مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Tidaklah sepatutnya bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah digdaya lagi penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِmaa kaana li-nabiyyin an yakuuna lahu asraa hattaa yutskhina fii l-arditidaklah sepatutnya bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi
- تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَturiiduuna arada d-dunyaa wa-llaahu yuriidu l-aakhiratakalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki akhirat
- وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌwa-llaahu aziizun hakiimundan Allah digdaya lagi penuh hikmah
Catatan pilihan kata (ringkas)
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain: sebutan perkasa diterjemahkan 'digdaya' (indefinit corpus, tanpa 'Maha') + (kamu/-mu jamak diterjemahkan kalian per tag 2MP); pasangan formula (hakiim/'aliim/hamiid dst.) belum dibedah, rendering terjemahan lain-nya dipertahankan sementara. Konvensi zz: al-'Aziiz TAKRIF diterjemahkan 'Sang Digdaya' (KBBI: 'tidak terkalahkan'), indefinit diterjemahkan 'digdaya' (tanpa Maha), izzah diterjemahkan 'kedigdayaan' (satu kata, uji ayat argumen 35:10, 4:139, 10:65, 63:8), gelar Mesir diterjemahkan 'al-'Aziiz'. Pembeda in-formula: qawiyyun aziiz 7× (≠'kuat'), aziizin muqtadir 54:42 (≠'kuasa'), al-'aziiz al-jabbaar 59:23. Cabang alaa: 9:128 'berat terasa', 14:20/35:17 'tidak sulit'. Antonim internal: izz⟷dhull (3:26, 63:8, 27:34). Lih.. sebagian penerjemah: 'It is not for a prophet to have captives until he has battled strenuously1 in the land. Glos ilahi (Zajjaaj, 2032): al-'Aziiz = 'He who resists, or withstands, so that NOTHING OVERCOMES HIM'; jg 'The Incomparable'. Gelar raja Mesir (2032): 'a surname; like Qaysar'.
Aplikasi
Teguran halus terhadap prioritas yang keliru: 'kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (yang lebih baik untuk) akhirat', motif keuntungan jangka pendek mengaburkan pertimbangan yang lebih substansial. Konkretnya: keputusan yang didorong keuntungan finansial jangka pendek berisiko mengabaikan pertimbangan yang lebih substansial dan berjangka panjang, memeriksa apakah sebuah keputusan penting didorong oleh keuntungan cepat semata atau pertimbangan nilai yang lebih dalam adalah evaluasi diri yang berguna.