فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Kemudian, setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah dalam apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka. Maka Tinggilah Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَاfa-lammaa aataahumaa shaalihan ja'alaa lahu syurakaa'a fiimaa aataahumaakemudian setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah dalam apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka
- فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَfa-ta'aalaa llaahu 'ammaa yusyrikuunamaka Tinggilah Allah dari apa yang mereka persekutukan
Terjemahan per kata (12 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- آتَاهُمَاaataahumaamemberi keduanya
- صَالِحًاshaalihankebajikan
- جَعَلَاja'alaakeduanya menjadikan
- لَهُlahubaginya
- شُرَكَاءَsyurakaa'asekutu-sekutu
- فِيمَاfiimaapada apa yang
- آتَاهُمَاaataahumaamemberi keduanya
- فَتَعَالَىfa-ta'aalaamaka Mahatinggi
- اللَّهُllaahuAllah
- عَمَّا'ammaadari apa yang
- يُشْرِكُونَyusyrikuunamenyekutukan
Inti bacaan
Bahkan setelah menerima karunia besar (anak yang saleh), sebagian orang tua justru 'menjadikan sekutu bagi Allah' dalam mengapresiasi karunia itu, ketidaktepatan mengarahkan syukur ke sumber yang salah, meski karunianya nyata dan baik. Konkretnya: menerima sesuatu yang baik dalam hidup (anak, kesehatan, keberhasilan) perlu disertai kejernihan tentang ke mana sebenarnya syukur diarahkan, mengaburkan sumber sebenarnya dari sebuah karunia (mengkreditkannya ke keberuntungan, jimat, atau hal lain) adalah bentuk ketidaktepatan yang tetap terjadi bahkan atas karunia yang genuinely baik.
Tafsiran
Ironi tajam: doa tulus memohon anak saleh justru diikuti kemusyrikan dalam mengaitkan anugerah itu dengan sesembahan lain, peringatan bahwa nikmat besar sekalipun bisa disalahartikan jika tauhid tak dijaga.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kemusyrikan itu muncul sesudah anak yang saleh diberikan. Bukan sebelumnya. Ujian yang datang lewat terkabulnya sebuah doa jarang dikenali sebagai ujian, sebab bentuknya persis seperti jawaban.
- Yang disebut mereka menjadikan sekutu dalam apa yang telah dianugerahkan kepada mereka. Bukan dalam penyembahan secara umum. Yang dibagi justru rasa syukur atas pemberian itu, dan pembagian itu terjadi tepat di tempat pemberinya paling jelas.
- Kalimat penutupnya bukan hukuman, melainkan penyucian: Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Yang dijaga kedudukan-Nya. Ayat itu berhenti tanpa menyebut akibat apa pun bagi mereka, dan diamnya sendiri terasa sebagai penilaian.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) pemakaian diteruskan; per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan belum diputuskan. keluarga memuat 'leluhur terbesar, atau tertua' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif.