وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

Dan tidaklah Kami mengutus seorang nabi di suatu negeri, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesengsaraan dan penderitaan, agar mereka merendahkan diri.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَwa-maa arsalnaa fii qaryatin min nabiyyin illaa akhadznaa ahlahaa bi-l-ba'saa'i wa-d-darraa'i la'allahum yaddarra'uunadan tidaklah Kami mengutus seorang nabi di suatu negeri, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesengsaraan dan penderitaan, agar mereka merendahkan diri
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar r-s-l, q-r-y, n-b-a, a-kh-dz, a-h-l, b-a-s, d-r-r, d-r-'): ba'saa'/darraa' diterjemahkan 'kesengsaraan/penderitaan'; yaddarra'uun diterjemahkan 'merendahkan diri' (akar d-r-'; sepola 6:42). gloss '(lalu penduduknya mendustakan nabi itu,)/(tunduk dengan)' dibuang.

Aplikasi

Pola berulang: kehadiran nabi/pesan di suatu negeri disertai kesengsaraan yang ditimpakan 'agar mereka merendahkan diri', kesulitan berfungsi sebagai pelunak hati yang menyertai momen kritis penerimaan kebenaran. Konkretnya: masa-masa sulit yang bertepatan dengan momen refleksi besar dalam hidup (perubahan besar, keputusan penting) bisa dimaknai sebagai bagian dari proses yang melunakkan kesombongan yang menghalangi penerimaan, bukan gangguan yang mengalihkan dari momen penting itu, melainkan bagian dari prosesnya.