وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di antara mereka. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampunan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْwa-maa kaana llaahu li-yu'adzdzibahum wa-anta fiihimdan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di antara mereka
  2. وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَwa-maa kaana llaahu mu'adzdzibahum wa-hum yastaghfiruunadan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampunan
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain di ayat ini SUDAH selaras dgn konvensi, teks terjemahan ini identik (tanpa perubahan): “…ka selama mereka memohon ampunan.…”. g-f-r: rumus ghafuurun rahiim 58 ayat konsisten (takrif diterjemahkan 'Sang': 39:53, 46:8); BUKAN tautologi, menutupi(gfr) + memberi(rhm) = dua tindakan. sebagian penerjemah: 'But God would not punish them when thou art among them; and God would not punish them as they sought forgiveness.1' Corpus ayat ini: «yasotagofiru, tanpa-al». istaghfara diterjemahkan 'memohon ampun'.

Aplikasi

Dua faktor pelindung disebutkan eksplisit: kehadiran figur yang baik di tengah komunitas, dan praktik aktif memohon ampunan, keduanya menunda konsekuensi yang seharusnya sudah pantas diterima. Konkretnya: kehadiran figur yang menjaga integritas dalam sebuah komunitas dan praktik introspeksi/koreksi diri yang berkelanjutan (bukan sekadar formalitas) berfungsi sebagai faktor pelindung yang nyata, menjaga kedua hal ini secara aktif (bukan menganggapnya otomatis ada) adalah tanggung jawab berkelanjutan, bukan jaminan permanen tanpa usaha.