أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah, kecuali kaum yang rugi.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِa-fa-aminuu makra llaahimaka apakah mereka merasa aman dari makar Allah
- فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَfa-laa ya'manu makra llaahi illaa l-qawmu l-khaasiruunamaka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah, kecuali kaum yang rugi
Terjemahan per kata (10 kata)
- أَفَأَمِنُواa-fa-aminuumaka apakah mereka merasa aman
- مَكْرَmakratipu daya
- اللَّهِllaahiAllah
- فَلَاfa-laamaka tidak ada
- يَأْمَنُya'manumerasa aman
- مَكْرَmakratipu daya
- اللَّهِllaahiAllah
- إِلَّاillaakecuali
- الْقَوْمُl-qawmukaum
- الْخَاسِرُونَl-khaasiruunaorang-orang yang rugi
Inti bacaan
Pembalikan tajam: merasa terlalu aman dan nyaman ('merasa aman dari makar Allah') justru dijadikan tanda kerugian, bukan tanda keberhasilan, 'tidak ada yang merasa aman. kecuali kaum yang rugi'. Konkretnya: rasa aman yang berlebihan dan complacency (menganggap semuanya pasti baik-baik saja tanpa perlu evaluasi diri lagi) adalah tanda peringatan, bukan pencapaian, mempertahankan kewaspadaan dan kerendahan hati bahkan di masa-masa yang tampak lancar adalah sikap yang lebih sehat daripada rasa aman yang berlebihan.
Penjelasan pilihan kata
Penutup rangkaian pertanyaan retoris 7:97-99.
Tafsiran
Puncak retorika: rasa aman palsu terhadap rencana Allah adalah ciri khas orang yang merugi, bukan kecerdasan, melainkan kelalaian fatal.
Renungan dan Hikmah
- Allah bertanya apakah mereka merasa aman dari makar-Nya. Yang dipersoalkan rasa amannya. Bahaya terbesar disebut bukan azabnya, melainkan tenangnya orang menghadapi kemungkinan itu.
- Allah menyebut tidak ada yang merasa aman kecuali kaum yang rugi. Perasaan itu sendiri tandanya. Yang paling yakin selamat justru yang paling perlu memeriksa diri.
- Allah menaruh pertanyaan ini sesudah menyebut negeri-negeri yang dibinasakan saat penduduknya sedang lengah. Contohnya baru diberikan. Pertanyaannya bukan teori; ia menunjuk pada yang sudah terjadi.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar a-m-n, m-k-r, a-l-h, q-w-m, kh-s-r): makr allaah diterjemahkan 'makar Allah', akar m-k-r (putaran MKR: makara=merencana/mengatur siasat, seperti catatan 3:54). terjemahan lain MENGHINDAR menautkan 'makar' ke Allah, menggantinya 'siksa Allah (yang tidak terduga-duga)'; terjemahan ini menjaga harfiah, makar-balasan Allah atas makar mereka. gloss '(yang tidak terduga-duga)' dibuang.