قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا ۖ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami? Maka datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَاqaaluu a-ji'tanaa li-na'buda llaaha wahdahu wa-nadzara maa kaana ya'budu aabaa'unaamereka berkata, apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami
  2. فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَfa-tinaa bimaa ta'idunaa in kunta mina s-saadiqiinamaka datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar q-w-l, j-y-a, '-b-d, a-l-h, w-h-d, w-dz-r, k-w-n, a-b-w, a-t-y, w-'-d, s-d-q): na'buda diterjemahkan 'menyembah' (akar '-b-d); wahdahu diterjemahkan 'semata'; nadhara diterjemahkan 'meninggalkan' (akar w-dz-r); saadiqiin diterjemahkan 'orang-orang yang benar' (akar s-d-q putaran 84). gloss '(wahai Hud)' dibuang.

Aplikasi

Keberatan kaum 'Ad sama persis dengan pola sebelumnya (7:28): menolak perubahan dengan alasan 'meninggalkan apa yang disembah bapak-bapak kami', tradisi diperlakukan sebagai veto otomatis terhadap perubahan apa pun. Konkretnya: menolak sebuah gagasan baru semata-mata karena bertentangan dengan kebiasaan turun-temurun (tanpa mengevaluasi substansinya) adalah pola penolakan yang berulang lintas berbagai konteks dan zaman, mengenali pola ini membantu membedakan penolakan yang berdasar dari penolakan yang sekadar bereaksi terhadap perubahan itu sendiri.