قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang ingin memakannya, kecuali ia bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena ia najis, atau kefasikan yang diserukan untuk selain Allah dengannya. Maka, siapa pun yang terpaksa, bukan karena mengingini dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu pengampun lagi pengasih.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِqul laa ajidu fii maa uuhiya ilayya muharraman 'alaa thaa'imin yath'amuhu illaa an yakuuna maytatan aw daman masfuuhan aw lahma khinziirin fa-innahu rijsun aw fisqan uhilla li-ghayri llaahi bihikatakanlah, tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang ingin memakannya, kecuali ia bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena ia najis, atau kefasikan yang diserukan untuk selain Allah dengannya
- فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-mani dhthurra ghayra baaghin wa-laa 'aadin fa-inna rabbaka ghafuurun rahiimunmaka siapa pun yang terpaksa, bukan karena mengingini dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (39 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- لَاlaatidak
- أَجِدُajiduaku mendapati
- فِيfiidi dalam
- مَاmaaapa yang
- أُوحِيَuuhiyadiwahyukan
- إِلَيَّilayyakepadaku
- مُحَرَّمًاmuharramanyang diharamkan
- عَلَىٰ'alaaatas
- طَاعِمٍthaa'iminorang yang makan
- يَطْعَمُهُyath'amuhumemakannya
- إِلَّاillaakecuali
- أَنْanbahwa
- يَكُونَyakuunaada
- مَيْتَةًmaytatanbangkai
- أَوْawatau
- دَمًاdamandarah
- مَسْفُوحًاmasfuuhanyang mengalir
- أَوْawatau
- لَحْمَlahmadaging
- خِنْزِيرٍkhinziirinbabi
- فَإِنَّهُfa-innahumaka sesungguhnya dia
- رِجْسٌrijsunkekotoran
- أَوْawatau
- فِسْقًاfisqankefasikan
- أُهِلَّuhilladiserukan
- لِغَيْرِli-ghayriuntuk selain
- اللَّهِllaahiAllah
- بِهِbihidengannya
- فَمَنِfa-manimaka orang yang
- اضْطُرَّdhthurraterpaksa
- غَيْرَghayraselain
- بَاغٍbaaghinyang mengingini
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- عَادٍ'aadinyang melampaui batas
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Setelah rentetan kritik terhadap aturan pembatasan yang dibuat-buat, daftar larangan yang sebenarnya disebutkan ternyata singkat dan jelas (bangkai, darah mengalir, babi, sembelihan fasik), plus pengecualian eksplisit untuk keadaan terpaksa. Konkretnya: aturan yang sahih dan berdasar biasanya jelas, ringkas, dan punya pengecualian wajar untuk situasi darurat, kerumitan berlebihan dalam aturan sering menjadi tanda bahwa aturan itu sudah ditambah-tambahi dari yang aslinya sederhana, layak dipertanyakan asal-usulnya.
Tafsiran
Ayat ini merinci secara terbatas apa yang benar-benar diharamkan berdasarkan wahyu: bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan daging yang disembelih dengan menyerukan nama selain Allah, namun bagi yang terpaksa tanpa mengingini dan tanpa melampaui batas, Allah tetap pengampun dan pengasih.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah rentetan bantahan panjang atas aturan yang dibuat-buat, daftar yang sebenarnya cuma empat butir. Pendek sekali. Yang selama ini diributkan ternyata jauh lebih banyak daripada yang pernah Allah tetapkan.
- Kalimatnya dibuka dengan tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku. Bentuknya laporan atas pemeriksaan, bukan pernyataan wewenang. Yang menjawab pun tidak menempatkan diri sebagai penetap; ia cuma melaporkan apa yang ada.
- Sesudah daftar itu, Allah menyebut pengecualian bagi yang terpaksa, dengan dua syarat: bukan karena mengingini dan tidak melampaui batas. Lalu ditutup dengan pengampun lagi pengasih. Aturan yang menyebutkan sendiri keadaan daruratnya tidak perlu dilanggar diam-diam.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Kata dari akar r-h-m (indefinit). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.