فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Maka makanlah sebagian dari apa yang kalian peroleh sebagai rampasan, yang halal lagi baik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًاfa-kuluu mimmaa ghanimtum halaalan thayyibanmaka makanlah sebagian dari apa yang kalian peroleh sebagai rampasan, yang halal lagi baik
- وَاتَّقُوا اللَّهَwa-ttaquu llaahadan bertakwalah kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌinna llaaha ghafuurun rahiimunsesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (11 kata)
- فَكُلُواfa-kuluumaka makanlah kalian
- مِمَّاmimmaadari apa yang
- غَنِمْتُمْghanimtumkalian peroleh
- حَلَالًاhalaalanyang halal
- طَيِّبًاthayyibanyang baik
- وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Izin menikmati hasil yang sah ('makanlah. yang halal lagi baik') dipasangkan langsung dengan seruan tetap menjaga kesadaran ('bertakwalah kepada Allah'), menikmati sesuatu yang legitim tidak mengharuskan meninggalkan kewaspadaan diri. Konkretnya: menikmati hasil kerja atau keberuntungan yang diperoleh secara sah tidak bertentangan dengan tetap menjaga kesadaran dan kerendahan hati, dua hal ini seharusnya berjalan bersamaan, bukan salah satu mengorbankan yang lain.
Tafsiran
Izin memakan rampasan yang halal menjadi penutup pembahasan panjang tentang harta rampasan perang, sekaligus pengingat bahwa kelonggaran ini tetap disertai syarat ketakwaan, bukan kebebasan tanpa batas.
Renungan dan Hikmah
- Allah menghalalkan rampasan itu persis sesudah menegur keputusan tentangnya. Dua ayat berdampingan. Teguran tidak berlanjut menjadi pencabutan.
- Dua kata dipakai: halal lagi baik. Bukan satu. Yang dibolehkan disebut juga bermutu, sehingga tak terbaca sebagai kelonggaran terpaksa.
- Allah menutup dengan perintah bertakwa dan menyebut Dia pengampun lagi pengasih. Sesudah menghalalkan. Yang menerima kelonggaran diingatkan pada batas, bukan dilepas begitu saja.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.