أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

Tidakkah mereka perhatikan kerajaan langit dan bumi, dan segala yang telah Allah ciptakan, dan mungkin ajal mereka telah dekat? Maka dengan tuturan apa setelah ini mereka akan beriman?

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْa-wa-lam yanzhuruu fii malakuuti s-samaawaati wa-l-ardi wa-maa khalaqa llaahu min shay'in wa-an asaa an yakuuna qadi qtaraba ajaluhumtidakkah mereka perhatikan kerajaan langit dan bumi, dan segala yang telah Allah ciptakan, dan mungkin ajal mereka telah dekat
  2. فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَfa-bi-ayyi hadiitsin ba'dahu yu'minuunamaka dengan tuturan apa setelah ini mereka akan beriman
Aplikasi

Ajakan merenungkan kebesaran alam ('kerajaan langit dan bumi') disandingkan langsung dengan kesadaran kefanaan pribadi ('mungkin ajal mereka telah dekat'), dua skala yang sangat berbeda (kosmik dan personal) disatukan untuk mendorong urgensi. Konkretnya: menggabungkan perenungan tentang hal-hal besar (alam semesta, sejarah panjang) dengan kesadaran akan keterbatasan waktu pribadi menciptakan urgensi yang sehat, kebesaran yang direnungkan tanpa kesadaran kefanaan pribadi bisa tetap terasa abstrak dan tidak mendorong tindakan nyata.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang Allah ciptakan dan kemungkinan telah makin dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu, berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai? Have they not considered the dominion of the heavens and the earth, and what things God has created, and that it may be that their term has drawn nigh? And in what narration after this will they believe? terjemahan lain/sebagian penerjemah menerjemahkan *hadiith* di sini sbg 'kisah/berita/pemberitaan/narasi', terjemahan ini mempertahankan transliterasi scr sengaja. Mempertahankan 'hadits' (bukan menerjemahkannya jadi 'kisah/berita') sengaja membuat pembaca berhenti sejenak, sebab kata yg sama, dipakai Qur'an utk DIRINYA SENDIRI, kini lazim dipahami sbg korpus TERPISAH dari Qur'an. ayat semacam ini TIDAK bisa dibaca sbg putusan hukum atas kewenangan riwayat Nabi, ia hanya mencatat bahwa PENAMAAN korpus itu 'hadiith' bukan berasal dari pemakaian Qur'ani sendiri. Kewenangan riwayat itu sendiri di luar cakupan pilihan-kata ini. Ayat ini salah satu dari TIGA rumus identik (7:185/45:6/77:50, lih. dossier) 'maka dengan hadiith mana setelah ini mereka akan beriman?', pernyataan-diri Qur'an ttg kecukupannya sendiri sbg bukti. ayat ini bagian dari 66 ayat 'penyaringan-lawas' (ditulis sblm konvensi korpus-luas mapan, lih. 22 Jul), memakai 'Tuhan' utk *Allaah* (gaya dekat sebagian penerjemah 'heed warning'), BERBEDA dari konvensi 6.170 ayat lainnya di korpus ini yg memakai 'Allah' (nama, bukan diterjemah) 'beriman'. Ini BUKAN kesalahan makna (kedua rendering valid scr leksikal), tapi inkonsistensi GAYA internal yg jujur dicatat di sini, bukan didiamkan. Status penyaringan = dilindungi dari perubahan sepihak; harmonisasi (bila diinginkan) menunggu otorisasi eksplisit Pak FD, sejalan contoh serupa 33:52/50:40 pekerjaan ini 22 Jul.