مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Tidaklah sepatutnya bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah digdaya lagi penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِmaa kaana li-nabiyyin an yakuuna lahu asraa hattaa yutskhina fii l-ardhitidaklah sepatutnya bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi
- تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَturiiduuna 'aradha d-dunyaa wa-llaahu yuriidu l-aakhiratakalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki akhirat
- وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌwa-llaahu 'aziizun hakiimundan Allah digdaya lagi penuh hikmah
Terjemahan per kata (20 kata)
- مَاmaatidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لِنَبِيٍّli-nabiyyinbagi seorang nabi
- أَنْanuntuk
- يَكُونَyakuunaada
- لَهُlahubaginya
- أَسْرَىٰasraatawanan
- حَتَّىٰhattaasampai
- يُثْخِنَyutskhinamelumpuhkan
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- تُرِيدُونَturiiduunakalian kehendaki
- عَرَضَ'aradhakesenangan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
- الْآخِرَةَl-aakhirataakhirat
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa
- حَكِيمٌhakiimunbijaksana
Inti bacaan
Teguran halus terhadap prioritas yang keliru: 'kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (yang lebih baik untuk) akhirat', motif keuntungan jangka pendek mengaburkan pertimbangan yang lebih substansial. Konkretnya: keputusan yang didorong keuntungan finansial jangka pendek berisiko mengabaikan pertimbangan yang lebih substansial dan berjangka panjang, memeriksa apakah sebuah keputusan penting didorong oleh keuntungan cepat semata atau pertimbangan nilai yang lebih dalam adalah evaluasi diri yang berguna.
Tafsiran
Prinsip generik tentang kenabian ini menegaskan bahwa motif duniawi (tawanan sbg sumber tebusan) berlawanan dengan orientasi akhirat yang dikehendaki Allah: sebuah pengingat tentang urutan prioritas, bukan larangan mutlak.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengoreksi keputusan yang diambil justru sesudah kemenangan. Bukan sesudah kekalahan. Yang perlu diperiksa ulang ternyata bukan hanya saat gagal, melainkan juga saat semua terasa berjalan baik.
- Kalimatnya menyandingkan dua kehendak: kalian menghendaki dunia, Allah menghendaki akhirat. Bersebelahan, tanpa penjelasan tambahan. Selisih antara yang dikejar manusia dan yang disiapkan untuknya cukup terlihat dari susunan kalimatnya saja.
- Sesudah teguran itu, Allah menutup dengan menyebut diri-Nya digdaya lagi penuh hikmah. Bukan dengan ancaman. Teguran yang berakhir pada sifat Yang menegur meninggalkan pintu, bukan tembok.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
pasangan formula (hakiim/'aliim/hamiid dst.) belum dibedah, terjemahan terjemahan lain-nya dipertahankan sementara. Konvensi zz: al-'Aziiz TAKRIF diterjemahkan 'Sang Digdaya' (KBBI: 'tidak terkalahkan'), indefinit diterjemahkan 'digdaya' (tanpa Maha), izzah diterjemahkan 'kedigdayaan' (satu kata, uji ayat argumen 35:10, 4:139, 10:65, 63:8), gelar Mesir diterjemahkan 'al-'Aziiz'. Pembeda in-formula: qawiyyun aziiz 7× (≠'kuat'), aziizin muqtadir 54:42 (≠'kuasa'), al-'aziiz al-jabbaar 59:23. Cabang alaa: 9:128 'berat terasa', 14:20/35:17 'tidak sulit'. Antonim internal: izz⟷dhull (3:26, 63:8, 27:34). jg 'The Incomparable'. Gelar raja Mesir (2032): 'a surname; like Qaysar'.