وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan Dialah yang menumbuhkan kebun-kebun tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, dan tanaman yang beraneka rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Makanlah buahnya apabila ia berbuah, dan berikanlah haknya pada waktu memetik hasilnya, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍwa-huwa lladzii ansya'a jannaatin ma'ruusyaatin wa-ghayra ma'ruusyaatin wa-n-nakhla wa-z-zar'a mukhtalifan ukuluhu wa-z-zaytuuna wa-r-rummaana mutasyaabihan wa-ghayra mutasyaabihindan Dialah yang menumbuhkan kebun-kebun tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, dan tanaman yang beraneka rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa
- كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِkuluu min tsamarihi idzaa atsmara wa-aatuu haqqahu yawma hashaadihimakanlah buahnya apabila ia berbuah, dan berikanlah haknya pada waktu memetik hasilnya
- وَلَا تُسْرِفُواwa-laa tusrifuudan janganlah berlebih-lebihan
- إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَinnahu laa yuhibbu l-musrifiinasesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan
Terjemahan per kata (31 kata)
- وَهُوَwa-huwadan Dialah
- الَّذِيlladziiyang
- أَنْشَأَansya'amenumbuhkan
- جَنَّاتٍjannaatintaman-taman
- مَعْرُوشَاتٍma'ruusyaatinyang berjunjung
- وَغَيْرَwa-ghayradan bukan
- مَعْرُوشَاتٍma'ruusyaatinyang berjunjung
- وَالنَّخْلَwa-n-nakhladan pohon kurma
- وَالزَّرْعَwa-z-zar'adan tanaman
- مُخْتَلِفًاmukhtalifanyang berbeda
- أُكُلُهُukuluhubuahnya
- وَالزَّيْتُونَwa-z-zaytuunadan zaitun
- وَالرُّمَّانَwa-r-rummaanadan delima
- مُتَشَابِهًاmutasyaabihanyang serupa
- وَغَيْرَwa-ghayradan bukan
- مُتَشَابِهٍmutasyaabihinyang serupa
- كُلُواkuluumakanlah kalian
- مِنْmindari
- ثَمَرِهِtsamarihibuahnya
- إِذَاidzaaapabila
- أَثْمَرَatsmaraberbuah
- وَآتُواwa-aatuudan berikanlah kalian
- حَقَّهُhaqqahuhaknya
- يَوْمَyawmahari
- حَصَادِهِhashaadihimemanennya
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تُسْرِفُواtusrifuukalian berlebihan
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- لَاlaatidak
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- الْمُسْرِفِينَl-musrifiinaorang-orang yang melampaui batas
Inti bacaan
Instruksi terstruktur: 'makanlah buahnya. berikanlah haknya pada waktu memetik hasilnya. janganlah berlebih-lebihan', menikmati kelimpahan, membagikan sebagiannya, dan menahan diri dari berlebihan disatukan sebagai satu paket etika, bukan tiga hal terpisah. Konkretnya: menikmati hasil kerja/kelimpahan yang diperoleh, sambil aktif menyisihkan sebagian untuk yang berhak dan tetap menjaga kesederhanaan, adalah tiga kebiasaan yang seharusnya berjalan bersamaan, bukan dipilih salah satu saja.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini mendaftar tumbuhan dengan cermat, lalu memberi tiga perintah yang berurutan.
Daftarnya sengaja memuat dua sisi sekaligus: yang merambat dan yang tidak, yang serupa dan yang tidak serupa. Perbedaan tidak disebut sebagai penyimpangan, dan kemiripan tidak disebut sebagai keutamaan. Keduanya sama-sama disebut sebagai hasil dari satu pekerjaan yang sama.
Perintahnya tiga, dan urutannya berarti. Makanlah buahnya. Berikanlah haknya. Jangan berlebih-lebihan. Yang menikmati disebut lebih dahulu daripada yang diwajibkan, sehingga kewajiban itu datang kepada orang yang sudah dipersilakan, bukan kepada orang yang ditahan.
Waktunya ditetapkan dengan tepat: “pada waktu memetik hasilnya” (يَوْمَ حَصَادِهِ, yawma hashaadihi). Ungkapan itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Haknya tidak ditunda sampai hasil panen dihitung, dijual, atau disisihkan dari keperluan sendiri. Ia disebut jatuh pada hari yang sama dengan hari memetiknya.
Larangan berlebih-lebihan ditaruh paling akhir, sesudah izin makan dan sesudah perintah memberi. Letaknya membuat batas itu berlaku dua arah, yaitu pada yang menikmati dan juga pada yang menunaikan.
Kata kerja pembukanya tak terulang dalam susunan ini. Rangkaian “yang menumbuhkan kebun-kebun” (أَنْشَأَ جَنَّاتٍ, ansya'a jannaatin) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan memunculkan sesuatu dan membesarkannya bertahap, bukan dengan mengadakan sekaligus. Kata itu juga dipakai untuk pertumbuhan manusia, sehingga tumbuhan dan manusia diberi kata kerja yang sama untuk cara mereka menjadi ada.
Daftar tumbuhannya disusun berpasangan, dan tiap pasangan memuat kedua sisinya. Yang merambat dan yang tidak. Yang serupa dan yang tidak serupa. Cara mendaftar seperti ini bukan cara yang biasa dipakai untuk memuji keragaman; ia cara yang dipakai untuk menutup golongan. Tidak ada tumbuhan yang berada di luar daftar itu, sebab tiap kemungkinan disebut bersama lawannya.
Tiga perintah yang menyusul disusun dalam urutan yang tidak biasa. Yang pertama izin menikmati, yang kedua kewajiban memberi, yang ketiga batas bagi keduanya. Kebanyakan aturan menyebut kewajiban lebih dahulu, lalu memberi kelonggaran. Di sini urutannya dibalik, dan pembalikan itu mengubah kedudukan orang yang menerimanya: ia bukan orang yang ditahan lalu dilonggarkan, melainkan orang yang dipersilakan lalu diingatkan.
Larangan berlebih-lebihan di ujungnya pun tidak dibatasi pada salah satu dari dua perintah sebelumnya. Letaknya sesudah keduanya membuatnya berlaku pada keduanya. Berlebihan dalam menikmati dan berlebihan dalam memberi sama-sama masuk ke dalam jangkauannya, dan yang kedua jarang terpikirkan sebagai pelanggaran.
Tafsiran
Ayat ini menunjukkan keragaman ciptaan tumbuhan sebagai bukti kekuasaan Allah, disertai perintah memakan buahnya secukupnya, menunaikan hak atasnya saat panen, dan larangan tegas terhadap sikap berlebih-lebihan yang tidak disukai-Nya. Yang paling patut diperhatikan adalah urutan ketiga perintah itu.
Izin menikmati disebut lebih dahulu daripada kewajiban memberi. Kebanyakan aturan disusun dengan cara sebaliknya, yaitu kewajiban lebih dahulu lalu kelonggaran menyusul sebagai keringanan. Pembalikan urutan di sini mengubah kedudukan orang yang menerimanya. Ia tidak berdiri sebagai orang yang ditahan lalu dilonggarkan, melainkan sebagai orang yang dipersilakan lalu diingatkan, dan dua kedudukan itu melahirkan dua sikap yang sangat berbeda terhadap kewajiban yang sama.
Waktu penunaiannya ditetapkan sedekat mungkin dengan datangnya hasil, yaitu pada hari memetiknya. Ungkapan itu hanya sekali muncul di seluruh kitab ini. Ketetapannya menutup jarak yang biasanya dipakai untuk menunda: tidak menunggu hasil dihitung, tidak menunggu dijual, dan tidak menunggu keperluan sendiri disisihkan lebih dahulu.
Larangan di ujungnya berlaku dua arah karena letaknya sesudah kedua perintah. Berlebihan dalam menikmati mudah dikenali sebagai pelanggaran; berlebihan dalam memberi jarang terpikirkan sebagai pelanggaran sama sekali. Penempatan yang mencakup keduanya menyiratkan bahwa yang dijaga bukan hanya keadilan terhadap orang lain, melainkan juga ketahanan orang yang memberi. Sesuatu yang dikuras habis berhenti bisa memberi pada musim berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Dua-duanya disebut. Kemiripan dan perbedaan sama-sama diperhatikan, dan keduanya keluar dari air yang sama. Dua-duanya disebut, dan penyebutan berpasangan itu menutup kemungkinan membaca keserupaan sebagai keunggulan. Kalau cuma yang serupa yang disebut, keseragaman akan terbaca sebagai tanda kebaikan ciptaan. Dengan keduanya disebut berdampingan tanpa satu pun dinilai lebih, yang dinyatakan adalah bahwa keragaman itu sendiri bagian dari penumbuhannya.
- Allah menyuruh makan buahnya, lalu menunaikan haknya pada hari memanen. Dua perintah berurutan. Yang menikmati disebut lebih dahulu, dan kewajibannya menyusul di hari yang sama. Urutan dua perintah itu tidak biasa. Yang lebih sering ditemui adalah menunaikan kewajiban lebih dulu baru menikmati sisanya. Di sini izin makan disebut lebih dahulu. Apa yang dikerjakan urutan itu? Ia menutup pembacaan yang menempatkan hak orang lain sebagai beban yang harus dibereskan sebelum seseorang berhak menikmati apa pun, dan sekaligus menutup pembacaan sebaliknya, yaitu bahwa hak itu diambil dari sisa.
- Allah menutup dengan larangan berlebihan. Sesudah mempersilakan makan dan menyuruh memberi. Batasnya dipasang bukan pada yang menikmati saja, melainkan juga pada yang memberi. Larangan itu ditaruh sesudah dua hal yang sama-sama diperbolehkan, yaitu makan dan memberi. Jadi yang dilarang berlebihan bukan cuma dalam menikmati. Susunan kalimatnya membiarkan larangan itu mencakup keduanya, dan pembacaan seperti itu mengejutkan pada bagian yang kedua. Bisakah seseorang berlebihan dalam memberi? Ayat lain di mushaf ini menjawabnya, yaitu larangan mengulurkan tangan sepenuh-penuhnya di 17:29.
- Allah menetapkan haknya jatuh pada hari memetik, bukan sesudah dihitung atau sesudah keperluan sendiri disisihkan. Kalau waktunya memang ditetapkan sedekat itu dengan datangnya hasil, apa yang biasanya kita dahulukan sebelum menunaikannya? Rangkaian itu (يَوْمَ حَصَادِهِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Waktu yang ditetapkan bukan sesudah dihitung, bukan sesudah dijual, dan bukan sesudah diketahui berapa untungnya. Waktunya hari memetik itu sendiri. Penetapan sedini itu menutup jarak yang biasanya dipakai untuk menimbang ulang, sebab hak yang ditunda sampai perhitungan selesai selalu bersaing dengan kebutuhan yang muncul belakangan.
- Paruh pertama ayat ini panjang dan berisi daftar tanaman yang beraneka, sedangkan paruh keduanya pendek dan berisi tiga perintah beruntun: makanlah, tunaikan haknya, dan jangan berlebihan. Perbandingan panjang itu sendiri berbicara. Mengapa keterangan tentang pemberian dibuat jauh lebih panjang daripada perintah tentang penggunaannya? Karena yang sukar bukan mengerti perintahnya, melainkan mengingat bahwa apa yang sedang dibagi itu bukan berasal dari tangan yang membaginya. Allah memperpanjang bagian yang mudah dilupakan.
- Ayat ini dibuka dengan menyebut siapa yang menumbuhkan, bukan dengan menyebut siapa yang menanam. Padahal yang menanam pohon kurma dan zaitun adalah manusia, dan kerja itu nyata serta melelahkan. Pilihan kata di sini tidak menyangkal kerja tersebut; ia cuma menempatkan penumbuhannya pada pihak lain. Perbedaan antara menanam dan menumbuhkan adalah perbedaan antara pekerjaan yang bisa dijadwalkan dan hasil yang tidak pernah bisa dijamin oleh yang mengerjakannya.