ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Kemudian Kami ganti keburukan itu dengan kebaikan, sehingga mereka bertambah banyak. Lalu mereka berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan.” Maka Kami timpa mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadari.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَtsumma baddalnaa makaana s-sayyi'ati l-hasanata hattaa afaw wa-qaaluu qad massa aabaa'anaa d-darraa'u wa-s-sarraa'u fa-akhadznaahum baghtatan wa-hum laa yash'uruunakemudian Kami ganti keburukan itu dengan kebaikan, sehingga mereka bertambah banyak, lalu mereka berkata, sungguh nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan, maka Kami timpa mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadari
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain di ayat ini SUDAH selaras dgn konvensi, teks terjemahan ini identik (tanpa perubahan): “…saan atas mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka t…”. -f-w: 31/31 selaras; afuwwun ghafuur = komplementer hapus+tutup, bukan pengulangan. sebagian penerjemah: 'Then We changed the place of evil1 for good until they increased in number2 and said: “Adversity and prosperity did touch our fathers,”3, then We took them unawares, when they perceived not.' Corpus ayat ini: «Eafa, tanpa-al».

Aplikasi

Detail krusial: setelah kesulitan diganti kesenangan, mereka menyimpulkan secara fatalistik 'nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan', pola naik-turun itu dianggap sekadar siklus alami tanpa pesan, bukan sinyal yang perlu direnungkan. Konkretnya: menafsirkan pergantian masa sulit dan masa senang semata sebagai 'begitulah hidup, sudah biasa' (tanpa mencari makna atau pelajaran di baliknya) berisiko melewatkan sinyal penting yang sebenarnya sedang disampaikan lewat pola itu, kebiasaan meratakan makna sebagai 'siklus biasa' bisa jadi bentuk penghindaran refleksi.