فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Maka apabila kebaikan datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini milik kami.” Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menganggap sial karena Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِfa-idzaa jaa'atsumu l-hasanatu qaaluu lanaa haadzihimaka apabila kebaikan datang kepada mereka, mereka berkata, ini milik kami
- وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُwa-in tushibhum sayyi'atun yaththayyaruu bi-muusaa wa-man ma'ahudan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menganggap sial karena Musa dan orang-orang yang bersamanya
- أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَalaa innamaa thaa'iruhum 'inda llaahi wa-laakinna aktsarahum laa ya'lamuunaketahuilah, sesungguhnya nasib mereka ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui
Terjemahan per kata (22 kata)
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- جَاءَتْهُمُjaa'atsumudatang kepada mereka
- الْحَسَنَةُl-hasanatukebaikan
- قَالُواqaaluumereka berkata
- لَنَاlanaabagi kami
- هَٰذِهِhaadzihiini
- وَإِنْwa-indan jika
- تُصِبْهُمْtushibhummenimpa mereka
- سَيِّئَةٌsayyi'atunkeburukan
- يَطَّيَّرُواyaththayyaruumereka menganggap sial
- بِمُوسَىٰbi-muusaakepada Musa
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- مَعَهُma'ahubersamanya
- أَلَاalaaingatlah
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- طَائِرُهُمْthaa'iruhumnasib mereka
- عِنْدَ'indadi sisi
- اللَّهِllaahiAllah
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- أَكْثَرَهُمْaktsarahumkebanyakan mereka
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
Inti bacaan
Pola bias atribusi diri yang tajam: kemakmuran diklaim 'kami pantas mendapatkan ini', kesusahan dilempar sebagai kesialan yang disebabkan Musa, sukses dikreditkan ke diri sendiri, kegagalan disalahkan ke pihak luar. Konkretnya: waspadai pola pikir yang secara otomatis mengkredit diri sendiri atas keberhasilan tapi menyalahkan orang/keadaan lain atas kegagalan, pola bias ini sangat manusiawi dan kuno, tapi mengenalinya secara sadar pada diri sendiri adalah langkah penting menuju evaluasi diri yang lebih jujur dan akurat.
Tafsiran
Ayat ini mengungkap pola pikir yang menyalahartikan sebab-akibat: kebaikan diklaim sebagai hak sendiri, kesulitan dilemparkan sebagai kesialan dari luar (takhayyur/tiirah, praktik lama masyarakat Arab mengaitkan nasib dengan pertanda), padahal keduanya sama-sama ketetapan Allah.
Renungan dan Hikmah
- Kebaikan mereka sebut milik kami; kesusahan mereka lemparkan sebagai kesialan orang lain. Dua keadaan, dua alamat yang berbeda. Allah merekam kedua kalimat itu berdampingan, dan berdampingannya sudah cukup menerangkan pola pikirnya.
- Yang mereka anggap membawa sial Musa dan orang-orang yang bersamanya. Pihak yang justru menawarkan jalan keluar. Ketika keadaan memburuk, yang pertama dicurigai memang sering yang paling baru datang, bukan yang paling lama berkuasa.
- Allah menyebut nasib mereka ada di sisi-Nya, bukan pada orang atau pertanda. Keduanya, yang baik dan yang buruk, berasal dari satu tempat. Membagi asal-usul keberuntungan jadi dua alamat memang jalan tercepat untuk salah membaca keduanya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
kata-kata akar -l-m di ayat ini (mengetahui/ilmu/mengajarkan/lebih-mengetahui) mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras; tanpa orang-kedua. Konvensi lm: C1 aliim diterjemahkan 'berilmu', C2 aalamiin diterjemahkan 'seisi alam', C3 verba/nomina = pemakaian diteruskan terjemahan lain (selaras). ilm=pengetahuan (kata serapan 'ilmu'); a'lam=elatif; allama=kausatif 'mengajar'.