قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا ۚ وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا ۚ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan atas Allah jika kami kembali pada millah kalian setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut bagi kami untuk kembali padanya, kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Wahai Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan kebenaran, dan Engkau sebaik-baik pemberi keputusan.”

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَاqadi ftaraynaa 'alaa llaahi kadziban in 'udnaa fii millatikum ba'da idz najjaanaa llaahu minhaasungguh kami telah mengada-adakan kebohongan atas Allah jika kami kembali pada millah kalian setelah Allah menyelamatkan kami darinya
  2. وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَاwa-maa yakuunu lanaa an na'uuda fiihaa illaa an yasyaa'a llaahu rabbunaadan tidaklah patut bagi kami untuk kembali padanya, kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki
  3. وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًاwasi'a rabbunaa kulla syay'in 'ilmanpengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu
  4. عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا'alaa llaahi tawakkalnaahanya kepada Allah kami bertawakal
  5. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَrabbanaa ftah baynanaa wa-bayna qawminaa bi-l-haqqi wa-anta khayru l-faatihiinawahai Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan kebenaran, dan Engkau sebaik-baik pemberi keputusan

Terjemahan per kata (42 kata)

  1. قَدِqadisungguh
  2. افْتَرَيْنَاftaraynaakami mengada-adakan
  3. عَلَى'alaaatas
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. كَذِبًاkadzibankebohongan
  6. إِنْinjika
  7. عُدْنَا'udnaakami kembali
  8. فِيfiikepada
  9. مِلَّتِكُمْmillatikumagama kalian
  10. بَعْدَba'dasesudah
  11. إِذْidzketika
  12. نَجَّانَاnajjaanaamenyelamatkan kami
  13. اللَّهُllaahuAllah
  14. مِنْهَاminhaadarinya
  15. وَمَاwa-maadan tidaklah
  16. يَكُونُyakuunuadalah
  17. لَنَاlanaabagi kami
  18. أَنْanuntuk
  19. نَعُودَna'uudakami kembali
  20. فِيهَاfiihaakepadanya
  21. إِلَّاillaakecuali
  22. أَنْanbahwa
  23. يَشَاءَyasyaa'amenghendaki
  24. اللَّهُllaahuAllah
  25. رَبُّنَاrabbunaaTuhan kami
  26. وَسِعَwasi'ameliputi
  27. رَبُّنَاrabbunaaTuhan kami
  28. كُلَّkullasetiap
  29. شَيْءٍsyay'insesuatu
  30. عِلْمًا'ilmanpengetahuan
  31. عَلَى'alaaatas
  32. اللَّهِllaahiAllah
  33. تَوَكَّلْنَاtawakkalnaakami bertawakal
  34. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  35. افْتَحْftahberilah keputusan
  36. بَيْنَنَاbaynanaadi antara kami
  37. وَبَيْنَwa-baynadan antara
  38. قَوْمِنَاqawminaakaum kami
  39. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  40. وَأَنْتَwa-antadan Engkau
  41. خَيْرُkhayrusebaik-baik
  42. الْفَاتِحِينَl-faatihiinapemberi keputusan terbaik

Inti bacaan

Penolakan tegas untuk kembali ke jalan lama dibingkai sebagai soal integritas: 'kami telah mengada-adakan kebohongan besar kepada Allah jika kami kembali', mundur dari kebenaran yang sudah diketahui disamakan dengan kebohongan aktif, bukan sekadar pilihan netral. Konkretnya: kembali secara sadar ke kebiasaan/keyakinan yang sudah terbukti salah setelah mengetahui yang lebih baik (demi tekanan sosial atau kenyamanan) adalah bentuk ketidakjujuran terhadap diri sendiri, menyerahkan hasil akhir konflik pada proses yang adil ('berilah keputusan dengan hak') alih-alih memaksakan kemenangan sendiri adalah sikap dewasa yang dicontohkan di sini.

Tafsiran

Doa penutup Syuaib menyerahkan seluruh perkara kepada Allah sebagai hakim tertinggi: puncak retorika lima kisah rasul dalam pericope ini yang berulang kali berujung pada penyerahan diri total kepada keputusan Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Yang mereka sebut bukan kesalahan, melainkan mengada-adakan kebohongan atas Allah. Mundur disamakan dengan berdusta. Meninggalkan sesuatu yang sudah diketahui benar memang menyatakan sesuatu yang tidak benar, meski tanpa sepatah kata pun diucapkan.
  • Sesudah penolakan sekeras itu, kalimatnya tetap menyisakan kecuali jika Allah menghendaki. Kepastian mereka tidak dibuat mutlak. Orang yang paling teguh sekalipun di sini tidak menempatkan dirinya sebagai penentu akhir.
  • Doa penutupnya meminta keputusan dengan kebenaran, bukan meminta menang. Yang dituju perkaranya selesai dengan benar. Ada perbedaan besar antara ingin dibenarkan dan ingin diadili, dan yang kedua jauh lebih berani.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain menerjemahkan millah sbg 'agama', menyamakannya dgn diin. terjemahan ini memisahkan keduanya utk menjaga presisi: 'millah' (kredo/jalan) ≠ 'pertanggungjawaban' (diin). Rollout millah (15 ayat akar m-l-l). Mempertahankan 'millah' menegakkan distingsi leksikal dari diin (Prinsip #1 konsistensi). PASS: berbasis terjemahan lain edisi terkini dgn 'agama'(millah) diterjemahkan 'millah'. Entri millah memang tipis krn م ada setelah qaaf, justru itu alasan kata serapan 'millah' dipertahankan. Diverifikasi corpus Leeds (root mll = 15 ayat millah, terpisah dari verba yumill 'mendiktekan' di 2:282). Konvensi terjemahan ini: millah DIPERTAHANKAN sbg kata Arab (kata serapan, spt 'salat'), DIBEDAKAN dari diin='pertanggungjawaban'. Millah = jalan/kredo keyakinan-praktik yg diikuti; diin = relasi/sistem pertanggungjawaban.