إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata di sisi Allah adalah yang tuli dan bisu, yang tidak menggunakan akal.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَinna sharra d-dawaabbi inda llaahi s-summu l-bukmu lladziina laa ya'qiluunasesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata di sisi Allah adalah yang tuli dan bisu, yang tidak menggunakan akal
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar sh-r-r, d-b-b, '-n-d, a-l-h, s-m-m, b-k-m, '-q-l): dawaabb diterjemahkan 'makhluk melata' (akar d-b-b); summ/bukm diterjemahkan 'tuli/bisu'; laa ya'qiluun diterjemahkan 'tidak menggunakan akal' (akar '-q-l putaran EQL). gloss '(yang bergerak di atas bumi)/(tidak mau mendengar…)' dibuang.
Aplikasi
Kategori 'seburuk-buruk makhluk' di sini bukan soal kemampuan indrawi fisik, melainkan kegagalan 'menggunakan akal', kapasitas berpikir yang dimiliki tapi tidak dipakai. Konkretnya: memiliki kecerdasan atau kapasitas berpikir kritis tidak berguna jika tidak benar-benar digunakan secara aktif, kegagalan paling serius bukan kekurangan kemampuan, melainkan kemalasan atau keengganan memakai kemampuan yang sudah dimiliki untuk benar-benar berpikir jernih.