أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah, kecuali kaum yang rugi.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِa-fa-aminuu makra llaahimaka apakah mereka merasa aman dari makar Allah
  2. فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَfa-laa ya'manu makra llaahi illaa l-qawmu l-khaasiruunamaka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah, kecuali kaum yang rugi
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar a-m-n, m-k-r, a-l-h, q-w-m, kh-s-r): ⚠ makr allaah diterjemahkan 'makar Allah', akar m-k-r (putaran MKR: makara=merencana/mengatur siasat, seperti catatan 3:54). terjemahan lain MENGHINDAR menautkan 'makar' ke Allah, menggantinya 'siksa Allah (yang tidak terduga-duga)'; terjemahan ini menjaga harfiah, makar-balasan Allah atas makar mereka. gloss '(yang tidak terduga-duga)' dibuang.

Aplikasi

Pembalikan tajam: merasa terlalu aman dan nyaman ('merasa aman dari makar Allah') justru dijadikan tanda kerugian, bukan tanda keberhasilan, 'tidak ada yang merasa aman... kecuali kaum yang rugi'. Konkretnya: rasa aman yang berlebihan dan complacency (menganggap semuanya pasti baik-baik saja tanpa perlu evaluasi diri lagi) adalah tanda peringatan, bukan pencapaian, mempertahankan kewaspadaan dan kerendahan hati bahkan di masa-masa yang tampak lancar adalah sikap yang lebih sehat daripada rasa aman yang berlebihan.