وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Dan bagi setiap umat ada ajal; maka apabila ajal mereka datang, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak dapat pula mempercepatnya.

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌwa-li-kulli ummatin ajalundan bagi setiap umat ada ajal
  2. فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةًfa-idzaa jaa'a ajaluhum laa yasta'khiruuna saa'atanmaka apabila ajal mereka datang, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun
  3. وَلَا يَسْتَقْدِمُونَwa-laa yastaqdimuunadan tidak dapat pula mempercepatnya
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar k-l-l, a-m-m, a-j-l, j-y-a, a-kh-r, s-w-', q-d-m): ajal diterjemahkan 'ajal (batas waktu)'; laa yasta'khiruuna…wa laa yastaqdimuun diterjemahkan 'tidak menunda…tidak mempercepat' (akar '-kh-r, akar q-d-m). gloss '(batas waktu)' dibuang.

Aplikasi

'Bagi setiap umat ada ajal; mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak dapat pula mempercepatnya', waktu yang telah ditetapkan tidak bisa dipercepat oleh ketergesaan maupun ditunda oleh penghindaran. Konkretnya: baik ketergesaan berlebihan (mencoba memaksakan sesuatu terjadi lebih cepat dari waktunya) maupun penundaan berlebihan (menghindar dari sesuatu yang pasti akan tiba) sama-sama sia-sia terhadap hal-hal yang sudah punya waktunya sendiri, menerima ritme alami suatu proses, tanpa memaksakan percepatan atau penundaan, adalah sikap yang lebih realistis.