قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا ۖ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami? Maka datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَاqaaluu a-ji'tanaa li-na'buda llaaha wahdahu wa-nadzara maa kaana ya'budu aabaa'unaamereka berkata, apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami
  2. فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَfa-tinaa bi-maa ta'idunaa in kunta mina sh-shaadiqiinamaka datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. أَجِئْتَنَاa-ji'tanaaapakah engkau datang kepada kami
  3. لِنَعْبُدَli-na'budaagar kami menyembah
  4. اللَّهَllaahaAllah
  5. وَحْدَهُwahdahusendirian
  6. وَنَذَرَwa-nadzaradan kami membiarkan
  7. مَاmaaapa yang
  8. كَانَkaanaadalah
  9. يَعْبُدُya'budumenyembah
  10. آبَاؤُنَاaabaa'unaabapak-bapak kami
  11. فَأْتِنَاfa-tinaamaka datangkanlah kepada kami
  12. بِمَاbi-maaapa yang
  13. تَعِدُنَاta'idunaaengkau janjikan kepada kami
  14. إِنْinjika
  15. كُنْتَkuntaengkau adalah
  16. مِنَminadari
  17. الصَّادِقِينَsh-shaadiqiinaorang-orang yang benar

Inti bacaan

Keberatan kaum 'Ad sama persis dengan pola sebelumnya (7:28): menolak perubahan dengan alasan 'meninggalkan apa yang disembah bapak-bapak kami', tradisi diperlakukan sebagai veto otomatis terhadap perubahan apa pun. Konkretnya: menolak sebuah gagasan baru semata-mata karena bertentangan dengan kebiasaan turun-temurun (tanpa mengevaluasi substansinya) adalah pola penolakan yang berulang lintas berbagai konteks dan zaman, mengenali pola ini membantu membedakan penolakan yang berdasar dari penolakan yang sekadar bereaksi terhadap perubahan itu sendiri.

Penjelasan pilihan kata

'kaana ya'budu' (bentuk lampau berkelanjutan) diberi 'dahulu' pd 'disembah' utk kesetiaan aspek verba. Penutup rangkaian: kaum Ad menantang Hud mendatangkan azab.

Tafsiran

Penolakan kaum Ad berpuncak pada tantangan terang-terangan: mereka menuntut bukti berupa azab yang dijanjikan, alih-alih merenungkan seruan tauhid yang disampaikan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam ucapan mereka apa adanya, dan ucapan itu merangkum seruan Hud dengan tepat. Mereka mengerti persis apa yang sedang diminta dari mereka. Penolakan itu bukan penolakan orang yang salah paham.
  • Dari segala hal yang bisa diminta sebagai tanda, yang mereka pilih azab. Bukan bukti bahwa Allah memang layak disembah semata. Orang yang sudah memutuskan untuk tidak percaya kadang meminta bukti yang tak mungkin ia nikmati seandainya benar-benar terbukti.
  • Kalimat mereka ditutup dengan syarat tentang kebenaran Hud, bukan tentang kebenaran seruannya. Yang diperkarakan orangnya. Memindahkan perkara dari isi ke pembawanya sebuah cara lama untuk tidak perlu menimbang isinya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, j-y-a, '-b-d, a-l-h, w-h-d, w-dz-r, k-w-n, a-b-w, a-t-y, w-'-d, s-d-q): na'buda diterjemahkan 'menyembah' (akar '-b-d); wahdahu diterjemahkan 'semata'; nadhara diterjemahkan 'meninggalkan' (akar w-dz-r); saadiqiin diterjemahkan 'orang-orang yang benar' (akar s-d-q putaran 84). gloss '(wahai Hud)' dibuang.