كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ ۙ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ ۚ وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَ
Keadaan mereka serupa dengan keadaan pengikut Firaun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan tanda-tanda Tuhan mereka, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka, dan Kami tenggelamkan pengikut Firaun. Dan semuanya adalah orang-orang zalim.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَka-da'bi aali fir'awnakeadaan mereka serupa dengan keadaan pengikut Firaun
- وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْwa-lladziina min qablihimdan orang-orang sebelum mereka
- كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَkadzdzabuu bi-aayaati rabbihim fa-ahlaknaahum bi-dzunuubihim wa-aghraqnaa aala fir'awnamereka mendustakan tanda-tanda Tuhan mereka, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka, dan Kami tenggelamkan pengikut Firaun
- وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَwa-kullun kaanuu zhaalimiinadan semuanya adalah orang-orang zalim
Catatan pilihan kata (ringkas)
Akar akar a-y (aayah), 353 ayat / 382 kemunculan, SATU lema, tak ada dasar morfologis utk memecahnya. alaamah); 'verse of the Kur-án' cuma sense turunan KE-8, di-hedge Lane sendiri: ''. Bukti internal: satu kata menampung manusia (Isa 19:21), hewan (unta 7:73), benda (tongkat 7:106), bahasa & warna kulit (30:22), kisah (26:8), monumen (26:128), DAN satuan teks, hanya 'tanda' yang menampung semuanya. Keputusan Pak FD 16 Jul: 'tanda' TANPA pengecualian (diuji: 'tanda' tak mustahil bahkan di 2:252/10:1/24:1/41:3). tambahan terjemahan lain '(kebesaran)/(kekuasaan)' dibuang, TIDAK ADA di teks Arab. Lih. sebagian penerjemah: 'Like the case of the house of Pharaoh and those before them: they denied the proofs of their Lord, so We destroyed them for their transgressions and drowned the house of Pharaoh; and all were wrongdoers.'
Aplikasi
Pengulangan pola yang sama (Fir'aun dan pendahulunya) menegaskan kembali bahwa mekanisme sebab-akibat penolakan-konsekuensi bukan kejadian tunggal, melainkan pola berulang yang konsisten lintas zaman. Konkretnya: pengulangan sebuah pola sejarah di berbagai konteks berbeda menguatkan validitasnya sebagai prinsip yang bisa dipercaya, bukan sekadar kebetulan satu kali, pola yang terverifikasi berulang layak dijadikan pedoman serius dalam menilai situasi serupa di masa kini.