قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Ia berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, serta masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu. Engkau yang paling banyak memberi rahmat di antara para pemberi rahmat.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَqaala rabbi ghfir lii wa-li-akhii wa-adkhilnaa fii rahmatikaia berdoa, ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, serta masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu
- وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَwa-anta arhamu r-raahimiinadan Engkau yang paling banyak memberi rahmat di antara para pemberi rahmat
Terjemahan per kata (11 kata)
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- اغْفِرْghfirampunilah
- لِيliibagiku
- وَلِأَخِيwa-li-akhiidan bagi saudaraku
- وَأَدْخِلْنَاwa-adkhilnaadan masukkanlah kami
- فِيfiike dalam
- رَحْمَتِكَrahmatikarahmat-Mu
- وَأَنْتَwa-antadan Engkau
- أَرْحَمُarhamupaling pengasih
- الرَّاحِمِينَr-raahimiinapara pengasih
Inti bacaan
Begitu memahami situasi penuh (Harun tidak lalai, melainkan terancam), Musa segera beralih dari amarah ke doa permohonan ampun bagi keduanya, pivot cepat dari emosi ke rekonsiliasi setelah fakta menjadi jelas. Konkretnya: kesediaan untuk segera menyesuaikan sikap begitu fakta/konteks yang lebih lengkap terungkap (dari marah ke memahami dan membela) adalah tanda kedewasaan emosional, mempertahankan kemarahan setelah mengetahui konteks yang meringankan adalah keras kepala yang tidak perlu.
Tafsiran
Setelah kemarahannya, Musa segera berdoa untuk dirinya dan Harun: kemarahan yang diikuti permohonan ampun, bukan dendam berkepanjangan.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam Musa meminta ampun untuk dirinya lebih dahulu, baru saudaranya. Urutan itu tertulis. Yang baru saja marah menempatkan diri di depan saat meminta ampun.
- Permintaan keduanya dimasukkan ke dalam rahmat. Bukan diampuni saja. Yang diminta bukan lepas dari hukuman, melainkan masuk ke suatu tempat.
- Allah merekam penutup doanya: Engkau yang paling banyak memberi rahmat. Sifat itu yang dipanggil. Bukan Yang Mahakuasa, melainkan Yang paling menyayangi.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Maha Penyayang dari semua yang penyayang”. terjemahan ini: “serahim-rahim pemberi rahmat”. lema raahimiin yang SAMA ia render “pemberi rahmat” di 23:109 & 23:118 (rumus khayr ar-raahimiin diterjemahkan “sebaik-baik pemberi rahmat”) tapi “penyayang” di 4 ayat rumus arham. Dan “pemberi rahmat” justru PERSIS temuan kita (rahmah = PEMBERIAN) & sejalan dengan verba rahima diterjemahkan “merahmati” (26/28 di DB). **IRONI “Maha”: ia gagal justru di tempat superlatif MEMANG ADA. Di sini Arab punya elatif, superlatif berhak** diterjemahkan. Tapi terjemahan lain menerjemahkan khayr (elatif) diterjemahkan “sebaik-baik” (superlatif Indonesia sungguhan) sementara arham (elatif) diterjemahkan “Maha” (bukan superlatif, cuma penguat kabur). terjemahan lain sendiri membuktikan Indonesia punya alatnya. Idiom se-X-X menuntut ADJEKTIVA (“sebaik-baik”, “sepandai-pandai”), dan “rahmat” itu nomina, jadi buntu. Dasarnya ditemukan di rahim² = a (adjektiva) “bersifat belas kasihan; bersifat penyayang”, contohnya bahkan “Allah yang bersifat rahim”. **TEMUAN: bahasa Indonesia sudah meminjam KEDUA sisi akar r-h-m, KBBI rahim¹(n)=“kandungan” & rahim²(a)=“belas kasihan”, persis seperti Arabnya**. Jangkar kerangka kita (arhaam = rahim = organ pemberi penghidupan) ternyata sudah hidup di lidah Indonesia, dan penuturnya memakainya tanpa sadar keduanya satu akar. diterjemahkan “serahim-rahim” tidak bertabrakan dengan arhaam diterjemahkan “rahim” (kandungan); ia memantulkan kegandaan yang sama. Konteks memisahkan: 22:5 “dalam rahim…” vs ayat ini “serahim-rahim…”. Ini tidak membatalkan rahiim diterjemahkan “pengasih”: berdiri sendiri, “rahim” terbaca kandungan (itulah sebabnya “Sang Rahim” ditolak di basmalah,). Dalam bentuk BERULANG, pembacaan kandungan MUSTAHIL, tak ada “sekandungan-kandungan”; reduplikasi mengunci maknanya. ' Dalam ayat ini, 'arhamu' berlema 'arham' akar r-h-m, pola af'al = ELATIF, superlatif SUNGGUHAN secara tata bahasa; 'raahimiina' berlema 'raahimiin', partisipel aktif jamak, BERTAKRIF. Arham muncul 4× di seluruh Qur'an, SELALU langsung diikuti raahimiin (7:151, 12:64, 12:92, 21:83), rumus baku.