قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Para pemuka yang kufur dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami menduga engkau termasuk para pendusta.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَqaala l-mala'u lladziina kafaruu min qawmihi innaa la-naraaka fii safaahatin wa-innaa la-nazhunnuka mina l-kaadzibiinapara pemuka yang kufur dari kaumnya berkata, sesungguhnya kami benar-benar melihatmu dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami menduga engkau termasuk para pendusta

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. الْمَلَأُl-mala'upara pemuka
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. كَفَرُواkafaruukufur
  5. مِنْmindari
  6. قَوْمِهِqawmihikaumnya
  7. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  8. لَنَرَاكَla-naraakasungguh kami melihatmu
  9. فِيfiidalam
  10. سَفَاهَةٍsafaahatinkebodohan
  11. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
  12. لَنَظُنُّكَla-nazhunnukasungguh kami mengiramu
  13. مِنَminadari
  14. الْكَاذِبِينَl-kaadzibiinapara pendusta

Inti bacaan

Tuduhan pertama para pemuka terhadap Hud sama seperti pola sebelumnya, 'kebodohan' dan dugaan 'pendusta', kritik menyerang kredibilitas pembawa pesan, bukan mengevaluasi substansi pesannya. Konkretnya: saat menghadapi gagasan yang menantang kenyamanan status quo, serangan pertama sering diarahkan pada kredibilitas pembawa pesan (dituduh bodoh, naif, tidak kompeten) daripada benar-benar mengevaluasi isi gagasannya, mengenali pola pengalihan ini membantu memisahkan kritik substantif dari sekadar taktik menjatuhkan kredibilitas.

Penjelasan pilihan kata

'kafaruu'→'yang kufur' (root kfr, konsisten disiplin kafir→kufur). 'safaahatin'→'kebodohan' (root sfh, sama akar dg 7:67 shg disamakan).

Tafsiran

Respons para pemuka Ad terhadap Hud sejajar persis dengan respons pemuka kaum Nuh: tuduhan kebodohan dan kedustaan, pola retorika penolakan yang berulang di seluruh pericope.

Renungan dan Hikmah

  • Tuduhan mereka dua: kebodohan, dan dugaan bahwa ia pendusta. Yang pertama dinyatakan pasti, yang kedua diakui cuma dugaan. Orang yang menuduh sering paling yakin justru pada bagian yang paling sedikit ia ketahui.
  • Allah menyebut mereka para pemuka yang kufur dari kaumnya. Dua keterangan sekaligus: kedudukan dan sikap. Yang paling lantang menilai sering yang paling banyak kehilangan bila penilaian itu keliru.
  • Kedua tuduhan itu tentang siapa Hud, bukan tentang apa yang ia bawa. Isinya tidak disinggung sama sekali. Allah merekam percakapan itu utuh, sehingga pembacanya bisa melihat sendiri bahwa perkaranya tak pernah sempat dibahas.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, m-l-a, k-f-r, q-w-m, r-a-y, s-f-h, zh-n-n, k-dz-b): safaahah diterjemahkan 'kebodohan (kurang akal)' (akar s-f-h); nazhunnu diterjemahkan 'menduga' (akar zh-n-n); kaadhibiin diterjemahkan 'para pendusta' (akar k-dz-b). Selaras.