فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Maka tidaklah seruan mereka ketika azab Kami datang kepada mereka, kecuali mereka berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَfa-maa kaana da'waahum idz jaa'ahum ba'sunaa illaa an qaaluu innaa kunnaa zhaalimiinamaka tidaklah seruan mereka ketika azab Kami datang kepada mereka, kecuali mereka berkata, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar k-w-n, d-'-w, j-y-a, b-a-s, q-w-l, zh-l-m): da'waa diterjemahkan 'seruan/keluhan' (akar d-'-w); ba's diterjemahkan 'azab'. Selaras.

Aplikasi

Pengakuan jujur 'sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim' baru muncul justru SAAT azab sudah datang, kesadaran diri yang tulus tapi terlambat, tidak lagi bisa mengubah apa pun. Konkretnya: pengakuan kesalahan yang baru muncul setelah konsekuensi sudah tak terelakkan kehilangan nilai praktisnya untuk mencegah, kejujuran terhadap diri sendiri tentang kesalahan jauh lebih bernilai jika dilakukan lebih awal, saat masih ada ruang untuk mengubah arah.