وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Dialah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian dalam apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat balasan-Nya, dan sesungguhnya Dia sungguh pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْwa-huwa lladzii ja'alakum khalaa'ifa l-ardhi wa-rafa'a ba'dhakum fawqa ba'dhin darajaatin li-yabluwakum fii maa aataakumdan Dialah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian dalam apa yang diberikan-Nya kepada kalian
  2. إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌinna rabbaka sarii'u l-'iqaabi wa-innahu la-ghafuurun rahiimunsesungguhnya Tuhanmu sangat cepat balasan-Nya, dan sesungguhnya Dia sungguh pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَهُوَwa-huwadan Dialah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. جَعَلَكُمْja'alakummenjadikan kalian
  4. خَلَائِفَkhalaa'ifapara khalifah
  5. الْأَرْضِl-ardhibumi
  6. وَرَفَعَwa-rafa'adan Dia meninggikan
  7. بَعْضَكُمْba'dhakumsebagian kalian
  8. فَوْقَfawqadi atas
  9. بَعْضٍba'dhinsebagian
  10. دَرَجَاتٍdarajaatinderajat
  11. لِيَبْلُوَكُمْli-yabluwakumagar Dia menguji kalian
  12. فِيfiidalam
  13. مَاmaaapa yang
  14. آتَاكُمْaataakummemberi kalian
  15. إِنَّinnasesungguhnya
  16. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  17. سَرِيعُsarii'ucepat
  18. الْعِقَابِl-'iqaabihukuman
  19. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  20. لَغَفُورٌla-ghafuurunbenar-benar pengampun
  21. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Penutup Al-An'am menegaskan bahwa perbedaan derajat/status antarmanusia sengaja dirancang 'untuk menguji kalian atas apa yang diberikan-Nya', ketimpangan yang tampak bukan penilaian nilai inheren, melainkan variasi ujian berdasarkan apa yang masing-masing terima. Konkretnya: membandingkan diri dengan orang yang berbeda status/kemampuan/sumber daya kehilangan makna jika disadari bahwa masing-masing sedang diuji dengan 'paket' yang berbeda, fokus yang lebih relevan adalah bagaimana mengelola dengan baik apa yang diberikan pada diri sendiri, bukan mengukur diri lewat perbandingan dengan paket ujian orang lain.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup surahnya, dan penutup itu merangkum kedudukan manusia di bumi dalam satu kalimat.

Sebutan yang dipakai adalah “khalifah-khalifah di bumi” (خَلَائِفَ الْأَرْضِ, khalaa'ifa l-ardhi). Susunan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuknya jamak, jadi yang disebut bukan satu orang yang mewakili semua, melainkan banyak orang yang sama-sama menempati kedudukan itu.

Perbedaan derajat di antara manusia disebut sesudahnya, dan tujuannya dinyatakan langsung: “untuk menguji kalian dalam apa yang diberikan-Nya kepada kalian”. Yang diuji bukan seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan apa yang dilakukannya dengan kedudukan itu. Perbedaan itu sendiri bukan nilai, melainkan bahan ujian, dan itu berlaku ke dua arah: pada yang ditinggikan maupun pada yang tidak.

Penutupnya menyandingkan dua hal yang biasanya diletakkan berjauhan. Allah disebut sangat cepat balasan-Nya, dan pada napas yang sama disebut pengampun lagi pengasih. Keduanya diletakkan dalam satu kalimat tanpa dipertentangkan, sehingga yang membaca tidak diberi ruang untuk memilih salah satunya saja.

Kata kerja yang menyebut tujuannya berulang di beberapa tempat. Bentuk “untuk menguji kalian” (لِيَبْلُوَكُمْ, li-yabluwakum) muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (5:48, 6:165, 11:7, 67:2). Keempatnya menyebut ujian sebagai maksud dari sesuatu yang diberikan atau diciptakan, bukan sebagai hukuman. Yang diuji pun di keempatnya perbuatan, bukan keyakinan semata.

Perbandingan keempat tempat itu memperjelas satu hal. Di 5:48 yang diuji perbedaan aturan yang diberikan kepada masing-masing umat; di 11:7 dan 67:2 yang diuji penciptaan dan kematian; di sini yang diuji perbedaan derajat. Semuanya hal yang tidak dipilih oleh yang menjalaninya. Yang dijadikan bahan ujian selalu sesuatu yang datang tanpa diminta.

Penutupnya menyandingkan dua sifat yang jarang diletakkan berdampingan. Rangkaian “sangat cepat balasan-Nya” (سَرِيعُ الْعِقَابِ, sarii'u l-'iqaabi) muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 7:167), dan di kedua tempat itu ia langsung disusul sebutan tentang pengampunan. Pola yang berulang di dua tempat menunjukkan bahwa penyandingan itu bukan kebetulan susunan.

Letak ayat ini di ujung surahnya menambah satu lapis. Sebuah surah panjang yang banyak berisi bantahan terhadap penyembahan selain Allah ditutup dengan pernyataan tentang kedudukan manusia di bumi dan tentang ujian. Yang ditinggalkan pada pembaca di halaman terakhir bukan gambaran tentang lawan yang dibantah, melainkan pertanyaan tentang apa yang sedang ia kerjakan dengan bagian yang ia terima.

Tafsiran

Ayat penutup Surah Al-An'am ini merangkum tujuan kekhalifahan manusia di bumi: derajat yang berbeda-beda di antara mereka adalah bentuk ujian atas apa yang telah dianugerahkan, dan Allah, meski sangat cepat membalas, tetaplah pengampun dan pengasih. Yang paling mengubah cara baca adalah kata ujian.

Perbedaan kedudukan biasanya dibaca sebagai hasil, yaitu tanda keberhasilan bagi yang di atas dan tanda kegagalan bagi yang di bawah. Ayat ini membacanya sebagai bahan, bukan hasil. Sesuatu yang menjadi bahan ujian tidak menyatakan apa-apa tentang nilai orang yang memegangnya; yang dinilai justru apa yang ia kerjakan dengannya. Bacaan itu berlaku dua arah dan tidak memberi keuntungan kepada pihak mana pun.

Kata yang dipakai untuk ujian itu muncul di tiga tempat lain, dan di semuanya yang dijadikan bahan selalu sesuatu yang tidak dipilih oleh yang menjalaninya (5:48, 11:7, 67:2). Aturan yang berbeda-beda, penciptaan, kematian, dan di sini derajat. Pola itu menutup pembacaan bahwa ujian hanya berlaku pada hal yang bisa diusahakan.

Penutupnya menyandingkan dua hal yang biasanya diletakkan berjauhan, dan penyandingan itu berulang di 7:167 dengan susunan yang mirip. Cepat membalas dan pengampun disebut dalam satu napas, tanpa kata yang mempertentangkan keduanya dan tanpa keterangan yang mendamaikan. Pembacanya tidak diberi ruang untuk memilih salah satu sebagai gambaran yang sebenarnya, dan ketiadaan ruang itu tampaknya memang bagian dari maksudnya.

Renungan dan Hikmah

  • Perbedaan derajat/kedudukan antarmanusia bukan tanda keunggulan hakiki, melainkan bentuk ujian atas cara memanfaatkan apa yang telah dianugerahkan. Yang perlu ditambahkan adalah bahwa peninggian itu disebut sebagai perbuatan Allah, bukan sebagai hasil yang diraih. Kalimatnya berbunyi Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain. Kalau kedudukan itu diraih, pemiliknya berhak menyebutnya milik. Kalau ia ditinggikan oleh pihak lain, yang tersisa baginya cuma pertanyaan tentang untuk apa ia ditinggikan, dan ayat ini menjawabnya di kalimat yang sama.
  • Allah memakai bentuk jamak untuk menyebut kedudukan itu di bumi. Bukan seorang wakil yang mewakili semua. Banyak orang sekaligus, dan tak seorang pun di antaranya memegangnya sendirian. Rangkaian itu (خَلَائِفَ الْأَرْضِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya jamak. Di 2:30 dan 38:26 sebutan yang seakar dipakai dalam bentuk tunggal untuk satu orang tertentu. Jadi bentuk jamak di sini memindahkan kedudukan itu dari satu pribadi pilihan ke sekumpulan orang yang sedang disapa, dan yang disapa adalah pembaca ayat ini.
  • Allah menyebut diri-Nya sangat cepat balasan-Nya, lalu pengampun lagi pengasih, dalam satu kalimat yang sama. Keduanya tidak dipertentangkan. Yang membaca tidak diberi ruang memilih salah satunya saja. Dua sifat itu ditaruh berturut-turut tanpa jeda, dan keduanya menarik ke arah yang berbeda. Cepatnya perhitungan mendesak orang bergegas; pengampunan dan kasih sayang menahannya dari putus asa. Sebuah kalimat yang cuma memuat salah satunya akan menghasilkan satu dari dua keadaan yang sama-sama melumpuhkan, yaitu panik atau lalai. Keduanya disebut berdampingan supaya tidak satu pun sempat berdiri sendiri.
  • Allah menyebut perbedaan derajat sebagai ujian atas apa yang Dia berikan, bukan sebagai tanda keunggulan. Kalau kedudukan yang kita pegang sekarang memang bahan ujian dan bukan nilai, apa yang sedang diuji darinya hari ini? Kalimatnya menyebut bahwa peninggian derajat itu untuk menguji dalam apa yang diberikan. Jadi yang diuji bukan orang yang tidak punya, melainkan orang yang punya lebih. Susunan itu membalik anggapan yang lazim, yaitu bahwa ujian selalu berupa kekurangan. Kelebihan disebut di sini sebagai bentuk ujian yang lain, dan bentuk ini punya sifat khas: ia tidak terasa sebagai ujian selama sedang dijalani.
  • Kata yang dipakai berakar pada arti datang sesudah dan menggantikan, dan yang digantikan bukan Allah melainkan mereka yang lebih dulu menempati bumi. Ayat lain memakai kata seakar untuk kaum yang mewarisi tempat kaum yang sudah binasa. Apa yang dinyatakan oleh arti dasar itu? Bahwa kedudukan ini datang bersama sebuah tanggal kedaluwarsa. Yang menggantikan pada gilirannya akan digantikan, dan seluruh isi ayat ini, yaitu perbedaan derajat, ujian, perhitungan yang cepat, berdiri di atas kesadaran bahwa masa pemakaiannya terbatas.
  • Kalimatnya menyebut ujian dalam apa yang Dia berikan kepada kalian, bukan dalam apa yang kalian kumpulkan. Pilihan kata itu menentukan cara menghitung. Orang yang memandang miliknya sebagai hasil kerjanya akan menghitung ujiannya dari titik ia mulai bekerja. Orang yang memandangnya sebagai pemberian akan menghitung dari titik ia menerimanya, dan titik itu selalu lebih awal serta selalu memuat lebih banyak. Perbedaan titik hitung itu menghasilkan dua orang yang perbuatannya sama tapi kesadarannya berbeda jauh.