yang Allah sebut: mereka mengikuti persangkaan. Bukan kebohongan. Yang menyesatkan sesuatu yang belum diperiksa, dan itu bisa dianut siapa saja tanpa niat buruk. Kata yang dipakai bukan kata untuk dusta. Persangkaan bukan kebohongan; ia dugaan yang belum diperiksa, dan orang yang mengikutinya bisa sepenuhnya tulus. Apa yang membuatnya berbahaya kalau begitu? Justru ketulusannya. Kebohongan bisa dibongkar dengan bukti, sedangkan dugaan yang dipegang dengan tulus tidak merasa perlu diperiksa oleh siapa pun.
- Kalimatnya ditutup dengan mengulang gagasan yang sama dengan kata lain. Pengulangan itu disengaja. Yang dianggap pengetahuan bersama ternyata dugaan yang dibagikan bersama. Kata penutupnya (يَخْرُصُونَ) muncul di tiga ayat, yaitu 6:116, 10:66, dan 43:20, dan di ketiganya ia menutup gambaran tentang orang yang berbicara tentang Allah tanpa dasar. Jadi kata ini tidak pernah dipakai untuk dugaan dalam perkara sehari-hari; ia disimpan untuk dugaan yang dijadikan sandaran dalam perkara yang paling menentukan.
- Allah menyebut kebanyakan orang di bumi justru menyesatkan, dan alasannya bukan mereka berdusta, melainkan mereka mengikuti persangkaan. Mana bagian dari yang kita yakini hari ini yang sebenarnya kita pegang semata karena hampir semua orang di sekitar kita memegangnya juga? Ada satu hal yang tidak dilakukan ayat ini, dan itu perlu disebut. Ia tidak menyuruh menentang kebanyakan orang, dan tidak menganjurkan mencari pendapat yang paling jarang dipegang. Yang dilarang cuma satu, yaitu menjadikan jumlah sebagai alasan untuk ikut. Kalau yang banyak kebetulan benar, mengikutinya bukan kesalahan; yang salah adalah mengikutinya karena banyak.
- Kalimat sependek ini memakai kata pembatas dua kali berturut-turut, sekali untuk menyatakan bahwa mereka hanya mengikuti persangkaan dan sekali lagi untuk menyatakan bahwa mereka hanyalah menduga-duga. Pengulangan pembatas seperti itu tidak menambah keterangan baru; ia menutup celah. Celah apa? Kemungkinan bahwa selain persangkaan ada juga sedikit dasar lain yang mereka pegang. Allah menutup kemungkinan itu dua kali dalam satu napas, dan sesudah itu tidak ada lagi yang tersisa untuk ditimbang dari pihak mereka.
- Yang disebut sebagai tujuan penyesatan itu bukan kebenaran secara umum, melainkan jalan Allah. Pilihan kata itu membawa gambaran yang berbeda. Kebenaran adalah sesuatu yang dipegang, dan kehilangan pegangan masih menyisakan orangnya berdiri di tempat. Jalan adalah sesuatu yang ditempuh, dan tersesat dari jalan berarti tetap berjalan, cuma ke arah yang lain. Orang yang tersesat dengan cara ini tidak berhenti bergerak, dan justru geraknya yang membuatnya sukar menyadari.