أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
Tidakkah mereka perhatikan kerajaan langit dan bumi, dan segala yang telah Allah ciptakan, dan mungkin ajal mereka telah dekat? Maka dengan tuturan apa setelah ini mereka akan beriman?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْa-wa-lam yanzhuruu fii malakuuti s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa khalaqa llaahu min syay'in wa-an 'asaa an yakuuna qadi qtaraba ajaluhumtidakkah mereka perhatikan kerajaan langit dan bumi, dan segala yang telah Allah ciptakan, dan mungkin ajal mereka telah dekat
- فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَfa-bi-ayyi hadiitsin ba'dahu yu'minuunamaka dengan tuturan apa setelah ini mereka akan beriman
Terjemahan per kata (22 kata)
- أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
- يَنْظُرُواyanzhuruumereka memperhatikan
- فِيfiipada
- مَلَكُوتِmalakuutikerajaan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- وَمَاwa-maadan apa yang
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- اللَّهُllaahuAllah
- مِنْmindari
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- وَأَنْwa-andan untuk
- عَسَىٰ'asaaboleh jadi
- أَنْanbahwa
- يَكُونَyakuunaada
- قَدِqadisungguh
- اقْتَرَبَqtarabatelah dekat
- أَجَلُهُمْajaluhumajal mereka
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- حَدِيثٍhadiitsinperkataan
- بَعْدَهُba'dahusesudahnya
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
Inti bacaan
Ajakan merenungkan kebesaran alam ('kerajaan langit dan bumi') disandingkan langsung dengan kesadaran kefanaan pribadi ('mungkin ajal mereka telah dekat'), dua skala yang sangat berbeda (kosmik dan personal) disatukan untuk mendorong urgensi. Konkretnya: menggabungkan perenungan tentang hal-hal besar (alam semesta, sejarah panjang) dengan kesadaran akan keterbatasan waktu pribadi menciptakan urgensi yang sehat, kebesaran yang direnungkan tanpa kesadaran kefanaan pribadi bisa tetap terasa abstrak dan tidak mendorong tindakan nyata.
Tafsiran
Penutup pericope: ajakan merenungkan kebesaran ciptaan disandingkan dengan kefanaan waktu, jika bukti sebesar langit-bumi tak cukup, tuturan apa lagi yang bisa meyakinkan?
Renungan dan Hikmah
- Allah bertanya tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi. Yang tersedia sudah sebesar itu. Bukti yang diminta ternyata sedang mengelilingi yang memintanya.
- Allah menyisipkan kemungkinan ajal mereka telah dekat. Di tengah ajakan memperhatikan. Yang mendesak bukan besarnya bukti, melainkan pendeknya waktu memeriksanya.
- Allah menutup dengan bertanya dengan tuturan apa setelah ini mereka akan beriman. Tak ada jawabannya. Kalau yang tertinggi pun ditolak, tak tersisa yang lebih tinggi untuk ditawarkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain/sebagian penerjemah menerjemahkan hadiith di sini sbg 'kisah/berita/pemberitaan/narasi', terjemahan ini mempertahankan transliterasi 'hadits' scr sengaja. Mempertahankan 'hadits' (bukan menerjemahkannya jadi 'kisah/berita') sengaja membuat pembaca berhenti sejenak, sebab kata yg sama, dipakai Qur'an utk DIRINYA SENDIRI, kini lazim dipahami sbg korpus TERPISAH dari Qur'an. ayat semacam ini TIDAK bisa dibaca sbg putusan hukum atas kewenangan riwayat Nabi, ia hanya mencatat bahwa PENAMAAN korpus itu 'hadiith' bukan berasal dari pemakaian Qur'ani sendiri. Kewenangan riwayat itu sendiri di luar cakupan pilihan-kata ini. Ayat ini salah satu dari TIGA rumus identik (7:185/45:6/77:50, lih. dossier) 'maka dengan hadiith mana setelah ini mereka akan beriman?', pernyataan-diri Qur'an ttg kecukupannya sendiri sbg bukti. ayat ini bagian dari 66 ayat 'penyaringan-lawas' (ditulis sblm konvensi korpus-luas mapan), memakai 'Tuhan' utk Allaah (gaya dekat sebagian penerjemah 'heed warning'), BERBEDA dari konvensi 6.170 ayat lainnya di korpus ini yg memakai 'Allah' (nama, bukan diterjemah) 'beriman'. Ini BUKAN kesalahan makna (kedua terjemahan valid scr leksikal), tapi inkonsistensi GAYA internal yg jujur dicatat di sini, bukan didiamkan.