قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah, “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُqul laa amliku li-nafsii naf'an wa-laa darran illaa maa shaa'a llaahukatakanlah, aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki
- وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُwa-law kuntu a'lamu l-ghayba la-staktsartu mina l-khayri wa-maa massaniya s-suu'useandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan bahaya tidak akan menimpaku
- إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَin anaa illaa nadziirun wa-bashiirun li-qawmin yu'minuunaaku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman
Catatan pilihan kata (ringkas)
C3 passthrough: kata-kata akar -l-m di ayat ini (mengetahui/ilmu/mengajarkan/lebih-mengetahui) mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras; orang-kedua ayat ini murni 2MS/2FS, '-mu/engkau' terjemahan lain SAH; lem catatan kaki dibuang bila ada. Konvensi lm: C1 aliim diterjemahkan 'berilmu', C2 aalamiin diterjemahkan 'seisi alam', C3 verba/nomina = passthrough terjemahan lain (selaras). Lih.. sebagian penerjemah: 'Say thou: “I have no power to do myself benefit or harm save that God should will.
Aplikasi
Pengakuan luar biasa dari Nabi sendiri: 'aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku sendiri, kecuali apa yang Allah kehendaki', bahkan untuk dirinya sendiri, bukan hanya orang lain, agensinya diakui terbatas. Konkretnya: kerendahan hati sejati mencakup pengakuan terbatasnya kendali bahkan atas nasib diri sendiri (bukan hanya atas orang lain), mengakui keterbatasan personal ini secara terbuka (bukan mengklaim kendali penuh atas hidup sendiri) adalah kejujuran yang lebih matang daripada citra diri yang berlebihan.