ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ
Demikian itu karena Tuhanmu tidak membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya lalai.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَdzaalika an lam yakun rabbuka muhlika l-quraa bizhulmin wa-ahluhaa ghaafiluunademikian itu karena Tuhanmu tidak membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya lalai
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar k-w-n, r-b-b, h-l-k, q-r-y, zh-l-m, a-h-l, gh-f-l): muhlik al-quraa diterjemahkan 'membinasakan negeri-negeri' (akar h-l-k); bi-zhulm diterjemahkan 'secara zalim'; ghaafiluun diterjemahkan 'lalai (belum diperingatkan)' (akar gh-f-l). gloss '(pengutusan para rasul)/(mereka)' dibuang.
Aplikasi
Prinsip keadilan eksplisit: 'Tuhanmu tidak membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya lalai', konsekuensi berat tidak pernah dijatuhkan tanpa peringatan yang cukup terlebih dahulu. Konkretnya: menuntut akuntabilitas atas kesalahan yang belum pernah diperingatkan/diberi tahu jelas sebelumnya adalah tidak adil, prinsip ini berlaku juga dalam relasi manusia: berikan peringatan dan kejelasan yang cukup sebelum menegakkan konsekuensi berat, jangan menghukum kelalaian yang belum pernah disadarkan.