وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
Jika ada segolongan di antara kalian yang beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, dan segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dan Dia adalah sebaik-baik pemutus perkara.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَاwa-in kaana thaa'ifatun minkum aamanuu bi-lladzii ursiltu bihi wa-thaa'ifatun lam yu'minuu fa-shbiruu hattaa yahkuma llaahu baynanaadan jika ada segolongan di antara kalian yang beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, dan segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita
- وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَwa-huwa khayru l-haakimiinadan Dia sebaik-baik pemutus perkara
Terjemahan per kata (19 kata)
- وَإِنْwa-indan jika
- كَانَkaanaada
- طَائِفَةٌthaa'ifatunsegolongan
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- آمَنُواaamanuuberiman
- بِالَّذِيbi-lladziidengan yang
- أُرْسِلْتُursiltuaku diutus
- بِهِbihidengannya
- وَطَائِفَةٌwa-thaa'ifatundan segolongan
- لَمْlamtidak
- يُؤْمِنُواyu'minuumereka beriman
- فَاصْبِرُواfa-shbiruumaka bersabarlah kalian
- حَتَّىٰhattaasampai
- يَحْكُمَyahkumamemutuskan
- اللَّهُllaahuAllah
- بَيْنَنَاbaynanaadi antara kami
- وَهُوَwa-huwadan Dialah
- خَيْرُkhayrusebaik-baik
- الْحَاكِمِينَl-haakimiinapara pemutus perkara
Inti bacaan
Menghadapi audiens yang terbelah (sebagian beriman, sebagian tidak), Syuʻaib menganjurkan kesabaran menunggu keputusan Allah, bukan memaksakan penyelesaian instan atas perpecahan yang ada. Konkretnya: saat menghadapi perpecahan pendapat yang mendalam dalam sebuah kelompok (yang tidak bisa diselesaikan lewat argumen lebih lanjut), kadang pilihan paling bijak adalah bersabar membiarkan waktu dan hasil nyata yang menjadi penentu, bukan memaksakan resolusi sebelum waktunya.
Tafsiran
Syuaib mengakui akan ada perpecahan iman di antara kaumnya sendiri, dan menyerahkan keputusan akhir kepada Allah: sikap sabar, bukan paksaan.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam Syuaib menyuruh bersabar, bukan memaksa. Kepada dua golongan sekaligus. Perpecahan itu tak diselesaikan dengan tangan.
- Batas sabarnya disebut: sampai Allah menetapkan keputusan. Ada ujungnya. Yang diminta bukan sabar tanpa akhir, melainkan sampai giliran-Nya tiba.
- Kata yang ia pakai di antara kita, bukan di antara kalian. Dirinya ikut dimasukkan. Yang menunggu keputusan bukan cuma pihak yang menolaknya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: tidak menyentuh kata kunci akar (hukm/hikmah/verba mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras); kamu/-mu jamak diterjemahkan kalian per tag 2MP corpus; pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:57≡12:40≡12:67 tiga terjemahan).