وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang mengerjakan keburukan, kemudian setelah itu bertobat dan beriman, sesungguhnya Tuhanmu, setelah itu, benar-benar pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌwa-lladziina 'amiluu s-sayyi'aati tsumma taabuu min ba'dihaa wa-aamanuu inna rabbaka min ba'dihaa la-ghafuurun rahiimundan orang-orang yang mengerjakan keburukan, kemudian setelah itu bertobat dan beriman, sesungguhnya Tuhanmu, setelah itu, benar-benar pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. عَمِلُوا'amiluumereka beramal
  3. السَّيِّئَاتِs-sayyi'aatikeburukan
  4. ثُمَّtsummakemudian
  5. تَابُواtaabuubertobat
  6. مِنْmindari
  7. بَعْدِهَاba'dihaasesudahnya
  8. وَآمَنُواwa-aamanuudan mereka beriman
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  11. مِنْmindari
  12. بَعْدِهَاba'dihaasesudahnya
  13. لَغَفُورٌla-ghafuurunbenar-benar pengampun
  14. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Segera setelah menyebutkan konsekuensi berat penyembahan berhala, pintu kembali tetap dibuka lebar: 'yang mengerjakan keburukan, kemudian bertobat dan beriman. Tuhanmu pengampun lagi pengasih', bahkan pelanggaran seberat itu tidak menutup kemungkinan pemulihan. Konkretnya: betapa pun berat kesalahan yang pernah dilakukan, jalan kembali tetap terbuka selama ada tobat yang tulus dan perbaikan nyata, prinsip ini berlaku untuk menilai diri sendiri (jangan putus asa karena kesalahan besar) maupun orang lain (jangan menutup pintu permanen bagi yang benar-benar berusaha berubah).

Tafsiran

Pintu tobat tetap terbuka bahkan bagi dosa seberat penyembahan berhala: asalkan disertai iman yang tulus setelahnya, bukan sekadar penyesalan tanpa perubahan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tiga langkah berurutan: mengerjakan keburukan, bertobat, lalu beriman. Tobat diletakkan sebelum iman. Kembali dari yang salah ternyata bagian dari jalan masuk, bukan syarat yang mendahuluinya.
  • Allah mengulang setelah itu dua kali dalam satu ayat. Penekanannya pada urutan waktu. Yang lampau memang lampau, dan yang sesudahnya dihitung tersendiri.
  • Allah menutup dengan menyebut Tuhanmu pengampun lagi pengasih. Bukan dengan syarat tambahan. Kalimat yang dimulai dari keburukan berakhir pada dua sifat yang paling melapangkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Tuhanmu, setelah (tobat) itu, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.